Laman

Sabtu, 27 Oktober 2012

Nafsu Janda Muda



Sudah dua tahun Tini menjanda. Suaminya sedang berada dalam penjara karena dituduh mengedarkan narkoba. Daripada memikirkan suaminya yang akan dihukum gantung lebih baik Tini meminta cerai dari suaminya. Tak ada gunanya menunggu suaminya yang akan mati.

Di  usia 25 tahun Tini masih memerlukan belaian seorang lelaki. Nafsunya sedang berada dipuncaknya, hasrat dan gairahnya selalu minta untuk  dipenuhi. Dengan wajahnya yang cantik dan kehidupannya yang mewah hasil peninggalan harta suaminya maka banyak lelaki muda maupun tua yang coba mendekati Tini. Bahkan ada lelaki tua yang bergelar Datukpun coba mendekatinya. Semuanya ditolak secara halus oleh Tini.
Sebagai seorang model penampilan Tini memang aduhai. Dengan wajah yang cantik dan bentuk tubuh tinggi semampai maka lengkaplah Tini sebagai seorang wanita idaman. Senyumnya bisa menentramkan lelaki yang melihatnya.

Kesepian dan keinginan akan belaian lelaki sering melanda Tini. Tini sering menonton vcd porno untuk menuntaskam hasratnya, sambil menonton tangan Tini akan mengusap vaginanya hingga mendapatkan  kepuasan.
Pagi itu gairahnya tiba-tiba bangkit, hanya karena melihat kucing kesayangannya kawin dengan kucing jantan tetangganya. Kucingnya yang sedang mengeong dan berguling-guling di lantai diterkam oleh kucing jantan. Kucingnya mengerang kenikmatan pada saat penis kucing jantan  keluar masuk dengan cepat ke vagina kucingnya.
Tini meraba-raba vaginanya dan kelentitnya diusap-usap lembut dengan jari-jarinya. Jeritan-jeritan kucing kawin semakin membuat nafsu dan gairahnya meluap. Pada saat seperti ini Tini sangat memerlukan seorang lelaki untuk melampiaskan hasratnya.

Ketika sedang  asyik melihat kucingnya yang berguling-guling manja, tiba-tiba bel rumahnya berbunyi. Tini menengok ke pintu pagar dan melihat sebuah pick-up bersama dua orang lelaki, dimana di pinggirnya tertulis sebuah merk AC.  Tini baru menyadari kalo dia menghubungi sebuah perusahaan AC untuk membetulkan AC di ruang tamunya yang sudah dua hari tidak berfungsi.
Tini memencet remote kontrol dan pintu pagar otomatisnyapun terbuka. Pick-up warna hitam itupun  masuk ke halaman rumahnya. Pintunyapun dibuka dan keluarlah seorang lelaki india  dan seorang lelaki cina.
Lelaki india tersebut mengambil kotak peralatan di bagian belakang kendaraan dan diikuti oleh lelaki cina yang agak tua. Tini membuka pintu  dan mempersilakan kedua lelaki tersebut masuk.

”Mana AC yang rusak?” tanya lelaki cina yang kemudian dikenali sebagai Ah Tong.
”Itu,” jawab Tini sambil menunjuk AC jenis split.
”Raju, kamu lihat dulu apa yang rusak,” kata Ah Tong kepada lelaki india.
Raju mengikuti perintah Ah Tong atasannya. Dengan menggunakan tangga dia memanjat dan memeriksa AC dengan merk York itu. Bagian penutupnya dibuka  dan ditariknya pelapis udara AC tersebut.
”AC  ini perlu di servis. Banyak sekali debunya.” Teriak Raju .
”Berapa lama AC ini tidak diservis .” Tanya Ah Tong kepada Tini.
”Mungkin satu tahun. Sejak dibeli memang tidak  pernah diservis.” Jawab Tini.
”Pantas saja.Servis AC harus rutin enam bulan sekali.” Kata  Ah Tong.
”Perbaikilah seperlunya. Yang penting bisa digunakan.”
”Raju, kamu bawa turun AC itu dan cuci di luar sana,” perintah Ah Tong sambil menunjuk ke halaman.
Tini dan Ah Tong duduk  di ruang tamu sambil memperhatikan Raju. Tiba-tiba Tini teringat dvd playernya yang tidak  ada  gambarnya yang ada di kamarnya.
”Ah Tong, kamu lihat sekalian dvd playerku yang ada di atas. Sudah dua hari rusak.”

Ah Tong dan Tini naik ke lantai atas bangunan tersebut. Ah Tong langsung menuju ke meja yang ada di sudut kamar tempat tv dan dvd player tersebut di tempatkan. Sambil bersila di atas karpet tebal Ah Tong memeriksa dvd player yang dimaksudkan. Tini duduk di sampingnya sambil memperhatikan Ah Tong yang sedang membuka dvd player bermerk Sony tersebut.

Di bagian belakang rumah kucing Tini masih berolah asmara. Suara-suara kucing betina yang sedang mengeong jelas di telinga Tini. Suara jeritan kucing betina yang sedang ditunggangi oleh kucing jantan kembali mengganggu pikiran Tini. Bayangan penis sang kucing yangsedang  keluar masuk vagina kucing betina menimbulkan resah di pikiran Tini. Tanpa sadar Tini meraba kemaluannya.
Tini memperhatikan Ah Tong yang memakai celana boxer. Bagian selangkangan lelaki tua itu  diperhatikannya. Tini mulai membayangkan seberapa besar penis kepunyaan Ah Tong. Tini sudah tak peduli  lagi pada Ah Tong yang sudah tua itu. Yang dipikirkannya penis yang keras dan mampu menyelam dalam lubang kemaluannya yang terasa gatal-gatal.

Ah Tong, kamu bisa servis barang aku apa tidak. Sudah dua tahun tidak di servis.”
“Barang apa itu?”
“Ini.” Tini menunjuk selakangannya sambil tersenyum.
“Kamu jangan main-main.” Kata orang tua itu sambil membelalakkan matanya ke arah Tini yang senyum-senyum menggoda.
“Aku  tak main-main. Bisa kan kamu servis.” Kata Tini manja.

Jari-jari Tini mulai melepaskan satu persatu kancing bajunya. Blus  longgar itupun dilepaskan dari tubuhnya. Ah Tong terpana melihat tubuh bersih Tini yang sedang telanjang di hadapannya, tubuh tersebut seperti boneka hal ini membuat lelaki cina separuh baya itu kaku.

Jantungnya berdenyut kencang dan penisnya mulai mengeras. Ah Tong hanya menelan liur melihat wanita muda di hadapannya, janda berusia 25 tahun itu sungguh mengiurkan. Berkulit putih halus dan tinggi semampai, Tini kelihatan sangat sempurna. Buah dada yang sempurna bentuknya, pinggang yang ramping dan memek yang dihiasi bulu-bulu halus teramat indah. Ah Tong terpaku dengan mulut ternganga melihat pemandangan indah di hadapannya.

Tini yang masih duduk di kasur menarik tangan Ah Tong. Ah Tong terduduk di sisi Tini. Semerbak bau harum badan dan rambut Tini menerpa ke hidungnya. Meskipun sudah tua tetapi bila berdekatan dengan wanita perasaan gairahnya bangkit juga. Naluri lelakinya merasa tertantang bila berhadapan dengan wanita muda untuk  melakukan aksinya.

”Ah Tong, kamu tak suka aku ya,” rayu Tini.
”Kamu jangan main-main, Tini. Walau pun aku sudah tua tapi barang gua masih OK,” jawab Ah Tong .
Orang  tua memperhatikan badan Tini yang masih bagus itu. Buah dadanya yang ranum dan kenyal membukit. Putingnya mulai mengeras. Mata Ah Tong terbeliak melihat hal tersebut. Dengan lembut Tini menarik tangan Ah Tong dan diletakkan di atas buah dadanya. Jantung Ah Tong berdenyut kencang dan buah dada mengkal tersebut di usik dan diremas perlahan-lahan. Lembut, kenyal, licin dan seribu satu perasaan menjalar ke otak Ah Tong, cina tua yang sudah lama ditinggal mati isterinya.

Ah Tong menarik nafas panjang dan menelan air liurnya.
Jantung Ah Tong berdetak makin  kencang. Sementara tangannya menekan dan meremas gunung kembar Tini, matanya tak  pernah lepas dari selakangan Tini. Paham dengan maksud Ah Tong, Tini merenggangkan kedua pahanya menampakkan kemaluannya yang senantiasa dijaganya. Bulu-bulu di bagian pinggir dicukur licin hanya di bagian tengah vaginanya di tinggal sedikit. Bulu-bulu hitam pendek itu sungguh cantik pada pandangan Ah Tong. Mata Ah Tong terbeliak melihat pemandangan yang telah lama tidak dilihatnya. Perasaan geramnya semakin bertambah.

Tini makin menggoda Ah Tong. Pahanya dikangkang lebih lebar memperlihatkankan vaginanya yang merekah. Bibir kemaluan yang lembut dan merah benar-benar membuat  Ah Tong terkesima. Ah Tong terus menerkam bukit tembem Tini. Sudah lama dia tidak melihat bukit perempuan. Bukit terbelah merah di hadapannya benar-benar memukau. Dia melutut sambil menghalau bulu-bulu halus di vagina yang membukit.
Hidungnya kemudian bergerak ke bawah ke arah yang bukit  lembabyang merekah. Bau bukit Tini dihirupnya dalam-dalam. Aroma khas kemaluan wanita dihirupnya, nafasnya ditarik dalam-dalam. Pertama kali dalam hidupnya dia mencium bukit perempuan melayu. Sungguh berbeda bila dibanding bau bukit cina kepunyaan isterinya dulu.

Puas menghirup aroma vagina, Ah Tong mula menjilat bibir bukit Tini yang merah dan lembut, sementara Tini mengangkang lebih lebar agar memudahkan orang tua tersebut dalam bertindak.
Tini mengerang halus… aahh… ahhhhh.. issshhh… Tini membiarkan lidah kasar Ah Tong menerobos lubang keramatnya.

Ah Tong mengigit lembut kelentitnya. Ah Tong amat menyukai aroma dan hangatnya bukit Tini. Sudah lama Ah Tong tak pernah tidur dengan perempuan sejak  kematian istrinya lima tahun yang lalu. Dia tidak pernah bercinta dengan perempuan melayu sebelumnya. Kawan-kawannya bercerita bukit perempuan melayu hangat dan peret. Rezeki depan mata takkan dia lepaskan begitu saja.

Penisnya yang telah lama bertapa seakan menemukan pasangannya. Penis Ah Tong meronta-ronta ingin keluar dari seluar. Secara spontan Ah Tong melorotkan celananya. Batangnya yang keras tegak menjulang dengan kulup yang masih menutup kepalanya. Tini terpegun melihat Ah Tong yang berumur separuh baya tapi masih gagah. Penisnya biasa-biasa saja, tidak lebih besar  dari kepunyaan suaminya.

Tini memegang dan mengurut penis Ah Tong. Kulit kulupnya bergerak dan menampakkan kepalanya yang licin sudah memerah. Pertama kali Tini memegang kemaluan orang lain selain suaminya, dan pertama kali juga dia melihat dan memegang penis lelaki  yang tidak disunat, penis dengan kulit kulupnya masih utuh.
Begini rupanya penis yang tidak disunat, pikir Tini.

“Pak, kenapa kamu tidak disunat.. kenapa kamu tidak memotong kulit kulup ini?” tanya Tini sambil mempermainkan kulupnya.
Diurut dan dikocok batang tua kepunyaan orang cina tersebut. Batang coklat muda berkepala merah tersebut sebentar terbuka dan sebentar tertutup. Kelihatan lucu bagi Tini.

“Mana ada orang cina sunat. Kamu tidak suka kalau aku tidak sunat ya?”
Tini mendekatkan  hidungnya ke kepala penis Ah Tong yang  membulat. Diciumnya penis Ah Tong, memang ada bau yang menyengat dari situ.  Berbeda dengan bau penis mantan suaminya. Setiap kali mencium bau penis Ah Tong, bukitnya serasa berkedut. Sudah lama Tini ingin merasakan batang cina.
“Sekali kamu merasakan kulup yang tak dipotong, nanti kamu pasti ketagihan ”.
”Kenapa? Penis yang tidak potong apa ada obatnya sampai bikin ketagihan?”
”Obat itu untuk mulut atas. Penis untuk mulut bawah. Sekali kamu merasakannya nanti tiap hari pasti mau.”
”Mulut atas tak boleh menghisap penis bapak?”
”Boleh, boleh.. tapi istriku tak pernah mau menghisap penisku”.
”Mari sini, dekat sikit. Aku mau menghisap penismu. Nanti kamu bakal ketagihan, pak”.

Ah Tong amat tesanjung bila Tini mau menghisap penisnya, belum pernah penisnya dihisap orang. Sekarang wanita melayu yang cantik dengan bibir merah ingin menghisap batangnya. Tak sabar dia rasanya batang penisnya yang keras diacung-acungkannya ke muka Tini. Kepalanya yang merah semakin berkilat karena Ah Tong sudah sangat terangsang. Sengaja kulit kulupnya ditarik ke belakang supaya kepalanya yang licin dapat masuk dalam mulut Tini yang mungil.

Ah Tong berdiri di tepi kasur, Tini masih duduk dengan telanjang bulat diatas tepat tidur tersebut. Ah Tong bergerak menghampiri Tini, batangnya sekarang berada di hadapan Tini. Tini memegang lembut mengocok batang tua yang tegak menantang tersebut. Kepalanya yang merah sebentar ada sebentar hilang mengikut irama tangan Tini. Ah Tong sudah tak sabar lagi ingin merasakan bibir merah yang basah tersebut mengemut batangnya.

Orang tua tersebut bangun, batang kulupnya dimajukan ke muka Tini. Tini memegang lembut batang tua tersebut. Kepalanya yang merah yang telah keluar dari sarungnya dijilat dan dikulum, Ah Tong dapat merasakan kehangatan mulut Tini. Beberapa kali dikemut dengan bibir mungil dan mulut yang basah hangat, Ah Tong merasa muncrat.

”Cukup, cukup… aku tak mau munrat dalam mulut. Aku mau muncrat didalam memekmu,” pinta Ah Tong.
“Kalau kamu mau merasakan  memekku kamu harus memberikan free servis untuk AC.”
“Tidak bisa gratis, gimana saya bayar gaji Raju.”
“Kalau tidak bisa batalkan saja acara ngentotnya.”
“Tidak bisa, aku sudah tak tahan ini. OKlah servis AC gratis.”
“OK, Sekarang kamu boleh coba lubang memekku yang sempit ini.”

Tini bergerak ke tengah kasur, pahanya dikangkang. Ah Tong bergerak merapat ke selakangan Tini. Kepalanya yang merah dan masih tertutup kulup menuju ke memek Tini yang telah basah dan banjir dengan air liur Ah Tong dan air mani Tini. Tini tak sabar ingin mencoba batang berkulup. Kata orang kulit kulup yang berlipat-lipat itu terasa lebih nikmat bila bergesek dengan dinding memek, kepalanya yang  merah mulai terbenam menyelam ke telaga nikmat. memek Tini sungguh rapat dan sempit, Ah Tong dapat merasakan kulit kulupnya tertarik ke belakang pada saat dia menekan batangnya.

Bila ditarik kulit kulup kembali menutup kepala penisrnya. Batang tua itu juga susah masuknya, sampai membengkok rasanya bila Ah Tong menekan kuat. Kepalanya yang sensitif itu terasa sungguh geli, Sungguh hangat lubang Tini.

“Arghhh nikmat sekali memekmu, kamu pakai apa Tini, kamu minum jamu ya?”, Ah Tong coba menekan  lagi supaya penisnya masuk lebih dalam.

Batang tua itu agak sulit menembus lubang Tini yang masih muda itu. Sudah lama Ah Tong tak ngentot, batang tua itu hanya digunakan untuk kencing saja. Sudah lima tahun batang itu bertapa, kalau besi mungkin sudah berkarat. Tini terlentang menanti tindakan lanjutan Ah Tong. Kasar sekali orang ini, tangan Ah Tong mulai mencari buah dada Tini.

Dia memegang dan meremas dengan kasar. Ah Tong mulai memaju mundurkan batangnya.
Sekali, dua kali, tiga kali… Tini mengemut kuat… Buah dadanya bergoyang-goyang seiring dengan goyangan Ah Tong. Enak juga batang cina tua ini, Tini senang sekali dapat merasakan batang yang tak bersunat. Terbeliak matanya bila Ah Tong menekan hingga ke pangkalnya.

Raju yang telah selesai memperbaiki AC sudah lama menunggu Ah  Tong. Raju agak heran kenapa Ah Tong tak turun-turun. Raju menyusulnya ke lantai atas. Dari kamar yang tak tertutup pintunya Raju mendengar suara orang mengerang. Melalui pintu yang tidak ditutup Raju terpaku melihat Ah Tong sedang berada di celah paha Tini. Jelas terlihat batang penis Ah Tong yang berlumuran lendir keluar masuk dalam lubang memek Tini yang juga basah berlendir. Ah Tong mendengus, Tini mengerang. Dua-duanya sedang keenakan.

Lelaki cina tua peruut buncit itu mendekap erat tubuh perempuan melayu cantik molek berkulit putih gebu.
“Ahhhh Tini, enak sekali… “ Ah Tong tak tahan lagi.. kepala penisnya terasa sangat geli, batangnya bagai dipijit-pijit oleh memek Tini

Tini yang sudah basah, dia menyorong lagi, sekali, dua kali, dan batang tua itu tak dapat bertahan lama dikepit oleh lubang muda.
Creettt.. creettt.. air maninya ditembak ke dalam memek Tini.
Air mani yang sudah lama ditahan sangatlah kenta,. Tini dapat merasakan kehangatannya. Orang tua itu kehabisan nafa,. dia jatuh di sebelah Tini.
“Kenapa cepat keluarnya. Aku belum puas.”

”Ah aku sudah tak tahan, sudah lama tak main looo. Memekmu sangat peret sekali. Aku jadi tak tahan… geli.”
Ah Tong terbaring keletihan di sisi Tini sementara Tini masih terlentang dengan kaki terbuka. Matanya terpejam dengan perasaan sedikit kecewa. Ah Tong tak mampu memberinya kepuasan. Belum apa-apa orang tua itu sudah menyerah kalah. Kulup cina tua tak mampu bertahan lama. Tini baru separuh jalan, orang tua itu sudah menyerah.



Tidak ada komentar: