Laman

Selasa, 07 Juli 2009

Kisah Eliza 4 : Di rumah Seorang Teman



Sambil menunggu bel masuk sekolah siang, aku bercanda dengan Jenny, teman yang duduk sebangku denganku. Kami tertawa riang, menggosip dan kadang saling menggoda. Aku kenal dengan cewek cantik ini sejak awal masuk SMA, dan kami dengan cepat menjadi teman baik dan duduk sebangku. Sifatnya yang periang membuat aku yang awalnya agak pendiam, cocok sekali dengannya. Hari itu ia menggosip tentang adanya informasi, kami akan pulang cepat. “EL, kamu tahu nggak, nanti kita bakal pulang cepat nih!”, katanya dengan senyum bahagia. “Memangnya ada apa Jen”, tanyaku penasaran. Info yang dia dapat biasanya akurat nih, maka aku jadi senang. “Katanya guru guru akan rapat, jadi kita akan pulang pada jam istirahat pertama”, jawabnya dengan senyum yang lucu, membuatku tertawa. Jenny, anaknya cantik, tubuhnya yang sedikit lebih pendek dariku, yaitu 155 cm, terlihat sangat ideal dengan berat badannya yang cuma 41 kg. Sama seperti aku, ia chinese, berambut lurus, hitam dan panjang sampai ke punggung. Kulitnya putih sekali, sedikit lebih putih dariku. Kami berdua suka saling memuji kecantikan masing masing. Kalau menurutku, ia memang cantik sekali, bahkan kokoku yang pernah melihatnya main ke rumahku juga mengatakan ia cantik, padahal kokoku termasuk cerewet untuk ukuran cewek. Kembali ke topik, aku kini menunggu dengan penasaran, apakah memang kita kita bakalan pulang pagian. Aku sudah membayangkan, akan pergi ke Tunjungan Plaza, jalan jalan atau mencoba makanan baru di sana.
Benar saja, pada waktu bel berbunyi, seperti biasa kami berdoa dipimpin oleh salah satu guru, yang waktu selesai doa, mengumumkan kalo hari ini pelajaran berlangsung 30 menit per jam pelajaran, dan kami akan pulang pada jam istirahat pertama karena guru guru akan rapat. Artinya, 1 jam lagi dari sekarang, yaitu jam 14:00, kami bebas dari aktivitas sekolah. Jenny kuajak pergi ke Tunjungan Plaza, yang langsung saja diiyakan olehnya. Kami melewati 2 jam pelajaran ini dengan hati senang sehingga tak terasa sudah waktunya kami bersenang senang. Sempat terbersit di pikiranku, untung deh. Jam terakhir nanti, geografi. Guru yang mengajar adalah pak Edy, yang kemarin Sabtu dengan tak tahu malunya ikut andil waktu aku digangbang di UKS itu. Jadi teringat, dia cepat keluar, dan penisnya lembek. Mungkin dia akan segera impoten kali? “Hei El, siang siang ngelamun, awas kesambet lho!” seru Jenny sambil menepuk bahuku, membuat aku amat kaget dan dengan pura pura marah aku mengejar Jenny yang kabur menghindari cubitanku. Kami akhirnya masuk ke mobilku setelah Jenny menemui sopirnya dan menyuruh bapak itu langsung pulang. Dan kami segera berangkat menuju Tunjungan Plaza. Perjalanan itu lancar, sampai tiba tiba ketika di jalan Basuki Rahmat mobilku tersendat sendat. “Aduh.. kenapa ini ya? Masa mobil baru kok sudah mogokan?”, omelku dengan sebal. “Sabar El, coba kita minggir dulu deh. Itu kebetulan di sebelah kanan kita ada bengkel buat mobilmu lho”, hibur Jenny. Aku baru ingat, kebetulan di sebelah kanan ada Istana Mobil Surabaya Indah (IMSI), showroom sekaligus bengkel, tempat papaku membelikan mobil ini.

Dengan susah payah akhirnya aku berhasil memasukkan mobilku yang jalannya tersendat sendat ini ke dalam parkiran IMSI, dan mungkin karena agak lambat tadi sempat diiringi klakson dari mobil yang ada di belakang mobilku. Tak sabar amat sih, masa nggak bisa memaklumi mobil orang yang rusak, gerutuku dalam hati. Di dalam bengkel, aku melaporkan keluhan tentang mobilku. Yah, paling tidak mereka cukup tanggap, dan segera memeriksa mobilku. Ternyata ada spare part yang rusak, tapi mereka lagi kehabisan stok, dan mereka berjanji paling lambat besok siang mobilku sudah selesai diperbaiki, karena sekarang juga mereka pesan dari Jakarta. “Yah, Jen.. hari ini pulang naik taxi deh. Nggak apa apa kan? Aduh.. kalau tau bakal begini, tadi sopirmu nggak usah disuruh balik dulu ya” kataku pada Jenny yang menjawab dengan ide yang menyenangkan, “kalau gitu kamu nginap aja sekalian di rumahku El. Menghemat uang taxi, dan besok kan kamu bisa kuantarkan dulu ke sini”. Aku mengangguk senang. Aku memang sudah 3x menginap di rumah temanku ini untuk bikin tugas kelompok. Keluarganya ramah, ortunya baik denganku, juga adiknya Jenny. Jenny adalah anak tertua di keluarganya, dia punya seorang adik laki laki yang masih kecil, Denny namanya, masih umur 12 tahun. Soal baju, sama sekali tak masalah. Aku bisa pinjam bajunya Jenny, karena tubuh kami memang seukuran, mulai dari pinggul, pinggang sampai payudara kami seukuran semua. tinggi badan kami pun cuma selisih 2 cm. Setelah membereskan administrasi, aku dan Jenny nggak jadi ke Tunjungan Plaza, tapi kami langsung pulang menuju rumahnya dengan naik taxi.

Kami tiba di rumah Jenny sekitar jam 15:30. Rumahnya kosong, dan ketika Jenny tanya pada ke mana semua, orang yang tadi membukakan pintu buat kami berkata papa dan mama Jenny baru saja pergi, mengantar Denny ke dokter gigi. Jenny tertawa, dan bercerita padaku tadi sebelum pergi ke sekolah, Jenny melihat adiknya menangis sambil memegangi pipinya. “Jen, sambil menunggu mereka pulang , kita nyantai di kamarku yuk”, ajaknya, sambil menggandeng tanganku. Di dalam kamarnya, musik kesukaanku yang juga kesukaan Jenny mengalun lembut, sementara aku melihat lihat koleksi VCD milik Jenny, siapa tau ada yang bagus dan bisa kupinjam, sambil beberapa kali terlibat obrolan ringan dengan temanku ini. Jenny sedang bersantai di ranjangnya sambil membaca majalah, ketika aku merasa ingin buang air besar, maka aku pamit ke wc. “Ya udah ke sana aja, kamu udah tau tempatnya kan?” kata Jenny santai. Aku mengangguk dan segera pergi ke wc yang letaknya tak jauh dari kamar Jenny ini. Selagi aku masih buang air, kudengar Jenny berkata dari luar, “El, nanti kamu tunggu di kamarku ya, aku mau beres beres rumah dulu, pembantuku pulang nih”. “Iya Jen”, kataku. Setelah semua selesai, aku segera kembali ke kamar Jenny, dan melanjutkan melihat lihat koleksi VCDnya, sampai tiba tiba jam dinding di kamar Jenny berbunyi menunjukkan pukul 16:00. Tiba tiba aku jadi gak enak, masa aku diam saja sementara Jenny lagi bersih bersih rumah? Maka aku keluar mencari Jenny untuk membantunya. Selain itu gak enak juga kan ditinggalkan sendiri di kamar orang lain seperti ini?
Aku mencari Jenny di semua ruangan rumahnya yang besar ini, cukup lama, tapi tak kunjung menemukan Jenny. Ia seperti menghilang saja, melihat toilet, kosong. Mau membuka kamar adiknya atau ortunya, segan juga. Kucari dia di ruang makan dan beberapa ruangan lain yang sekiranya tak ada unsur privacy, juga tak ada. Kini tinggal sebuah ruangan, yang cukup gaduh. Ortu Jenny memang membuka usaha produksi sandal jepit di rumah, dan jam kerjanya antara jam 08:00 sampai jam 18:00. Aku berpikir, mungkin saja Jenny ada di dalam sana, melihat pekerjaan para buruh sandal itu. Aku pernah melihat mereka, ada 5 orang yang bekerja di belakang sana. 2 orang di antara mereka tubuhnya tinggi besar dan kekar, mungkin tinggi mereka hampir 185 cm. Mereka berdua itu adalah Supri dan Umar, aku mengetahui nama mereka berdua ini waktu papanya Jenny memanggil mereka untuk bantu mengangkat sebuah mesin, entah mesin apa, ke mobil pickup. Dan wajah mereka berdua ini, ampun deh, benar benar kacau. Kulit mereka berdua ini sama sama begitu hitamnya. Wajah Supri ini agak mengerikan, dengan penuh bopeng di hampir seluruh wajahnya yang memang sudah amat jelek itu, jadi sebenarnya bopeng bopeng ini cuma membuat wajah Supri ini sedikit lebih jelek saja. Bisa kan bayangkan betapa amburadulnya? Dan tentang Umar, kira kira monyongnya mulutnya itu membuatnya mirip monyet kali. Kulit wajahnya juga bopeng, tapi tak sampai separah Supri. Walau begitu, hal ini tak menolong sama sekali, tetap saja wajah itu begitu jelek di mataku, benar benar gak penting untuk dilihat deh.
Dan 3 rekannya yang lain aku juga pernah melihat. Aku tak tahu nama mereka, tapi yang jelas wajah mereka bertiga ini tak lebih baik dari kedua orang yang kutahu namanya ini. Ada yang giginya tongos, mirip Boneng, cuma yang ini lebih parah kali ya. Tubuhnya tak begitu besar, juga tidak tinggi, tapi bulu bulu badannya amat lebat menjijikkan seperti gorilla saja. Yang satunya lagi, rambutnya gundul plontos, bibirnya sumbing. Gendut lagi, perutnya buncit juga. Aduh.. orang ini kalau berjalan, perutnya bergoyang goyang seperti sebuah kantung lemak yang diayun ayunkan, mengerikan lah pokoknya. Lalu, orang yang terakhir ini tak kurang ‘spektakuler’. Kontras dengan si gendut tadi, orang ini bertubuh amat kerempeng, tulang tulangnya seperti menonjol menegaskan kekurusannya, sekilas terlihat seperti sudah tua dan penyakitan. Padahal menurut Jenny orang itu usianya baru 32 taun, tapi terlihat seperti sudah umur 45 taun lebih gitu. Sudah begitu sama plontosnya, tapi kumisnya tebal sekali. Kedua matanya amat besar, kalau dilihat sekilas mirip tengkorak hidup berkumis. Aku sering merasa tak nyaman jika ada di sekitar mereka. Pernah aku diajak ortu Jenny melihat lihat tempat produksi sandal di belakang rumah ini, setelah aku diberi sepasang sandal fashion dari salah satu produknya. Aku terpaksa ikut melihat lihat, nggak enak kan kalo nggak ikut? Dan waktu di tempat produksi itu, kurasakan tatapan mata mereka berlima itu, penuh nafsu, seolah ingin menelanjangiku. Risih sekali rasanya dipandangi oleh mereka. Apalagi tadi, si tengkorak hidup yang membuka pintu ketika kami pulang tadi, menatapku dan Jenny seperti akan menelan kami berdua bulat bulat, sementara Jenny sempat terlihat agak canggung juga.
Aku bimbang antara mencari Jenny atau kembali saja ke kamar menunggunya. Akhirnya aku memutuskan untuk memberanikan diri untuk mencari Jenny ke dalam sana, toh selama ini mereka tak pernah macam macam. Lagian, aku kan cuma masuk sampai ke pintu, melihat apakah Jenny ada di dalam, kalau nggak ada aku kembali aja ke kamar Jenny. Maka aku masuk membuka pintu itu, dan aku baru ingat kalau aku harus masuk lebih dalam untuk bisa melihat situasi ruang produksi itu. Ketika aku sudah di dalam, aku melihat pemandangan yang benar benar hampir membuat jantungku berhenti berdetak. 4 orang laki laki yang bekerja di situ terlihat bekerja seperti biasa, tapi dengan pandangan tak percaya, aku melihat Supri sedang menggenjot Jenny yang masih memakai seragam sekolah, tapi sudah tidak mengenakan rok dan celana dalam yang sudah tercecer di lantai. Jenny terlihat begitu pasrah, tampaknya mereka sedang quicky, dan tak menyadari keberadaanku di tempat produksi ini. Seakan memang sudah takdir, tiba tiba angin kencang bertiup dan membuat pintu di belakangku, satu satunya tempat untuk keluar dari tempat ini, tertutup keras, membuat mereka semua menoleh ke arahku. Tentu saja harusnya mereka menoleh ke pintu, tapi kini perhatian mereka semua tertuju padaku, terutama Jenny yang kulihat begitu pucat, mulutnya ternganga, tanpa mengeluarkan suara, matanya menatapku seolah tak percaya aku ada di sini. Setelah beberapa detik, aku tersadar, aku pun dalam bahaya yang mengancamku sekarang ini, dan aku harus mencari bantuan, mungkin dari warga sekitar atau siapapun untuk menyelamatkan diriku, juga demi menyelamatkan Jenny.
Dengan panik aku memutar handel pintu itu, entah kenapa kali ini rasanya sulit sekali terbuka, membuat semua sudah terlambat bagiku untuk menyelamatkan Jenny, apalagi menyelamatkan diri. Tubuhku yang mungil ini disergap oleh 4 orang lelaki yang mengerikan ini, kedua tanganku sudah ditelikung ke belakang seperti polisi yang hendak memborgol penjahat tangkapannya. Rasanya sakit sekali, dan aku hanya bisa merintih, “aduuuh.. sakiiit”. Tentu saja tak ada yang perduli, dan mereka menggiringku masuk ke dalam, sambil meraba dan meremas payudara dan pantatku. Aku hanya bisa meronta panik, namun jelas tidak ada artinya. Selain rontaanku memang tak begitu kuat karena rasa sakit yang mendera pangkal lenganku, seandainya aku tidak sedang ditelikung begini pun aku tahu tak akan sanggup berbuat banyak menghadapi para buruh yang sudah seperti kerasukan iblis. “Jangaan.. jangan temankuu.. lepaskan dia.. bajingan kalian semuaaa…. Jangan Eliza…”, Jenny berteriak panik meronta, berhasil melepaskan diri dari Supri yang tak terlalu konsentrasi mendekapnya, dan menerjang ke arahku yang sedang dalam cengkeraman 4 orang buruh ini. Jenny dengan buas menghantam si gorila yang meremas payudaraku hingga begundal itu kesakitan, melepaskan remasannya pada payudaraku yang kanan sambil menyumpah nyumpah. Jenny sudah akan menghantam si tengkorak hidup yang meremasi payudaraku yang kiri, tapi tangannya sudah ditahan oleh si gorila yang tadi dihantam Jenny pertama kali, kini sudah tertelikung dengan mudahnya, dan sebuah pisau yang biasanya digunakan untuk memotong tali pengikat karung, sudah menempel di leher Jenny. Supri menodongkan pisau itu dengan sikap yang mengancam sekali.
“Jangaaan.. kalian jangan lukai Jenny… baik.. baik.. aku menyerah. Tapi lepaskan pisau itu ya.. tolong.. jangan lukai Jenny…aku akan melayani kalian, sungguh…”, aku memohon dan mulai menangis ketakutan, memberikan penawaran sebagus mungkin yaitu pelayananku yang otomatis juga berarti tubuhku, supaya mereka tidak mencelakakan Jenny yang kini menangis tersedu sedu, dan berkata di antara isak tangisnya, “Tolong… lepaskan Eliza.. dia gadis baik baik, masih perawan.. jangan rusak dia.. cukup aku saja… tolonglah…”. Aku segera memotong, “Jen, tidak apa apa Jen, aku sudah nggak virgin kok Jen”. Jenny memandangku tak percaya, sementara 5 orang yang menyekap kami ini tertawa menjijikkan. “Wah jaman sekarang ini memang susah ya cari amoy perawan. Tapi gak apa apa, yang ini.. siapa namanya tadi? Eliza? Kamu cantik sekali, nggak kalah sama anak majikan kami”, kata Supri sambil mencolek daguku, membuatku hampir muntah betulan sangking jijiknya. Sudah wajah amburadul gitu, masih bisa bisanya dia menghinaku. “Teman teman, sekarang waktunya pesta amoy dulu. Ayo cepat kita mulai, waktu kita tidak banyak, kira kira jam setengah tujuh malam nanti majikan kita sudah pulang, dan kita akan lembur selesainya acara pesta amoy ini, supaya bos tetap puas dengan kerja kita”, sambung Supri dengan gayanya yang menjijikkan, mungkin ia yang paling berkuasa di antara para buruh ini. “El.. maaf ya El… Aku harusnya tidak mengajakmu menginap hari ini, maafkan aku ya El”, kata Jenny yang merasa sangat bersalah. “Jen, nggak perlu minta maaf Jen.. bukan salahmu kok Jen.. Kamu kan sudah menyuruhku menunggu di kamar, aku sendiri yang keluar mencari kamu…” kataku berusaha mengiburnya.
Jenny terlihat lemas saat kami digeret ke mess tempat 5 buruh ini tidur. Aku melihat ada 5 ranjang berukuran tanggung, untuk ukuran satu orang saja, yang berjajar 2 dan 3. hawanya tidak terasa pengap, mungkin karena ukuran ruang tidur yang besar ini. Kini kami berdua sudah sepenuhnya berada dalam cengkraman 5 orang buruh ini. Dalam hitungan detik, aku dan Jenny sudah ditelanjangi bulat bulat, pakaian kami sudah berserakan di lantai. Mereka pun sudah bertelanjang bulat, siap memangsa 2 amoy cantik yang menjadi idola di sekolah kami. Memang selain aku, Jenny juga salah satu cewek idola yang menjadi incaran kumbang jantan di sekolahku. Acara pesta amoy ini dimulai oleh Supri dan Umar yang mendekati aku, sementara 3 orang yang lain memegangi Jenny yang masih terlihat tak terima aku jatuh ke tangan buruh buruhnya. Jam 16:15. baru 15 menit berlalu sejak aku mencari Jenny sampai tertangkap para begundal ini, tapi rasanya begitu lama. Entah sampai kapan mereka akan menikmati tubuh kami. Tapi aku tak punya banyak waktu untuk melamun, remasan tangan Umar yang kekar dan penuh tenaga pada kedua payudaraku dari belakang membuat aku menggeliat. Tubuhku seolah didekap Umar dari belakang, ia sibuk menghirup harumnya bau rambutku, geli juga aku dibuatnya. Supri mendekati kami, lalu meremas kedua pantatku. Oh.. aku mulai terangsang, kini jantungku berdetak cepat bukan karena takut, tapi karena nafsu birahi yang mulai melanda tubuhku ketika kedua orang ini seolah olah sedang memperebutkan tubuhku, hingga dalam posisi berdiri ini aku terhimpit tubuh dua buruh kekar ini.
Kutolehkan kepalaku yang sempat terbenam di dada Supri yang bidang. Bau tak sedap yang menyeruak hidungku membuatku harus melakukan ini karena aku masih tak ingin muntah. Saat itu aku bertatapan dengan Jenny, yang terlihat menyesal dan berurai air mata, menatapku seolah ingin meneriakkan kata maaf. Aku menatapnya ingin mengatakan kalau aku tak menyalahkan dia karena ini memang bukan salahnya, tapi gelora lautan birahi sudah menghantamku, aku sudah hampir terhanyut sepenuhnya. Maka aku hanya bisa menatapnya sayu sambil menggelengkan kepalaku, semoga dia mengerti. Kini aku sudah tak bisa berpikir jernih lagi, karena vaginaku sudah diraba lembut oleh Supri. Ia begitu pandai merangsangku, tak lama kemudian cairan cintaku sudah mulai keluar sedikit. Aku mulai mendesah dan menggeliat, tapi ini membuatku lebih terangsang lagi, karena kulit tubuhku bergesekan dengan tubuh kedua buruh bejat ini. “Nggghh…”, aku melenguh ketika jari tangan Supri melesak masuk ke vaginaku, ditambah dengan pelintiran pada kedua putting susuku oleh Umar, rasa sakit sakit nikmat yang terus menghantamku dari tadi, sudah hampir membuatku orgasme. Aku mulai mengejang keenakan, diiringi tawa mereka yang harusnya menjijikkan, tapi aku sudah tak perduli, atau lebih tepatnya sudah tak bisa perduli. Tubuhku memang lebih jujur dari aku, cairan cintaku rasanya mengalir lebih banyak saat aku terus menerus dirangsang seperti ini. Nikmat ini sudah mengalahkan akal sehatku, aku sudah takluk oleh kedua buruh bejat, yang status sosialnya sama sekali tak sederajat denganku. Sempat terpikir olehku, betapa beruntungnya mereka berlima ini.
Melihatku yang sudah pasrah, membuat kedua orang ini semakin bernafsu menggumuliku. Dan akhirnya Supri sudah bersiap siap untuk melakukan serangan pertama. Aku melihatnya mengocok penisnya sebentar, dan aku memperhatikan seperti ya apa penis yang akan segera mengaduk aduk vaginaku ini? Penis itu sudah mengacung tegak, besar, agak bengkok ke atas mendekati pusar perutnya. Pusar perutnya?? Baru aku tersadar, oh… penis ini panjang sekali. Aku terbelalak ngeri, gairahku langsung padam. Gila, ini sih lebih panjang dari punya Urip, satpam yang mengeroyokku di UKS kemarin lusa. Diameternya pun tak main main, seimbang dengan kepunyaan sopirku. Tanpa sadar aku menggelengkan kepalaku, seolah berkata jangan, dan Supri hanya tertawa terbahak bahak. Aku meronta tanpa daya ketika ia menyergap tubuhku, kedua pahaku diangkatnya sampai aku sedikit lebih tinggi darinya, kemudian penisnya yang ternyata amat kaku itu tak perlu ia bimbing untuk menembus liang vaginaku. Baru masuk sedikit saja, aku sudah menggeliat kesakitan, namun aku tak bisa kemana mana, tubuhku ditahan oleh Umar yang ada di belakangku. “Nhggggh… oooohh… am…puuuun….paaaak..”, aku melenguh dan mengerang kesakitan saat penis itu sudah menancap setengahnya. Supri hanya menertawakan dan melecehkanku, tiba tiba aku terbelalak, kurasakan anusku tertempel sesuatu, kiranya penis Umar yang juga sudah siap membobol anusku. Tak ada yang bisa kulakukan, memohon supaya Umar tak meneruskan niatnya adalah hal yang sia sia. Aku langsung lemas, pasrah bersiap menerima semua penderitaan yang akan menderaku.
“heeeengggghh… aduuuuuh… sakiiiit…”, aku merintih. Umar berbisik menjijikan di telingaku, “Non Eliza, tenang saja. Senjataku sudah aku beri pelumas. Tadinya buat non Jenny, tapi sekarang buat non Eliza saja. Kan non Eliza jadi mainan baru kami sekarang Tapi nanti non Eliza pasti nagih lho”. Ingin aku menamparnya, kurang ajar betul kata katanya tadi barusan, tapi tak ada keberanian untuk melakukan itu. Tak tahu penis Umar ini seperti apa, yang jelas tubuhku rasanya dirobek jadi dua bagian ketika penis penis itu semakin dalam melesak dalam vagina dan anusku. Dengan beberapa kali hentakan, akhirnya kedua penis itu menancap sempurna, mereka mengerang karena penis mereka terrjepit kedua liangku yang masih sangat sempit ini. Sedangkan aku melolong kesakitan, tapi tak ada rontaan. Aku belum gila untuk melakukan itu, selagi vagina dan anusku terasa sangat penuh seperti akan robek. Rasa sakit yang menghantam selangkanganku ini benar benar menyiksaku. Apalagi ketika Supri mulai menggerakkan penisnya sedikit, sedikit dan akhirnya mulai memompaku. Aku menggeleng gelengkan kepala kuat kuat, rasanya ingin pingsan saja. Di tengah penderitaan ini, samar samar kudengar Jenny kembali memohon pada mereka untuk menghentikan semua ini, yang dijawab mereka dengan penuh pelecehan, “Non Jenny kalau iri, biar kami bertiga yang memuaskan non sekarang”. Jenny terdiam, dan aku bisa melihat Jenny tak bereaksi sama sekali ketika tiga orang yang menahannya itu mulai mengerubutinya. Jenny terus melihatku dengan tatapan iba, membuat aku jadi terharu, air mataku mengalir pelan di pipiku. Ia masih memikirkan nasibku selagi dirinya juga bernasib tak kalah buruk dibanding diriku. “Lhoo, amoy kita menangis nih”, ejek Supri. “Masih sakit ya? Kontolku dan ****** Umar kegedean ya buat memek Non? Sudah tak perawan kok masih seret gini Non? Kapan kehilangan tuh perawan? Masih baru ya?”, Supri terus menghinaku. Aku membuang muka, tak sudi memperlihatkan wajahku pada buruh bejat ini.
Aku berusaha bertahan dari rasa sakit yang luar biasa di vaginaku, dan aku sudah berada dalam keadaan antara setengah sadar dan tidak. Tiba tiba Umar menggantikan Supri memegang pahaku, hingga payudaraku sementara bebas dari remasan dan pelintiran tangan jahil Umar. Supri kemudian mengarahkan wajahku ke hadapannya dengan kasar, karena sejak tadi aku selalu membuang muka, membuat keinginan Supri untuk melumat bibirku sejak tadi tak pernah berhasil. Aku memejamkan mata, berusaha tak melihat wajah amburadul dari orang yang kini melumat bibirku dengan ganas. Cairan cinta di vaginaku bertambah banyak, seolah mengerti kalau harus melumasi vaginaku yang sedang dipompa sebuah penis besar. Entah kenapa, rasa sakit di anusku mulai berkurang, padahal aku tak merasa genjotan itu berkurang, malah mungkin makin gencar. Mungkin anusku sudah mulai bisa beradaptasi menerima sodokan sodokan penis yang tadinya begitu menyiksaku. Aku tak bisa bernafas ketika lumatan pada bibirku itu semakin ganas. Tanganku yang sejak tadi terjuntai lemas menunjukkan kepasrahanku, kini kupakai mendorong mukanya, dan kupukul pukulkan tanganku pada bahunya. Hampir saja aku kehabisan nafas ketika akhirnya ia melepaskan pagutannya pada bibirku, aku langsung menghirup udara sebisanya. Dengan nafas tersengal sengal, aku bersandar pada bahu Umar yang ada di belakangku. Lemas sekali rasanya dipermainkan dua begundal. Seiring dengan lenyapnya rasa sakit di vaginaku dan juga anusku, aku mulai bisa merasakan nikmat dari pompaan penis penis itu di selangkanganku.
Perlahan, gairahku kembali naik, nafasku mulai memburu. Jantungku kembali berdetak lebih kencang, bahkan kini aku sudah tak mendapatkan masalah ketika tubuhku sedikit menggeliat keenakan. Benar benar aneh, rasa sakit itu memang masih ada, tapi sudah hampir hilang. Kini yang mendominasiku adalah rasa nikmat akibat teraduk aduknya vagina dan anusku oleh penis penis yang besar ini. Tanpa sadar aku mulai melenguh. Aku tak tahu kalau hal ini membuat Jenny takjub melihat ketahanan tubuhku, karena ternyata dulu ia sampai pingsan pingsan saat pertama kali diperkosa oleh para buruhnya ini, yang nanti akan ia ceritakan padaku setelah pembantaian ini selesai. Aku mulai merasakan nikmat dari sodokan demi sodokan pada kedua liangku ini. “Ngghhh… ohhh…. Oooh…aduuuh… auuh… nggghhh”, aku melenguh dan melenguh, akhirnya tubuhku mengejang hebat. Aku orgasme dalam sandwich-an Supri dan Umar di udara. Kakiku melejang lejang, tubuhku menggeliat dan tersentak sentak sampai tertekuk tekuk ke belakang, urat leherku rasanya menegang, sungguh nikmat yang luar biasa, walaupun ini bukan multi orgasme. Cairan cintaku membanjir dan semakin melumasi penis Supri yang jadi semakin lancar menerjang dan memompa vaginaku. Aku tak tahu sudah berapa lama berada dalam dekapan kedua orang ini, tiba tiba Umar menggeram dan meracau “Oh… nooon.. Elii..zaaa.. enaaknyaaa.. “, penisnya berkedut kedut, lalu menyemprotkan sperma dalam liang anusku. Tak terlalu banyak, tapi terasa begitu hangat dan nyaman, seolah menghapus rasa sakit yang sempat mendera anusku dengan kejam.
Penis Umar memang mengecil dan terus mengecil, tapi sampai semenit aku dipompa oleh Supri yang kelihatannya juga akan orgasme, penis Umar belum juga lepas dari anusku. Rasanya penis itu masih lebih panjang dari penis pak Edy wali kelasku, bahkan dalam keadaan begini pun masih lebih keras. Aku jadi semakin yakin, pak Edy itu mengalami gangguan ereksi. Tak salah jika waktu itu Girno cs mentertawakan pak Edy. Tiba tiba penis Supri berkedut membuyarkan lamunanku, membuat aku memeluk lehernya. Ia akan orgasme, takutnya menjadi lemas dan aku bisa terjatuh jika Umar melepaskanku. Reflek kakiku juga kulingkarkan pada pinggangnya, hingga pegangan Umar pada pahaku terlepas, juga penisnya yang semakin kecil tertarik lepas dari anusku yang langsung terasa lebih lega. Supri menggeram, penisnya yang tertanam makin dalam pada liang vaginaku membuatnya tak tahan lagi, dan menyemprotkan spermanya dengan gencar. Tangannya mendekap pinggangku erat, membuat aku kembali merasa kesakitan, untungnya hanya sebentar. Supri melepaskan penisnya, dan mendudukkan aku di ranjang, di sebelah ranjang tempat Jenny dikerubuti 3 orang buruh tadi. Aku memegangi vaginaku yang tadi serasa dirobek robek, kulihat memang sedikit memar. Tapi lama lama sakitnya tak begitu terasa lagi, kini aku mengistirahatkan tubuhku di ranjang itu, aku tiduran sejenak untuk mengatur nafasku. Jangan tanya keringatku, begitu basahnya tubuhku bahkan sampai rambutku basah kuyup seperti baru keramas saja.
Jam sudah menunjuk pukul 17:00. Ini berarti sekitar setengah jam aku digenjot habis habisan oleh 2 raksasa tadi. Hari sudah sore, sinar matahari mulai redup. Tapi semangat para buruh yang bahagia ini masih menyala nyala. Kulihat Jenny sudah larut juga dalam keroyokan 3 buruhnya, mereka mempermainkan Jenny yang terus mengejang sampai akhirnya orgasme. Tubuh Jenny mengejang sexy dan ia melenguh lenguh, “Hnnnggghh.. aaaa… duuuuh… ooohhh..”. Ternyata Jenny mirip juga denganku kalau lagi orgasme, kakinya juga melejang lejang, tubuhnya sedikit tersentak sentak. Kini, si Boneng yang akhirnya kuketahuhi bernama Satrio, mengambil posisi di selangkangan Jenny, bersiap untuk melakukan penetrasi ke anak majikannya. Sementara dua buruh yang lain, meninggalkan Jenny dan mendekatiku. Oh.. ternyata mereka berdua menginginkan aku. Aku hanya bisa pasrah saat si tengkorak hidup yang ternyata bernama Rahman, sudah memposisikan dirinya di selangkanganku. Kuperhatikan penisnya yang kurus itu, panjangnya sekitar 15 cm dan tak terlihat menakutkan bagiku. Lenguhan Jenny kembali terdengar, rupanya Satrio sudah mulai menggenjot tubuhnya. Jenny terlihat amat menggairahkan dengan tubuh yang mulai mengkilap karena berkeringat, sesekali tubuh Jenny yang mungil itu tersentak kecil, saat penis Satrio menghunjam dalalam dalam hingga terbenam seluruhnya di vagina Jenny. Erangan sexy itu pasti memacu gairah lelaki manapun, sementara Jenny memandangku dengan sorot matanya redup dan sayu, menunjukkan kalau dia sedang larut dalam birahi.
Aku tak bisa lama lama melihat keadaan Jenny, karena si buntalan lemak yang ternyata bernama Harto itu, dengan bibirnya yang sumbing, sudah menubruk tubuh mungilku yang telentang di ranjang, dan dengan bernafsu sekali memagut bibirku dengan bibirnya yang sumbing itu. Oh.. aku ingin menjerit dan melarikan diri menghindar dari makhluk yang sangat menjijikan ini, tapi kakiku sudah direntangkan oleh Rahman, dan aku tak bisa berbuat apa apa ketika selagi Rahman melesakkan penisnya ke dalam vaginaku, Harto terus melumat bibirku dan melesakkan lidahnya mencari lidahku, hingga air liurnya yang bau, dan celakanya banyak itu, mengalir cukup deras ke dalam mulutku. Aku gelagapan, daripada tersedak aku terpaksa menelan air liur itu. Rasanya itu.. tak perlu aku bahas lagi, menjijikkan tak karuan, membuatku ingin muntah. Tangan kananku terjepit perut gendut Harto hingga tak bisa bergerak, sementara tangan kirinya menahan kepalaku hingga aku tak mampu menggerakkan dan menolehkan kepalaku untuk menghindar dari terkamannya. Dan ketika ia melihat tangan kiriku yang menggapai gapai seolah sedang mencari pegangan, dengan kejam pergelangan tanganku yang mungil ini dicengkramnya dan ditahan kuat di atas kasur. Kini aku sudah tak berdaya dan hanya bisa pasrah, tapi herannya malah membuat aku merasakan sensasi yang membuat jantungku berdegup kencang. Perasaan tak berdaya ini membuat aku tanpa sadar menyerahkan diri sepenuhnya.
Aku memejamkan mata, perlahan berusaha menikmati pagutan pada bibirku, karena bagiku merasa diperkosa adalah hal yang tidak menyenangkan. Daripada aku merasa tersiksa, aku merasa lebih baik jika membiasakan diri dan menerima semua ini dengan rela. Lidahku mulai kutautkan pada lidah si sumbing ini. aku sempat melihat dari ekor mataku, Rahman melongo melihat apa yang terjadi di depan matanya, dan lemparan sebuah kotak plastik kecil tempat menaruh kantung plastic untuk bungkusan sandal yang mengenai kepalanya seolah membuatnya tersadar, dan menoleh ke arah pelemparnya. Umar tertawa ngakak, dan Rahman marah marah. “Enak enak liat amoy, kepala kena ginian”, omelnya sambil memegang kotak plastik itu, lalu membuang ke lantai dengan kesal. Kemudian Rahman memulai aktivitasnya kembali. Kedua kakiku diangkatnya dan ditumpangkan ke pundaknya, dengan ini sodokan penisnya akan terasa makin dalam. Rahman segera memompa penisnya, mungkin rasa kesal akibat ulah Umar tadi membuatnya menyodokkan penisnya dengan gencar. Penis yang kecil itu mengaduk vaginaku yang penuh cairan cinta bercampur sperma Supri, menimbulkan bunyi kecipak yang semakin menambah gairahku dan aku sudah bisa balas memagut bibir si sumbing ini yang tadinya amat menjijikan bagiku. Harto seakan tak puas puasnya melolohi aku dengan air liurnya, sementara aku harus menelan semuanya jika tak ingin mulutku penuh dengan air liur, apalagi sampai tumpah keluar dari mulutku, akan lebih menyusahkanku. Sementara aku hanya bisa sedikit menggerakkan pinggulku mencari kenikmatan lebih pada vaginaku yang sedang diaduk aduk oleh penis yang kecil milik Rahman ini.
Akhirnya si sumbing puas juga menciumiku. Ia duduk diam sejenak mengatur nafasnya yang tersengal sengal, perutnya terlihat naik turun mengikuti tarikan nafasnya, benar benar membuatku kembali merasa jijik. Setelah beberapa saat, Harto menaiki tubuhku, dan menindih payudaraku. Ya ampun, gajah bengkak ini tak sadar apa kalau tubuhnya berat sekali? Nafasku sampai mulai sesak, payudaraku tergencet sampai serasa gepeng. Ia menyodorkan penisnya yang sdah ereksi kencang ke wajahku, untuk dioral tentunya. Tapi ukurannya ini membuat ketawaku hampir meledak. Kecil sekali, cuma 12 cm. mungkin sekecil punya pak Edy, wali kelasku yang bejat itu. Benar benar tak sesuai dengan tubuhnya yang besar, Dengan menahan tawa, aku mulai mengoral penis mini ini. Sementara itu, selangkanganku terasa makin nikmat dipompa oleh penis Rahman yang memang tak terlalu besar ini, tapi cukup untuk membuat aku sedikit melayang, apalagi dadaku terasa dihimpit oleh pantat si gendut sumbing ini, yang awalnya mendatangkan rasa sesak, tapi lama kelamaan terasa sedikit nikmat. Rasa sakit kadang menjalar dari anusku yang tadi dihajar penis Umar, sedikit mengganggu memang, tapi malah mendatangkan sensasi tersendiri bagiku. Tanganku mencengkram sprei tanda aku sedang dilanda kenikmatan yang semakin memuncak. Akhirnya aku orgasme, tubuhku mengejang, namun tak ada sentakan sama sekali. Tubuhku yang mungil ini tak bisa bergerak dihimpit gajah bengkak yang duduk di payudaraku, sementara kakiku yang tertahan di pundak Rahman hanya bisa melejang kecil. Cairan cintaku dan keringatku yang terus keluar sudah tak bisa membuat tubuhku terlihat lebih basah. Vaginaku rasanya berdenyut denyut nikmat, membuat Rahman meracau “Ooooh… memeknya amoy.. memang nikmaaaat”. Tubuhnya bergetar, ia menggeram dan meledakkan spermanya yang cukup banyak ke dalam vaginaku.
Aku yang sudah larut sepenuhnya dalam birahi ini seakan lepas control. Ketika Rahman menarik lepas penisnya dari liang vaginaku dan berjalan di samping ranjang tempat aku dilanda kenikmatan ini, aku menjangkau tangannya dan menarik ke arahku. Kulumanku pada penis si Gendut kulepas, dan aku memandang Rahman dengan tatapan sayu, menariknya semakin dekat hingga ia terpaksa naik ke ranjang dengan bertanya tanya. Pertanyaannya kujawab dengan memegang penisnya yang masih belepotan sperma dan cairan cintaku, menariknya ke arah mulutku. “Oalah non… kalau doyan peju, bilang saja terus terang. Nih silakan menikmati pejuku”, kata Rahman melecehkanku, tapi aku sudah tak perduli lagi, atau lebih tepatnya aku merasa tak bisa menahan hasrat untuk mengulum penis yang basah itu. Kukulum dan kusedot dengan kuat, membuat Rahman mengerang keenakan. Setelah mencuci penis itu di dalam mulutku, aku melepaskan kulumanku, dan segera mengulum punya Harto dengan penuh gairah. Harto tertawa dan berkata, “Amoy kita yang satu ini doyan peju. Kalo gitu aku akan memberinya peju yang banyak. Oralin aku sampai keluar ya amoyku sayang”. Aku tak menanggapi kata kata yang merendahkan dan menghinaku itu, dan terus mengulum penis yang kecil ini. Kujilati memutar, dan kugigit kecil, kukulum kembali dan kusedot kuat kuat, membuat Harto mengerang keenakan, sampai akhirnya penis ini juga berkedut, menyemprotkan sperma yang kental sekali, paling kental dari yang pernah kurasakan di mulutku selama ini. Rasanya tak terlalu gurih, cukup asin juga terasa agak asam. Aku terus melumat dan menjilati penis itu sampai bersih dari sperma, dan si gendut ini turun dari tubuhku dengan puas, lalu berjalan ke arah Supri dan Umar, dan duduk di dekat mereka berdua.
Aku yang masih tersengal sengal, kembali memperhatikan Jenny yang masih digarap Satrio yang menggenjot Jenny dengan kasar, tapi terlihat Jenny sudah di ambang orgasme, nafasnya mendengus dengus mengikuti irama pompa-an pada vaginanya. Kedua payudaranya diremas oleh Satrio, dan terlihat Jenny menggeleng gelengkan kepalanya kuat kuat seolah tak kuasa menahan nikmat yang menerjang tubuhnya. Akhirnya, Jenny orgasme hebat, ia melenguh lenguh keenakan “Hnnnggggghhhh… a… aaaah… aduuuuuh….”. Tubuhnya tersentak sentak beberapa detik, sementara kakinya yang tertumpang di pundak Satrio melejang lejang. Jenny sedang dalam puncak kenikmatannya, dan tubuhnya yang putih mulus dan indah itu melengkung hingga pinggangnya terangkat sexy, kepalanya tengadah ke belakang. Satrio yang terlihat begitu menikmati tubuh anak majikannya yang tadi sempat menghantamnya, tiba tiba menggeram tanda akan orgasme. Tubuhnya bergetar getar dan Satrio juga melenguh “uunnngggghhh… oooooh…”, gerakan pinggulnya menunjukkan Satrio sedang menyemprotkan spermanya di dalam vagina Jenny, yang sudah tergeletak tanpa daya, terlihat kelelahan setelah orgasmenya yang hebat tadi. Satrio menarik penisnya dari vagina Jenny, dan menyodorkan penis yang belepotan sperma yang bercampur cairan cinta anak majikannya untuk dioral anak majikannya itu sendiri. Jenny pasrah saja dan membuka mulutnya yang mungil, lalu mulai mengoral penis itu, mengulum dan menyedot seperti yang kulakukan sampai pipinya kempot. Selagi aku asik menonton, tiba tiba kurasakan kakiku direntangkan, yang ternyata oleh Umar.
Aku bergidik mengingat ia tadi menyodomiku, tapi saat kulihat penisnya, ternyata bersih. Umar yang kelihatannya menyadari kekuatiranku berkata, “Tenang non amoy yang cantik, sudah kucuci bersih kok. Kami memang tak suka mengotori memek selain ngecret di dalam. Sudah, nikmati saja non”. Ia terus merentangkan kakiku, dan mengambil posisi di selangkanganku. Aku dapat melihat penisnya, memang seperti dugaanku, mirip sekali dengan penis Supri. Bahkan ini juga menekuk ke atas. Aku terdiam dalam kengerian, mengingat rasa sakit saat selangkanganku dihajar penis ini. Jam dinding menunjuk pukul 17:30, ketika kurasakan penis itu mulai menyeruak ke dalam liang vaginaku. Tubuhku mengejang dan bergetar ketika rasa sakit mulai mendera selangkanganku lagi. Aku merintih perlahan, memejamkan mataku kuat kuat, namun akhirnya terbeliak ketika dengan hentakan yang keras penis Umar menghunjam seluruhnya dalam vaginaku. “ooooonnggghhh… aaaaaaghh…” aku melolong kesakitan. Vaginaku sudah tidak semekar tadi, apalagi yang terakhir menggenjotku adalah Rahman, yang penisnya kurus. Aku berusaha menahan sakit ini, berharap vaginaku segera beradaptasi terhadap tusukan penis raksasa ini. Sementara aku menggigit bibir menahan sakit, aku mendengar Jenny melenguh. Aku sempat menoleh dan melihat, ternyata Supri sudah menggenjot Jenny yang terus menggeliat, sepertinya kesakitan. Namun kulihat kali ini, Supri berlaku lembut. Kemudian ia membenamkan penisnya dalam dalam, aku bisa merasakan betapa sesak rasanya vagina Jenny sekarang.
Supri berkata pada Jenny, “Non Jenny, aku minta maaf ya, tadi sudah menodong non pakai pisau. Abisnya non jadi galak gitu, pakai main hantam. Kalau tidak segera aku hentikan, ntar yang kena hantam non terus terusan kan bisa balas nyiksa non. Daripada terjadi hal yang gak enak gitu, dan aku sudah ingatkan Satrio tadi supaya gak macam macam. Kami juga berpendapat, non Eliza ini harus digarap sekalian, supaya tak melapor ke siapapun. Maaf ya non Eliza, kalau tadi kata kata kami kasar. Habis, non Eliza memang cantik sih, nggak kalah sama non Jenny. Sejak liat non bulan Agustus lalu, kami semua sudah ingin mencoba servisnya non Eliza. Akhirnya hari ini kesampaian deh. Ya sudah, kita nikmati saja pesta sex ini ya”. Ia mulai menggenjot Jenny dengan lembut, membuat Jenny cepat beradaptasi dan mulai melenguh keenakan. Aku sempat berpikir, kurang ajar memang mereka semua ini, memangnya kalau lihat amoy cantik, lalu harus memaksa untuk menservis mereka? Apakah aku yang salah jika aku ditakdirkan mendapat karunia wajah yang cantik serta tubuh yang indah? “pak Satrio, tadi itu, maafkan Jenny ya, soalnya Jenny tidak ingin melihat teman Jenny diginikan juga. Terima kasih ya untuk tidak membalas menyakitiku tadi”, kata Jenny, membuat aku tertegun. Tapi aku tak dibiarkan Umar untuk melamun lama lama, genjotannya yang kini juga menjadi lebih lembut, membuat aku juga mulai merasa nikmat, dan sodokan penis raksasa ini membuat aku mengejang menahan nikmat.
Orgasme demi orgasme terus melanda kami berdua, membuat aku dan Jenny sudah setengah sadar dengan tubuh yang terkocok kocok dihentak hentakkan penis pejantan yang terasa memenuhi seluruh tubuh kami. Ya, kami serasa menjadi betina yang diperbudak para pejantan di tempat kerja mereka ini. Tiba tiba, entah apakah ini sudah mereka rencanakan, bersamaan Supri dan Umar mengangkat tubuh amoy yang sedang menikmati orgasmenya, memeluk erat hingga kami berdua terangkat bangun dan terpaksa melingkarkan kaki kami ke pinggang pejantan kami. Tangan kami menggelayut ke leher mereka, dan dalam posisi ini kami kembali digenjot, kali ini lebih gencar. Dengan cepat aku dan Jenny meliuk liuk dan melenguh lenguh bersahut sahutan. Orgasme mendera kami yang berada dalam pelukan pejantan kami, terasa begitu nikmat. Kini aku dan Jenny sudah amat lemas, dengan pasrah menunggu keluarnya sperma pejantan kami dalam liang vagina kami yang sudah tak karuan ini, becek dan sedikit memar. Beberapa saat kemudian, aku merasakan penis Umar berkedut, dan di dalam posisi ini, spermanya menyembur ke dalam liang vaginaku. Ia terlihat kelelahan juga, dan mengangkatku sedikt hingga penisku terlepas dari vaginanya, kemudian menurunkan aku ke ranjang. Aku disuruh mengoral penisnya sampai bersih, dan kulakukan tanpa bantahan sama sekali. Sementara aku membersihkan penis si Umar, Supri menggeram dan dengan suara parau ia bertanya pada Jenny, “Non Jenny… di dalam… atau di mulut…”, yang dijawab oleh Jenny dengan suara yang mendesah sexy “di dalam sajaah… Supp”. Maka terlihat Supri mengejang dan gerakan pada selangkangan mereka yang menyatu meninjukkan betapa mereka berdua sedang dilanda kenikmatan yang amat sangat. Aku melihat campuran sperma dan cairan cinta yang mengalir keluar saat penis Supri makin mengecil.
Maka selesailah penderitaan kami hari ini, mereka mempersilakan kami kembali ke ruang dalam, sementara mereka beristirahat sesaat, lalu meneruskan pekerjaan mereka yang tertunda. Aku dan Jenny berjalan masuk ke dalam dengan langkah yang tertatih tatih. Kami berdua sempat diam beberapa saat setelah berada di kamarnya Jenny, dan tiba tiba Jenny melihatku sambil menangis. “El, kalau kamu mau memusuhi aku setelah ini, aku juga tak bisa apa apa El. Aku hanya bisa berharap, kamu mau memaafkan aku ya”, kata Jenny diselingi isak tangisnya. Aku terharu dan memeluk sahabatku ini dengan iba, tanpa menyadari kami masih bugil sama sekali. Kedua puting susu kami sempat bersentuhan, dan harus aku akui rasanya nikmat juga, tapi aku tahu kami tak boleh macam macam. Aku memadamkan gairah yang sempat melandaku, dan berkata pada Jenny, “Jeen, ini bukan salah kamu. Memang aku yang salah, sudah kamu beritahu untuk duduk di kamar, malah cari cari kamu. Malahan, ini adalah salahku juga, sampai kamu ditodong pisau tadi. Terima kasih Jen, kamu benar benar mati matian membelaku tadi, aku tak tahu harus berkata apa Jen.. tapi.. terima kasih ya. Juga, kita harus tabah ya Jen”. Aku merangkul Jenny yang makin tersedu sedu, dan setelah kami agak tenang, kami memutuskan untuk mandi bareng di bathub kamar mandi. Jam menunjukkan pukul 18:00, kami punya waktu sekitar setengah jam untuk mandi. Cukup lah, maka kami segera memasukkan busa ke bathub yang tadi sudah terisi penuh. Setelah itu kami berdua masuk ke bathub bersama sama.
Sudah tak ada rasa canggung di antara kami, toh kami tadi sudah bugil bersama saat dibantai di ruang belakang. Aku merasakan hubungan kami berdua sekarang semakin dekat. Aku dan Jenny saling membilas tubuh kami, sambil aku mendengarkan Jenny curhat tentang bagaimana ia bisa jatuh ke tangan para buruh di rumahnya ini. Waktu di tengah liburan kenaikan kelas 1 ke kelas 2 di bulan Juli kemarin, Jenny dan Alex, mantan pacarnya, sedang di rumah ini sendirian, kemudian Alex memaksa Jenny untuk awalnya hanya pegang pegang, lama lama meningkat remasan dan ciuman, sampai akhirnya mereka telanjang, dan berhubungan sex. Saat itu si Supri yang mengambil minum di dispenser yang memang agak dekat dengan kamar Jenny, mendengar suara suara desahan dari kamar Jenny. Kesalahan Jenny dan Alex, pintu kamar tidak dikunci. Maka Supri bisa mengintip dan mendapatkan Jenny sedang disetubuhi Alex. Dengan nafsu yang ditahan, Supri masuk dan pura pura muak dengan tingkah laku Alex, lalu mengancam akan melaporkan Alex pada ortu Jenny. Jenny dan Alex ketakutan, dan Alex bersedia melakukan apa saja supaya tak menyusahkan Jenny. Maka Supri berkata, ia tak mau melihat batang hidung lelaki bejat itu lagi di rumah ini. Jenny jengkel sekali, memangnya si Supri ini siapa? Tapi ia memegang kartu truf di sini, jadi Alex yang sebenarnya memang mencintai Jenny, terpaksa mengalah dan tak berani muncul di rumahnya Jenny.
Tentang Jenny sendiri, setelah Alex pulang, maka Supri menunjukkan belangnya. Supri mengancam Jenny kalau sampai berani mengajak pacarnya ke rumah ini lagi, Supri pasti akan melaporkan ke papanya. Dan selain itu, Jenny harus mau melayani Supri jika situasi memang memungkinkan seperti sekarang, yaitu tak ada siapa siapa di rumah selain Jenny dan Supri serta 4 buruh yang lain. Tak berdaya menolak, Jenny yang memang sudah tak perawan terpaksa melayani Supri yang dengan kejam membawa dirinya ke ruang produksi di belakang rumah, di situ ia melayani hasrat para buruhnya ini. pertama kalinya Jenny sempat pingsan berulang kali, dibantai Supri dan Umar yang ukuran penisnya besar sekali. Butuh sampai 2 hari baru Jenny mampu beradaptasi, dan cukup kuat untuk melayani mereka. Jenny sempat berkata padaku, “El.. kamu hebat ya.. bisa tahan digencet Supri dan Umar.. mereka itulah yang membuat aku pingsan pingsan waktu dulu pertama kali menjadi budak seks mereka”. Aku menunduk malu, dapat pujian kok tentang ketahananku saat disetubuhi. Jenny melanjutkan ceritanya, bahwa sejak saat itulah, Jenny menjadi budak seks mereka. Sering Jenny melakukan quicky sex dengan mereka berlima sepulang sekolah. Alex akhirnya putus dengan Jenny, karena tak tahan juga tak boleh ke rumah Jenny lagi. Jenny kembali menangis sedih mengakhiri ceritanya, dan Jenny merasa menyesal sekali harus putus dengan Alex, lelaki pertama dalam hidupnya, yang juga sudah mengambil keperawanannya, walaupun ia rela. Aku memeluknya terharu, ikut menangis bersama Jenny merasakan kesedihan yang dalam dari sahabat baikku ini.
Tiba tiba Jenny bertanya padaku panjang lebar, “El, kok kamu bisa berkata tidak perawan lagi waktu bilang mau melayani mereka semua? Itu tadi hanya akal akalanku kan supaya aku tak terlalu merasa bersalah? Aku tahu El kalau kamu adalah gadis baik baik, yang tak mungkin berbuat macam macam. Kamu baik sekali El, masih mencoba meringankan bebanku di saat kamu sendiri sedang berada dalam masalah.. Terima kasih El, maafkan aku ya”. Aku kembali terharu, aku menggelengkan kepala, dan menceritakan semuanya, dari mulai aku dijebak Girno cs di ruang UKS hingga keperawananku terenggut oleh mereka, kemudian bahkan besoknya di rumahku sendiri aku memulai kehidupan sebagai budak seks dari 2 pembantu dan sopirku. Jenny seperti tak percaya ketika mendengarkan semuanya, lalu memelukku erat, kami kembali saling bertangisan seolah hendak mengatakan kita berdua ini senasib. Dan seiring berakhirnya ceritaku, kami juga sudah selesai mandi. Setelah saling mengeringkan tubuh dan rambut kami, aku dan Jenny berpakaian yang pantas dan nyaman. Aku pinjam baju tidur Jenny yang terbuat dari bahan satin kesukaanku, aku selalu merasa nyaman mengenakan baju yang terbuat dari bahan itu. Jenny memakai baju tidur model baby doll, kami berdua sudah terlihat segar. kami keluar kamar menjumpai ortu Jenny yang sudah pulang, dan kami makan bersama seolah tak terjadi sesuatu, padahal tubuh kami rasanya remuk. Hari yang melelahkan ini membuat aku dan Jenny jadi ingin tidur lebih cepat, mengistirahatkan tubuh kami yang sudah dipakai para buruh ini. Maka selesai makan kami segera menyikat gigi dan masuk ke kamar, tiduran di ranjang yang empuk. Kami mengobrol tentang banyak hal, tanpa menyinggung kejadian buruk yang baru menimpa kami, sampai akhirnya kami tertidur. Entah apa lagi permainan sex yang harus kami alami di kemudian hari, yang jelas kami harus beristirahat sekarang ini.

Tidak ada komentar: