Laman

Selasa, 10 April 2012

Bercinta Dengan Keponakanku



Hujan yang turun deras sejak setengah jam tadi masih tidak ada tanda-tanda akan berhenti. Hati Ramlah semakin gelisah. Sesekali dia melihat ke arah jam meja yang terletak di atas meja riasnya
"Alamak, baru pukul 10.30, wajar bila mataku belum mengantuk" katanya dalam  hati .
 Dia lalu meraih bantal dan menarik rapat ketubuhnya yang mulai merasakan dinginnya hawa malam itu. Perlahan-lahan dia membaringkan tubuhnya keatas kasur. Bukannya dia tak terbiasa tinggal sendirian, apalagi setelah berpisah dengan suaminya dua tahun lalu, tetapi suasana malam ini begitu lain. Sejak sore tadi perasaanya menjadi tidak menentu. Nafsu kewanitaannya benar-benar memuncak hingga menyebabkan setiap perbuatannya menjadi salah


Fikirannya mulai melayang-layang mengenang saat-saat bahagia bersama bekas suaminya, Budin. Walaupun tubuh Budin agak kecil tetapi tenaga dan permainan ranjangnya ternyata begitu  hebat sekali. Kasur inilah yang menjadi saksi dari aksi gairah antara mereka berdua sewaktu melakukan olah asmara. Senyuman kepuasan senantiasa tersungging dibibirnya setiap kali selesai bersenggama. Namun begitu rumahtangga yang terbina lebih 10 tahun itu runtuh juga . Bukan salahnya dan dia sendiripun tidak pula menyalahkan Budin. Semuanya terjadi karena sikap ibu mertuanya yang sering campurtangan dan mengekang hidup keluarganya. Hingga setiap sen uang belanja  harian pun menjadi perhitungan mertuanya. Sikap itulah yang membuat Ramlah begitu tertekan dan akhirnya bertindak nekad dengan menggugat cerai. Walaupun Budin begitu keberatan  tetapi atas desakan ibunya menjadikan mereka berpisah. Namun begitu hubungan Ramlah dan bekas suaminya masih baik terutama dalam soal penjagaan tiga orang anak mereka. Setiap minggu mereka akan bergiliran menjaga anak-anak. 


Memang banyak orang  yang ingin  menjadikannya sebagai teman hidup, bukan saja duda , bujang bahkan suami orang pun ada yang tergila-gila padanya. Tetapi entah mengapa hingga hari ini pintu hatinya masih belum terbuka untuk mengakhiri status jandanya. Mungkin dia masih mencari-cari seorang lelaki yang kalaupun tidak  dapat melebihi  kehebatan Budin paling tidak menyamainya dalam hal berolah asmara soal nafkah lahir tidak masalah baginya karena setiap bulan Budin  akan tetap memberinya uang belanja harian. Untuk mengisi waktu luangnya dan menambah pendapatan, dia berjualan kain secara kecil-kecilan dari rumah kerumah. Kehangatan bantal yang dipeluknya eratsejak tadi semakin menambah gelora batinnya. 


Tangannya perlahan-lahan menarik ujung bantal itu dan menggesekannya keatas permukaan memeknya yang masih ditutupi kain batik yang dipakainya. Peristiwa yang terjadi dan menyebabkan gelojak batinnya memuncak siang tadi mulaiterbayang kembali di matanya. Memang tidak disangka dia akan menyaksikan perbuatan itu. Siang  tadi saat dia kerumah bu Linda untuk menagih uang pembayaran kain yang dibeli sebelum perkahwinannya sebulan yang lalu,  dia mengucap salam tetapi tidak ada jawaban. Namun dia yakin bu Linda ada di rumah karena mobil suaminya ada di garasi dan kipas angin di ruangtamu berputar dengan kencangnya.
 "Mungkin mereka sedang ada di belakang " katanya dalam hati . Perlahan-lahan dia melangkah kebagian belakang rumah. Sesekali dia mendengar seperti ada suara orang berbisik-bisik perlahan. Semakin dia mendekati jendela dapur rumah itu suara tadi semakin jelas terdengar. 


Dia ingin melangkah pergi meninggalkan rumah tersebut tetapi ada dorongan halus dari dalam dirinya untuk melihat apa yang sebenarnya sebenarnya terjadi saat  itu. Setelah memastikan tidak  ada siapa pun yang melihatnya, Ramlah mulai mendekati jendela  dapur yang sedikit terbuka itu. Debaran didadanya semakin terasa keras ketika terdengar raungan yag membuat  darahnya mendidih, matanya memandang apa yang sedang terjadi didalam rumah itu. Bungkusan kain yang di pegangnya hampir saja  jatuh ke tanah. Dari sudut dia berdiri itu dia melihat dengan jelas tubuh bu Linda tanpa seuntai benang sedang menungging di tepi meja makan. Kaki kirinya diangkat ke atas sementara badannya ditundukkan sehingga kedua-dua buah dadanya hampir menyentuh permukaan meja itu. Ramlah dapat melihat dengan jelas belahan memek bu Linda yang sedikit terbuka sudah basah denga air maninya. Perhatian Ramlah kini beralih pada tubuh suami bu Linda yang sedang berdiri sambil mengusap-usap batang kemaluannya sendiri. Tangan Ramlah mulai menggigil perlahan bila menatap tubuh bidang lelaki itu. Badannya  sedikit gelap dan dada, tangan dan pahanya terdapat bulu-bulu tipis yang tebal.  Menurut cerita orang suami bu Linda itu keturunan India Muslim. 


Tanpa disadari Ramlah meneguk  air  liurnya sendiri ketika bola  matanya terpaku pada batang peler lelaki itu yang sedang mengeras sempurna. Inilah pertama kali dia melihat peler lelaki sebesar itu yang besarnya hampir menyamai ukuran ujung lengannya. Panjangnya memang luar biasa dan ukuran lingkarnya hampir 8 inci.
 "Ish..cepatlah bang, sudah lama Lin tunggu ini...nanti masuk angin...naiyaa" terdengar suara bu Linda merengek manja sambil menggejelinjang kearah suaminya. 
"Ok..ok..aku tambah pelicin ini...nanti sayang sakit pula..." balas suaminya sambil mulai menyodokkan kepala pelernya kecelah memek  isterinya itu. Kedua tangan kasarnya mencengkeram pantat indah bu Linda dan mendongakkannya ke atas. Serentak itu dia mulai menekan perlahan-lahan batang pelernya masuk kedalam lubang memek yang setia menanti itu. Bu Linda mula mengerang dengan agak kuat kepalanya terangkat ke atas sambil kedua tangannya memegang  kuat kaki meja makan itu. Matanya terpejam rapat sambil gigi atasnya menggigit bibir bawahnya. Mukanya yang putih itu jelas kelihatan kemerah-merahan menahan lesakan peler yang besar itu. 
" Err..boleh masuk lagi gak?" tanya suaminya inginkan kepastian setelah melihat bu Linda terengah-engah. "lebih dalam  lagi boleh..?" dia bertanya kembali sambil menoleh kearah suaminya. 
"Emm...dalam 2 inci lagi.." 
"Haa..2 inci..errr..abang ayun dululah...sudah sampai perut Lin ini rasanya..." bu Linda berkata dengan suara yang terbata-bata
Tanpa berlama-lama lagi suaminya pun memulai gerakan dorong tarik batang pelernya. 


Tangannya mulai memegang dan meremas-remas kedua buah dada isterinya itu. Suara lenguhan kenikmatan kedua insan itu semakin kuat terdengar. Semakin lama gerakan mereka itu  semakin kuat dan cepat hingga meja makan itu mulai bergerak. Tetapi sepasang insan yang sedang mabuk asmara itu  tidak mengindahkannya. 
"Bang...masuk habis bang...Lin sudah mau keluar ini...cepat bang.." tanpa malu bu Linda bersuara dengan agak kuat. 
Serentak itu ayunan tubuh suaminya semakin kencang hingga meja itu bergerak dengan kuat tiba-tiba sebuah gelas yang berada di atas meja itu jatuh, suami bu Linda coba menggapainya tetapi tak berdaya dan gelas itu jatuh berberai di lantai. Bunyi itu menyebabkan Ramlah tersentak dan hampir menjerit untunglah dia dapat menahannya. Dengan muka yang merah menahan malu,Ramlah lalu bergegas meninggalkan rumah itu. Bunyi deruan hujan yang masih mencurah membuatkan fikiran Ramlah tambah ga karuan gelora batinnya semakin menjadi-jadi. Hatinya mulai nekad ingin memuaskan nafsunya malam ini walau bagaimanapun juga. Tangannya menarik ikatan kain batiknya sehingga terburai,celana dalamnya di pelorotkan sehingga ke ujung kaki jarinya mulai menyentuh dan menggosok-gosok biji kelentitnya sendiri. Ramlah memejamkan matanya dan mulai membayangkan memek bu Linda sewaktu disetubuhi suaminya tadi. 


Begitulah juga agaknya keadaan dirinya jika peler raksaksa itu terbenam dalam lubang memeknya. Dia mulai menyodok jarinya kedalam celah memeknya yang telah hampir kebanjiran air nikmatnya. Terasa lelehan air itu mengalir hingga kecelah lubang duburnya nafsunya semakin membara. Kedua lututnya dibengkokkan sambil membuka pahanya selebar-lebarnya,dengusan nafasnya semakin kencang. Gerakan jarinya semakin cepat memasuki setiap sudut gua kenikmatannya, pantatnya digerakan keatas dan kebawah menahan kenikmatan. Pada saat dia akan sampai kepuncak kenikmatan yang sangat diharap-harapkannya itu, samar-samar di luar terdengar suara orang memberi salam dan memanggil-manggil namanya. "Arghhh!!! ....siapa pula yang datang malam-malam begini..." mulutnya mengumam melepaskan rasa yang tertahan di kalbunya, dia  bangun dan memakai kain batiknya dengan kesal karena nafsunya belum terlampiaskan.


Sambil membetulkan rambut dia melangkah lesu menuju ke  pintu. 
"Hah ..kamu Zakuan...kukira  siapa...ada perlu apa malam-malam datang kesi ni?" dia bersuara sedikit terkejut pelan-pelan saja daun pintu itu di bukanya. Tubuh anak saudaranya yang basah kuyup dan menggigil kedinginan itu ditatapnya sedikit keheranan. Zakuan adalah anak tertua kakaknya yang tinggal kira-kira 2 km dari rumahnya.
 "Errr...tante sudah tidur ya?...Maaf menganggu...Wan dari rumah kawan tadi...mau pulang, tapi hujan lebat jadi mau  numpang tidur disini aja..." jawab pemuda berusia 16 tahun itu sambil tergetar-getar menahan dingin. 
"Hah.. kamu itu, sudah tau hujan malah keluyuran sudah..sudah..masuk..ganti pakaian kamu.." katanya sambil membuka pintu itu lebar-lebar. Dia melangkah masuk kekamar dan  kemudian keluar dengan membawa handuk.
 "Lap badan kamu dan pakai baju ini...nanti tante masakkan air" katanya sedikit lembut sambil mengulurkan handuk dan baju, saat membuat membancuh kopi Ramlah sempat melirik ke arah Zakuan yang saat itu hanya memakai handuk kecil dan sedang menyisir rambutnya. 


Keinginan batinnya perlahan-lahan mula bergelora kembali, hasutan nalurinya semakin menghantui fikirannya. Ramlah mula mengatur strategi untuk mengerjai anak saudaranya itu, dua kancing  atas bajunya dibuka. Dia menunggu hingga Zakuan selesai berpakaian dan duduk diatas sofa sebelum keluar membawa kopi itu,saat meletakan cangkir diatas meja kecil dihadapan Zakuan sengaja dia menundukkan badannya hingga kedua buah dadanya yang tanpa  pelindung itu terpampang jelas. Hatinya berdetik gembira saat melihat mata Zakuan hampir terbelalak memandang ke arah dadanya, dia lalu duduk merapat disebelah anak saudaranya itu.
 "Kalau Wan dingin...ayo peluk tante." katanya lembut sambil memegang tangan Zakuan dan meletakkan di atas pahanya. 
Zakuan tidak membantah tapi sorot matanya menunjukkan keheranan. Perlahan-lahan dia mula menggesek-gesekkan dada montoknya pada lengan pemuda itu, paha Zakuan dielusnya


Semakin lama semakin ke atas dan akhirnya menyentuh batang peler Zakuan. 
"Eh..tante...err..kenapa ini.." pemuda itu bertanya penuh kehairanan sambil menahan tangan ibu saudaranya dari bertindak lebih jauh. 
"Ala..Wan..kali ini Wan mesti tolong tante...saat ini tante betul-betul gak tahan ..." tanpa segan silu Ramlah terus memujuk rayu Zakuan. 
Baju tidurnya disingkapnya hingga memperlihatkan buah dada montoknya.
 "Emm...Wan peganglah...remas-remas sedikit" katanya manja sambil memegang tangan Zakuan dan meletakan pada tonjolan dadanya.
 "Tapi tante...Wan tak bisa seperti ini...." segala upaya dia coba untuk mengelak dengan kejadian yang tidak disangka-sangkanya. 
"Kalau seperti itu biar tante aja yang melalkukannya...Wan duduk diam saja ya..". Ramlah masih tidak mau mengalah. 
Gelojak nafsunya kini sudah memuncak ketahap maksimum. Hatinya benar-benar nekad untuk memuaskan tuntutan birahinya walau apa pun yang akan terjadi. Debaran didadanya semakin kencang dan dia dapat merasakan celah memeknya kembali berair. 
Kainhanduk Zakuan disibaknya hingga ke pangkal paha, dengan penuh nafsu peler Zakuan yang masih  tertelungkup itu di remas dan dikocoknya lembut. Raut gembira mulai terbayang di wajahnya saat batang peler anak muda itu mulai mengeras perlahan-lahan. 


Zakuan mulai beringsut menahan kegelian saat pertama kali batang pelernya dibelai seorang wanita. Tangannya semakin berani meremas dan memelintir puting buah dada Ramlah, Ramlah semakin tenggelam dilanda kegairahan. Akal fikirannya telah seratus peratus dikuasai nafsu, saat melihat Zakuan sudah terangsang dia lantas bangun sambil menanggalkan bajunya. Kain batiknya turut dilucuti hinggga menampakkan keseluruhan tubuhnya dihadapan anak saudaranya itu. Senyuman terukir dibibirnya saat melihat bola mata Zakuan terpaku tak berkedip memandang memeknya yang tembem dicelah paha sintalnya itu. 
Tanpa membuang waktu dia berlutu di antara paha Zakuan, handuk yang masih terikat dipinggang itu disingkapnya hingga ke perut Zakuan. Zakuan mulai mengerang kecil saat Ramlah mulai menghisap dan mengenyot batang pelirnya. 
"Ah..oh...geli tante...ah...ahh..." desahan keluar dari mulut pemuda itu semakin kuat. Erangan Zakuan itu membuat Ramlah tidak lagi berupaya menahan nafsunya. 
"Wan tahan ya...tante sudah mau memasukkan ini...sudah gak tahan lagi dah" katanya sambil mengangkang diatas paha pemuda itu, sebelah tangannya memegang batang peler Zakuan dan mengarahkan pada belahan lubang memeknya.
 "Ah..ah...ishhh..." Ramlah mengeluh panjang saat merasakan batang peler anak saudaranya itu menerobos masuk untuk  mengakhiri penantiannya setelah sekian lama. Zakuan juga semakin kuat mengerang. 


Sesekali tubuhnya mengigil seperti terkena kejutan eletrik. Ramlah semakin rakus bertindak sementara Zakuan dengan segala upaya cuma untuk bertahan. Pantat lebarnya semakin cepat diangkat dan dihentak sambil otot-otot memeknya dikerahkan sekuat tenaga untuk mengenyot batang pelir Zakuan. "Arghh...Wan...ah..tante sudah mau keluar...argh...argh..." katanya sambil menarik kepala Zakuan kearah buah dadanya yang terbuai-buai itu. 
Dia kini menekan pantanya hingga peler zakuan terbenam rapat hingga ke pangkalnya, pinggangnya digerakkan kekiri dan kanan dengan cepatnya. Ramlah kini betul - betul seperti orang yang kehilangan akal. 


"Argh..argh..argh.......arghhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh....."Ramlah melepaskan keluhan kenikmatan yang panjang karena saat-saat yang ditunggunya itu akhirnya tiba juga.
 Tubuh Zakuan dipeluknya sekuat hati hingga pemuda itu terengah-engah lemas,setelah puncak birahinya reda, Ramlah melepaskan pelukannya.
 "Emm...lega tante...eh kamu ini kenapa menyeringai aja...err..sudah keluar atau belum?" Zakuan tidak menjawab tetapi hanya mengangguk lemah.
 "Haa...sudah keluar??...jangan-jangan kamu keluarkan di dalam???...alamak...matilah aku.." Ramlah hampir menjerit membuat Zakuan merasa keheranan. 
"Eii..kenapa kamu ga ngomong saat mau keluar...habislah kalau seperti ini" 


Ramlah bangun dan memulai pembicaraan. 
"Tante yang sangat ganas ...mana saya tahan.." kata Zakuan dengan suara perlahan.
 Ramlah tidak menoleh lagi dan terus berlari kekamar mandi dalam keadaan masih bertelanjang bulat. Zakuan mengelap lelehan air maninya yang bercampur air Ramlah yang masih meleleh di pangkal pahanya. Sesekali dia menggaruk-garuk kepalanya keheranan melihat tantenya itu. 


"Tadi dia mau bersenang-senag...setelah itu marah-marah..ada apa ini..." Zakuan berkata pelan sambil membaringkan tubuhnya ke atas sofa itu.

Tidak ada komentar: