Laman

Senin, 15 Juni 2009

Kisah Eliza 6 : Ci Elvira Instruktur Baletku


“Stanley… jangan jauh jauh dari cie cie”, aku setengah berteriak mengingatkan Stanley yang terus berlari ke arah lain dari tempat duduk kami di kereta api. Aku terpaksa mengejarnya, kuatir kalau ada apa apa dengan sepupu kecilku itu. Keluargaku dan keluarga Suk Sing sudah terlelap ketika tadi Stanley membangunkanku minta ditemani ke toilet.

Ketika selesai, aku masuk ke toilet sebentar untuk mencuci muka, dan waktu aku keluar, aku melihat Stanley berlari ke arah gerbong yang salah dan begitu cepat menghilang dari pandanganku, memaksaku untuk berlari lebih cepat. Seorang pedagang asongan nyaris kutabrak ketika aku berlari memasuki gerbong kelas ekonomi, tempat yang sangat sangat asing bagiku.

“Non.. hati hati, kalo gue jatuh gimana?”, pedagang asongan itu mengingatkanku. “Maaf pak, saya buru buru, mencari sepupu saya”, aku meminta maaf dengan sopan, lalu segera melanjutkan mencari Stanley. Beberapa gerbong kulalui, sampai akhirnya aku tertegun saat menemukan seorang wanita cantik yang ternyata adalah Cie Elvira!

Bukan karena menemukan Cie Elvira duduk di gerbong kelas ekonomi seperti ini yang membuatku tertegun, tapi pandangan Cie Elvira yang dingin menusuk terhadapku, murid kesayangannya di sekolah balet. Cie Elvira benar benar terlihat lain, seolah ini adalah sisi lain dari dirinya yang biasanya lembut dan harusnya menyayangiku seperti adiknya sendiri.

“Cie… Cie Vira juga ke Jakarta?” tanyaku berusaha memecah kekakuan yang tak wajar ini. Tiba tiba aku merasa ada sebuah tangan yang menyusup dari bawah rokku dan meraba selangkanganku. Belum sempat aku menoleh untuk melihat siapa pelaku kekurang ajaran ini, kedua tanganku sudah terentang, kedua pergelangan tanganku yang mungil dicengkeram erat oleh dua orang penumpang yang sudah berdiri dari tempat duduknya.

Ketika kedua payudaraku diremas oleh beberapa tangan, aku mulai meronta panik menyadari keadaanku yang sudah dalam bahaya ini, sambil berusaha meminta tolong. “Cie Vira.. tolong Liza cie…”, aku memohon pertolongan, tentu saja kepada Cie Elvira, satu satunya orang yang kukenal di gerbong ini. Tapi benar benar aneh, ia hanya mematung, sebuah senyuman sinis terukir di wajahnya.

“Kalian buka roknya. Amoy sok cantik ini pasti memakai g-string. Aku sudah tau kalau dia ini amoy penggoda. Wajahnya saja kelihatan kalem dan baik baik seperti malaikat, tapi di sekolah kerjanya ngeseks dengan satpam dan tukang sapu. Paling di rumah juga ngeseks sama sopir dan kacung kacungnya”, kata cie Elvira dengan jahatnya.

“Cie..?”, kata kata cie Vira tadi membuat aku memandangnya pilu tak percaya, tanpa mampu membantah apa apa karena memang begitulah kenyataanya. Yang membuatku heran, darimana Cie Elvira bisa tahu semua itu? Lamunanku terputus ketika Cie Elvira dengan kejam melanjutkan kata katanya, “Lepaskan roknya. Kalau ternyata memang dia pake g-string, kalian langsung gilir dia ramai ramai di gerbong ini, keroyok juga boleh”.

Celaka.. aku tak tahu apakah aku mengenakan g-string atau tidak. Aku sudah akan menjerit, ketika orang yang melorotkan rokku ke bawah berkata, “Teriak saja lo, amoy cantik. Gak usah lu teriak juga kami pasti panggil orang orang di gerbong tetangga, berbagi kesempatan mencicipi tubuh non amoy yang putih mulus ini”. Aku sadar, tak ada gunanya lagi aku berteriak ataupun meronta.

Maka aku hanya pasrah saja ketika mereka semua bersuit mengagumi keindahan selangkanganku yang memang terlapis g-string. Kaus tanpa lengan yang kukenakan ditarik dari berbagai arah hingga robek tercabik cabik. Kini aku hanya tinggal mengenakan bra tipis transparan dan g-string, dan mereka terlihat jelas sudah begitu bernafsu untuk melahap tubuhku ramai ramai.

“Betul kan? Dasar lonte. Dia kegatelan main seks sampai gak bisa bangun lagi, makanya pakai pakaian dalam yang menggoda kaum lelaki. Ya sudah, kalian perkosa saja perek ini habis habisan”, perintah cie Elvira dengan tanpa perasaan. Baru kali ini aku disebut lonte dan perek, dan itu dilakukan oleh orang yang aku kagumi, tanpa sadar aku menitikkan air mata, perasaaanku amat terluka.

Aku sudah tak bisa bereaksi apapun ketika braku yang transparan terbuat bahan yang tak mudah robek itu direnggut paksa hingga tali talinya putus, sementara g-stringku dengan mudah ditarik putus hingga kini aku sudah tersaji polos di tengah kerumunan orang orang dari berbagai kalangan, sebagai budak seks mereka.

Sebuah tikar milik seorang pengemis yang tak terlihat tua, dibeber di lantai gerbong ini, lalu pengemis yang sudah melepas celananya hingga telanjang di bagian bawah itu tidur di tikar itu dengan penis yang sudah mengacung tegak. Beberapa orang memondongku dan mengangkat kedua pahaku ke samping kanan kiri, lalu membimbing tubuhku menindih pengemis itu, dan vaginaku mulai menelan penis yang lumayan besar itu.

“Aduuh… sakiiit…”, aku mengerang, tubuhku menggeliat tapi mereka menekan tubuhku ke bawah hingga penis itu tertelan seluruhnya oleh vaginaku. Rasanya sakit sekali karena selain belum adanya pelumas sedikitpun di liang vaginaku, proses penetrasi ini berlangsung begitu cepat. Kedua payudaraku langsung diremas oleh pengemis itu dengan kasar, hingga aku menggeliat kesakitan.

Aku hanya bisa pasrah, perkosaan masal yang akan meluluh lantakkan tubuh mungilku ini sudah dimulai. Pedagang asongan tadi sudah membuka celananya, lalu menyodorkan ke mulutku. “Isep non amoy. Jangan coba coba menggigit, tahu sendiri akibatnya”, perintahnya penuh ancaman. Aku tahu aku harus menurutinya, daripada ia nanti melukaiku.

Kuhisap penis yang bau itu, mungkin pemiliknya tak mandi berhari hari, membuatku hampir muntah, tapi kutahan sekuatnya. Selagi aku disibukkan 2 penis yang sudah memasuki tubuhku, dua orang mengangkat tanganku, lalu memaksaku menggenggam dan mengocok penis mereka. Aku menuruti semuanya tanpa membantah, walaupun air mataku terus mengalir.

Hatiku amat pedih merasakan penghinaan ini, diperkosa ramai ramai di depan umum. Kurasakan ikat rambutku ditarik hingga rambutku tergerai bebas, tapi rambutku langsung ditarik oleh seseorang dari belakang, rupanya ia menggunakan rambutku untuk melibat penisnya, dan bermasturbasi. Aku benar benar tak berdaya, dijadikan obyek pemuas nafsu seks mereka semua.

“Nikmat ya, Liza? Kamu memang perek bermuka malaikat. Nggak heran banyak cowok yang mengejarmu, tapi mereka nggak tahu kalau kamu itu sebenarnya cewek bispak”, kata cie Elvira sinis ketika aku mulai merintih. Aku menangis tanpa suara mendapatkan hinaan demi hinaan dari cie Elvira yang entah kenapa begitu memusuhiku kali ini. Air mataku mengalir membasahi pipiku.

Penis yang ada di mulutku mulai berkedut, menyemburkan sperma yang kali ini bagiku tak terasa enak, malah memualkan. Tapi aku berusaha menelan semuanya, daripada nanti aku mendapat perlakuan yang lebih kasar oleh mereka. Penis itu kukulum dalam dalam, batang penis yang mulai loyo itu kusedot dan kujilat memutar, membersihkan sperma yang masih tertinggal.

“Ooohhh. non amoy yang doyan peju! Semangat amat menelan pejuku. Kalau begitu kalian semua lebih baik keluarkan peju kalian di dalam mulut non amoy ini. oooh.. enaaak…”, ia mengerang keenakan setelah selesai menghinaku, karena aku yang sudah tak perduli lagi terus menghisap dan mengulum penis itu sampai bersih.

Yang lain tertawa tawa, dan pedangang asongan yang kurang ajar ini memberikan giliran pada yang lain, menggantikan penisnya yang sudah loyo. Kembali mulutku dijejali penis yang rasanya tak karuan, sementara kurasakan leher belakangku basah. Ternyata orang yang bermasturbasi di belakangku dengan menggunakan rambutku sudah ejakulasi, semprotan spermanya entah berapa banyak membasahi rambutku.

Tiba tiba dua penis yang kukocok dengan tangan itu juga berkedut, kemudian menyemprot tanpa terkendali membasahi wajahku. Kedua mataku terkena semprotan itu, hingga mau tak mau aku harus memejamkan mata. Aku sudah tak tahu lagi, apa yang terjadi denganku. Bergantian mereka memuaskan nafsu mereka dengan pelayananku, satu ejakulasi langsung digantikan oleh yang lain.

Wajahku sudah belepotan sperma, sementara rambutku sudah basah seperti keramas dengan sperma juga. Keadaan tubuhku tak lebih baik, entah berapa banyak sperma yang sudah kutelan, dan kurasakan kedua payudaraku juga basah, entah oleh semprotan sperma langsung atau terkena tetesan sperma yang mengalir dari wajahku.

Kurasakan penis dari pengemis yang menggenjot vaginaku dari bawah berkedut, membuatku sadar. Kini aku sedang dalam masa subur, dan aku tak ingat kapan aku terakhir minum obat anti hamilku. Dalam kengerian yang amat sangat, aku meronta berusaha melepaskan diriku sebelum sperma pemerkosaku ini keluar di dalam rahimku.

“Jangaaan… jangan di dalaaaam…. Aku tak mau hamiiil…”, teriakku begitu mulutku terlepas dari penis yang menyumbat erangan maupun suaraku sejak tadi. “Tahan tubuhnya! Jangan biarkan lonte ini melepaskan diri. Biar saja lonte ini hamil, supaya tak terus terusan merusak rumah tangga orang! Ini bayaran untuk ulahmu yang sudah memikat suamiku”, seru cie Elvira dengan jahatnya.

Semua membantu menekan tubuhku hingga penis itu tak mungkin kulepaskan dari vaginaku, dan ketika kurasakan semburan cairan hangat di liang vaginaku, aku menjerit pilu, “Cie Vira jahaaaat… apa salah Lizaaa…. Liza nggak pernah menggoda suami cie Viraaa….”. Tak kuasa menahan gejolak emosi ini, aku pingsan tak ingat apa apa lagi.

Entah berapa lama aku pingsan, sampai aku sadar dan mendapati diriku ada di kamar tidurku, mataku basah oleh air mata. Aku berusaha mengingat ingat, apa saja yang sudah terjadi pada diriku. Perlahan aku mulai sadar, hari ini adalah hari minggu, dan kemarin itu aku pulang jam 8 malam, lalu bercengkrama dengan keluarga. Baru aku mengerti, jadi tadi semua itu adalah mimpi buruk.

Sungguh mimpi yang aneh, makanya aku bingung, sejak kapan aku punya g-string? Juga, sejak kapan aku menggoda suami cie Elviira?? Aku memeriksa vaginaku, dan mendapati vaginaku begitu basahnya oleh cairan cintaku sendiri. Dengan panik aku mengorek vaginaku sendiri untuk memeriksa apakah ada sperma di dalamnya, karena kalau ada kan berarti gawat. Masa aku harus mengandung anak dari para pembantu atau sopirku?

Satu-satunya hal dari mimpiku yang merupakan kenyataan adalah aku sedang dalam masa subur sekarang ini dan aku lupa minum obat anti hamilku. Kalau sampai 2 pembantuku main gila seperti biasanya, membangunkanku dengan cara menyetubuhiku, aku kan bisa hamil? Untungnya aku tak menemukan adanya tanda tanda sperma di dalam liang vaginaku.

Jariku yang basah kukulum sambil menghela nafas lega, aku baru teringat ada kedua ortuku di rumah. Para pembantuku itu tentu saja tak akan berani sembarangan. Sudah sejak kepulanganku dari villa 2 minggu lalu, mereka tak bisa seenaknya minta jatah padaku. Kesempatan mereka mendapat pelayananku hanya saat aku di rumah sepulang dari sekolah, sampai kedua ortuku pulang dari rutinitas sehari hari menjaga toko.

Itu berarti antara jam setengah dua siang sampai jam setengah enam sore. Dan waaktu 4 jam ini bisa berkurang kalau aku sedang les privat bahasa Inggris dengan cie Stefanny di rumah, atau jika aku pulang telat karena mengikuti extra kurikuler bulu tangkis. Tentu saja mereka juga memperhitungkan, kokoku ada di rumah atau tidak, walau kadang mereka melakukan sembunyi sembunyi saat ada kesempatan, biasanya pagi hari di garasi saat aku akan berangkat ke sekolah.

Tapi yang jelas sudah 2 minggu ini aku tidak pernah terbangun dengan vaginaku dalam keadaan tertancap penis penis para pembantu dan sopirku ini. Aku melihat jam, masih jam 5:15 pagi. Karena sudah sekolah pagi, aku terbiasa bangun jam segitu. Maka aku ke kamar mandi yang ada di dalam kamarku ini. Menyikat gigi, mandi sesegar segarnya, dan mencuci muka, membuat batinku lebih tenang setelah mengalami mimpi yang begitu mengerikan tadi.

Aku merapikan rambutku, dan tak lupa minum obat anti hamil sebelum turun ke bawah. Di masa suburku ini, aku merasa obat anti hamil harus kuminum tiap hari, daripada nanti aku kebobolan saat sedang sial. Berjaga jaga lebih baik daripada semuanya sudah terlambat, apalagi tadi aku mimpi buruk seperti itu.

Di bawah, aku menemukan mamaku yang sedang menyiapkan makan pagi di dapur. Aku menyapa mamaku yang tersenyum padaku, dan membantunya sebisaku. Rupanya mamaku memasak sup jagung, kesukaanku. Sambil membantu mamaku aku berpikir tentang aktivitasku hari ini. Pagi ini aku akan ke ******, siangnya entah jalan jalan ke mana menemani Jenny yang ingin membeli kado ulang tahun buat teman sekelasnya waktu kelas 1 dulu, Irene.

“El, di dapur jangan melamun, nanti bisa luka kalau gak hati hati”, mamaku mengingatkanku yang masih melamunkan mimpi itu, membuatku tersadar. “o… e.. iya ma”, kataku. Aku segera menyibukkan diri, hingga sesaat aku bisa melupakan mimpi yang menyeramkan itu. banyak sekali jagung yang aku ambil bijinya, capai juga tanganku melakukannya. Tapi aku terus membantu mamaku dengan tulus. Jam enam pagi, semua sudah selesai, sup jagung kesukaanku sudah terhidang di meja makan.

Senang sekali rasanya, setelah mencuci tanganku sampai bersih, aku lalu ke atas sebentar membangunkan kokoku yang pasti masih mendengkur. Usilku kambuh, aku mengambil gulingnya yang jatuh, lalu memukulkan ke tubuh kokoku yang masih tertidur pulas, hingga kokoku terbangun kaget, dan menggeram “Elizaa.. sudah gila ya, bangunin aku kayak gini?”.

“Ko, nggak siap siap kuliah ya? Sudah jam 6 lebih nih!”, kataku. Kokoku segera meloncat bangun, pergi ke kamar mandi sambil berkata, “wah.. untung koko kamu bangunkan. Thanks me. Tapi awas ya, pukulan dengan guling tadi itu pasti kubalas”, seperti biasa, sok mengancam untuk membalas. Mana tega dia pada adiknya yang cantik ini? pikirku sambil meleletkan lidah.

“Makan pagi sudah siap ko, nanti langsung turun ya”, kataku meninggalkan kokoku ke bawah. “IYA”, seru kokoku yang sudah ada di dalam kamar mandi. Aku tersenyum geli, membayangkan bagaimana jengkelnya nanti kokoku kalau sadar hari ini hari minggu. Aku menyapa papaku yang sudah rapi, kami sempat mengobrol sebentar menunggu kokoku turun untuk makan bersama.

Akhirnya kokoku turun dengan membawa tas kuliahnya, membuatku mati matian menahan tawa. “Minggu pagi gini mau belajar buat UAS di rumah teman ya Heng? Ke ****** dulu ya… masih sempat kan?” tanya papaku. Kokoku melongo, kemudian melihat kalender. Ketika kokoku memandangku dengan gemas, tawaku pun meledak, dan ortu kami yang menyadari bahwa kokoku tertipu olehku juga tertawa.

“Heng.. Heng.. sudah berapa kali masih juga tertipu sama mememu ini. Kamu memang kalah pintar kok sama mememu ya”, ejek mama yang disambung papa, “Masa sudah kuliah kalah canggih sama adikmu yang masih SMA ini?”, membuat tawaku makin meledak. Kokoku hanya bisa diam memandangku dengan gemas dan terlihat menahan senyum kesal, dia pasti tak ingin lebih malu lagi kalau sampai tertawa, karena itu sama saja dengan menertawakan dirinya sendiri.

Kami kemudian makan bersama, dan seperti biasa kami pergi ke ****** pagi pagi. Papa dan mama duduk di belakang, aku di depan dan kokoku yang menyetir. Aku kembali teringat mimpi tadi. Masa iya aku ini pernah menggoda suami cie Elvira? Kami memang pernah bertemu, tapi rasanya kami cuma saling sapa, bahkan aku tak pernah ingat kalau kami pernah terlibat dalam pembicaraan sedikitpun. Ah.. ada ada saja. Mimpi yang aneh sekali.

Aku memutuskan tak memikirkannya lagi, dan menjalani kegiatan hari ini seperti biasa. Setelah pulang dari ******, aku segera menyiapkan apa saja yang diperlukan untuk latihan baletku nanti dan membawa ke mobilku, karena aku pikir akan langsung ke tempat lathihan setelah menemani Jenny mencari kado.

Setelah berpamitan pada papa mama dan kokoku, aku segera turun ke garasi. Di sana, sudah menunggu pak Arifin, Wawan dan Suwito yang membuat jantungku agak berdegup kencang. Tanpa basa basi, mereka bertiga bergantian melumat bibirku dan seperti biasa, Sulikah berjaga kalau kalau keluargaku ada yang sedang menuju garasi.

Aku hanya bisa membalas lumatan mereka, supaya ini semua cepat selesai. Tubuhku digerayangi dan payudaraku diremas remas, kadang vaginaku ditekan tekan oleh jari mereka. Gairahku mulai naik dan aku melenguh pelan, rok yang kukenakan sudah terangkat sampai ke pinggangku, celana dalamku sudah melorot sampai ke paha. Vaginaku yang sudah basah oleh cairan cintaku sendiri dikorek korek oleh mereka.

Beberapa jari tangan mengaduk aduk vaginaku membuat aku dengan cepat sudah orgasme hebat. Kuatir aku melenguh tak terkendali, kupagut salah satu bibir dari mereka yang mengerubutiku ini. Tubuhku mengejang keenakan dan akhirnya lunglai dengan kedua tanganku melingkar di leher pak Arifin di sebelah kiriku dan Suwito di sebelah kananku.

Untungnya mereka tak bermaksud hendak menyetubuhiku, hanya ingin membuatku orgasme habis habisan seperti ini sebelum aku pergi. Aku kehabisan nafas dan tersengal sengal. Mereka memakaikan celana dalamku kembali ke tempat yang benar, barulah mereka membiarkanku, anak majikan mereka yang sudah menjadi budak seks mereka ini, masuk ke mobilku, tentu saja setelah semua mendapat giliran melumat bibirku dan meremasi payudaraku.

Tubuhku rasanya lemas sekali, dan aku masuk ke mobilku, dan duduk sebentar untuk menenangkan diriku yang masih dihantam gelombang orgasme yang dahsyat, sampai akhirnya aku mampu berpikir dengan tenang. Di dalam mobil, aku melihat dari kaca tengah, bajuku awut awutan, rambutku juga kacau karena tadi dibelai dan dimainkan dengan seenaknya oleh mereka, juga dihirup hirup baunya oleh mereka bergantian.

Entahlah, rasanya tiap bagian dari tubuhku ini bagi mereka begitu menggairahkan untuk dinikmati kali ya? Kurapikan rambutku sebentar, juga sekalian bajuku yang kancingnya nyaris terlepas semua ini. Bahkan aku perlu membetulkan posisi bra yang menyangga payudaraku ini, letaknya sudah kacau dan amburadul akibat remasan remasan penuh nafsu tadi oleh mereka.

Dengan kesal bercampur birahi yang tinggi aku menatap mereka bertiga, namun aku tak bisa apa apa selain cepat cepat meninggalkan mereka. Di jalan, aku berusaha untuk berkonsentrasi penuh setelah barusan tadi dirangsang habis habisan sampai orgasme oleh sopirku dan dua pembantuku yang keranjingan itu. Butuh waktu lama sampai gairahku stabil dan menurun.

Sesampainya di rumah Jenny, aku melihat ternyata Jenny sudah menungguku, maka kami segera berpamitan pada kedua orang tua Jenny. “Enaknya cari kado di mana Jen?”, tanyaku pada Jenny, yang setelah beberapa saat berpikir, menjawab, “Ke Tunjungan Plaza aja yah?”. Aku mengangguk dan segera menjalankan mobil ke arah sana. Dalam perjalanan, aku dan Jenny saling bertukar pengalaman pribadi kami selama liburan.

“Jen, gimana kamu selama liburan? Liburan kemana? Apa mereka masih terus melakukan itu?” tanyaku beberapa saat setelah kami mengobrol dan bercanda. Jenny terlihat merenung. “Aku di akhir tahun memang berlibur bersama ortu ke vila kami di Trawas, tapi sebelumnya itu El, setiap ada kesempatan aku harus melayani mereka berlima. Begitu ortuku pergi, aku harus siap diseret ke ruang kerja mereka, melayani mereka sampai mereka semua puas”, kata Jenny sambil sesekali menghela nafas.

“Aku pernah mencoba ikut ortuku pergi, tapi aku mendapat ancaman keras dari mereka. Baiknya, ada 3 orang dari mereka yang pulang kampung, tapi yang tersisa justru Supri dan Umar, ingat kan kamu El gimana ukuran barang mereka berdua itu?”, Jenny menggeleng gelengkan kepalanya dan menghela nafas panjang mengakhiri ceritanya.

“Aduh.. kamu nggak apa apa kan Jen?”, tanyaku kuatir. Dua orang itu, tentu saja aku tahu betul ukuran barangnya. Tapi Jenny hanya mengangkat bahu dan berkata, “gimana ya.. sudah biasa sih, sakit sakit enak gitu. Terus, liburanmu gimana El? Apa kamu juga terus dikerjain sama sopir dan pembantumu itu?”. Aku mengangguk dan menceritakan semua pengalamanku, termasuk insiden dengan penjaga vila yang menghasilkan kenangan baru di villaku itu.

Jenny menggeleng gelengkan kepalanya, “Ya ampun… penjaga vilamu yang tua itu Jen? Memangnya dia masih kuat gituan?”. Aku dengan tersipu malu menjelaskan, “Awalnya sih pak Basyir itu gak seberapa juga ya, tapi.. malam itu dia pakai obat kuat Jen. Jadinya aku ya tak tahan juga, orgasme abis deh dibuatnya. Ada hampir satu setengah jam aku disetubuhinya habis habisan”.

Tentu saja aku tak menceritakan pada Jenny, betapa aku dipermainkan pak Basyir sampai memohon mohon untuk dibuat orgasme, apalagi saat pulang aku malah tidak memakai celana dalam sejak selesai mandi pagi, bersiap memenuhi keinginan pak Basyir untuk menikmati tubuhku sebelum aku balik ke Surabaya.

Jenny lalu berkata, “Kurang ajar banget yah tua bangka itu. Ya udah deh El, jangan ngomongin ini lagi ah. Sebel deh, nasib kita benar benar buruk. Kok kita jadi sama dengan Vera, cewek bispak di sekul kita. Oh iya, nanti sebaiknya beli apa ya buat kado?”. Aku tak punya ide, dan menjawab, “Ya coba nanti kita lihat lihat di sana gimana? Pasti bisa ketemu yang bagus”. Jenny tersenyum dan mengangguk.

“Jen, Vera yang kamu maksud tadi, Vera yang sekarang sekelas dengan kita?”, tanyaku hati hati. “Iya lah El. Aku sudah tau kelakuannya sejak kami sekelas di kelas 1. Vera itu suka pulang bareng om om, dan sudah 5 om yang berbeda yang aku tahu. Tapi.. sudalah.. kini rasanya kita nggak lebih baik deh dari dia”, Jenny menghela nafas panjang dan menunduk, kurasakan kesedihannya yang mendalam, membuatku ikut sedih juga.

Sambil melajukan mobil, aku sempat berpikir tentang Vera. Kebetulan Vera itu satu sekolah balet denganku, tapi aku nggak pernah menyangka Vera seperti itu. Tak terasa kami sudah sampai di Tunjungan Plaza, dan kami segera berburu barang yang tepat buat kado dan kami menemukan barang yang dirasa tepat, yaitu bando. Setelah membeli kertas kado juga, kami menyempatkan makan siang di food court, sambil ngobrol ke sana kemari termasuk menggosip ^^ seperti yang sering kami lakukan.

Jenny membungkus bando itu dengan kertas kado saat kami selesai makan, dan kami sempat berjalan jalan sebentar, ketika berpapasan dengan cie Stefanny. Aku terkejut melihat penampilan cie Stefanny yang tidak seperti biasanya, ia terlihat sexy abis. “Cie? Duh… cie cie.. tumben deh”, sapaku pada guru lesku ini. Cie Stefanny tersenyum manis sekali membalas sapaanku. Aku mengenalkan cie Stefanny pada Jenny yang memandangnya dengan kagum, hari itu memang cie Stefanny begitu modis.

Tubuhnya dibalut sweater putih, dan bajunya hitamnya begitu sexy, memperlihatkan belahan dadanya. Rok hitam ketat yang hanya sampai setengah paha, memperlihatkan paha dan betisnya yang indah. Kacamata yang biasanya dipakai juga diganti softlens yang berwarna kebiruan, membuat cie Stefanny tampak sempurna, beda sekali dengan penampilannya yang selalu biasa biasa saat datang ke rumahku sebagai guru les privatku.

“Jen, ini cie Stefanny, guru les inggrisku yang sering kuceritakan. Cakep kan Jen? Dan ini cie, temenku namanya Jenny”, aku saling memperkenalkan mereka. “Ah kamu itu ada ada saja El. Hai Jenny, namaku Stefanny, guru les Inggris Eliza”, cie Stefanny tersipu saat bersalaman dengan Jenny. “Hai cie Stefanny, aku Jenny, teman sekelas Eliza. Wah cie Stefanny memang cantik abis deh”, kata Jenny. Mendapat pujian Jenny, cie Stefanny makin tersipu.

Kami sempat berbasa basi sebentar, dan cie Stefanny berkata, “Udah dulu ya, cie cie mau pulang dulu”. Aku sempat bertanya, “Nggak sama ko Melvin nih cie?”. Aku sempat merasa senyuman cie Stefanny itu terlihat getir, saat cie Stefanny menjawab, “Nggak, sendirian aja kok. Udah dulu ya, bye bye”. Kami berpisah, dan Jenny berkata padaku, “Wow… guru lesmu keren deh. Aku mau dong les sama dia. Coba besok Senin kamu omongkan ya El, cie Stefanny ada waktu nggak ngelesi aku”.

Aku mengiyakan, “Jen, kamu pasti nggak rugi deh les sama dia. Orangnya pinter kok”. Setelah itu, aku mengantar Jenny ke rumah Sherly. Karena nanti sore aku harus latihan balet, selain itu memang aku nggak kenal sama Irene, jadi Jenny nanti pergi bersama Sherly. Mereka sih sekelas waktu kelas 1. Ternyata rumah Sherly sangat besar, kamarnya juga banyak, ada sekitar 10 kamar di sana.

Kebetulan di dekat situ ada kampus swasta yang cukup terkenal, makanya ortu Sherly menjadikan rumah itu sebagai tempat kost buat mahasiswi yang kuliah di kampus itu. Kami duduk di sofa ruang tengah. Jenny memperkenalkan aku pada Sherly. “El, ini Sherly, bosnya kost kostan ini, hehehe aduh…”, Jenny dipukul oleh Sherly yang memasang muka cemberut.

Tak butuh waktu lama, kami jadi akrab, Sherly ternyata orangnya menyenangkan. Kami membicarakan berbagai hal termasuk tentang sekolah, dan mulai menggosip tentang beberapa hal di sekolah kami. Tiba tiba aku melihat pintu kamar yang ada di arah depanku terbuka. Hah? Ada 2 orang laki laki yang keluar dari kamar itu. Bukannya di sini itu tempat kost buat mahasiswi aja? Tapi, 2 orang tadi itu lebih mirip pembantu deh daripada mahasiswa.

Dan yang membuatku semakin terkejut, tak lama kemudian keluar seorang cewek, kelihatannya seumur dengan cie Stefanny. Rambut panjangnya terlihat kusut, seperti juga bajunya. Sinar matanya yang sayu itu… mirip orang yang baru orgasme habis habisan.

Keringat yang membasahi tubuhnya makin memperkuat dugaanku… “El, kenapa?”, tanya Jenny padaku. Aku agak tergagap, dan berkata pelan pada Jenny, “Jen, aneh ya, masa dari tadi kita di sini, tahu tahu 2 orang pembantu tadi keluar dari kamar tuh cewek. Terus, nggak lama cewek itu juga keluar”.

Jenny melihat ke cewek itu, lalu bertanya pada Sherly, “Iya Sher, tadi kira kira kenapa ya kok dua pembantu itu lama di dalam?”. Sherly mengangkat bahu dan berkata, “Mungkin bantu bantu angkat barang?”. Jenny bertanya lagi, “Dan lagi, cewek itu bajunya kusut abis ya?”.

Sherly terlihat kikuk, dan menjawab, “Oh. Cie cie itu namanya Katherine. Tadi sih cie Katherine bilang agak pusing dan mau tidur siang. Mungkin baru bangun tidur kali ya kusut gitu. Tapi lihat, biar kusut gitu, masih terlihat cantik yah”

Aku dan Jenny saling pandang. Tak bisa kami pungkiri, cie Katherine yang tadi itu memang cantik dan pasti menggairahkan sekali bagi para lelaki. Rambutnya lurus panjang, tubuhnya mungil, ramping ideal, bentuk payudaranya sexy. Ketika melihat kami yang memandanginya, cie Katherine tersenyum pada kami semua, senyumnya begitu manis, hingga kami pun mau tak mau balas tersenyum padanya.

Setelah itu kami sempat ngobrol ke sana kemari, dan tak terasa jam menunjuk pukul 4 sore. Mau pulang juga nanggung, aku memilih langsung menuju ke sekolah baletku. Maksudku nanti di sana aku akan menunggu di mobil atau gimana, daripada pulang ke rumah malah dibikin orgasme oleh para pembantu dan sopirku yang sudah keranjingan itu.

Selain itu, aku merasa lebih baik menghemat bensin kali ya, maka aku pamit pada mereka. “Sherly, Jen, aku mau berangkat dulu ke sekolah balet, have a good time ya”, kataku pada mereka. Sherly dan Jenny mengantarku ke pintu gerbang, dan waktu menuju ke sana aku sempat melihat ada seorang cewek di beranda rumah ini, yang terlihat agak terloncat seperti terkejut.

Kulihat di belakang cewek itu ada seseorang, yang mungkin juga pembantu di rumah ini. Aku melihat cewek itu membalik badan, sepertinya marah pada orang itu, yang hanya cengengesan saja. Aku berpikir, mungkin saja tadi itu orang itu meremas pantat cewek itu, tapi nggak tau juga sih.

Aku merasa tempat ini semakin aneh di mataku, tapi bukan urusanku kali ya. Aku terus berlalu menuju mobilku, dan setelah melambaikan tangan pada Jenny dan Sherly, aku segera melajukan mobilku ke arah sekolah baletku. Sampai di sana, aku parkirkan mobilku, lalu duduk diam sambil menyetel musik. Tiba tiba hp-ku berbunyi, aku lihat nomer HP-nya Jenny.

Aku sudah akan mengangkat HP-ku itu, ketika aku melihat cie Elvira turun dari mobilnya, dan masuk ke dalam sekolah baletku. Cepat amat ya cie Elvira kok sudah datang, sekarang masih jam 4:25 tuh. “Halo? Eliza.. tolong dong liatin, ada gak jam tanganku di mobilmu?”. Aku menoleh ke tempat duduk di sampingku, dan karena tak kutemukan, aku mencari ke jok bawah, dan ketemu.

“Iya Jen, ada di sini. Kok jatuh ke bawah gitu Jen?”, tanyaku. “Iya nih, tadi aku lepas bentar, soalnya keringatan. Ya udah, tolong besok kamu bawain ke sekolah ya El”, kata Jenny. “Iya beres. Udah ya”, kataku. “Iya El.. thanks”, suara Jenny yang riang menutup pembicaraan kami. Pandanganku tertuju pada batagor yang dijual di sebuah rombong.

Senang deh, aku ke sana, membeli sebungkus, dan kembali ke dalam mobil. Aku makan dengan santai, menghabiskan waktu. Selesai makan pun, jam baru menunjuk pukul 16:40. Aku memutuskan untuk masuk ke dalam ruang latihan balet untuk ngobrol dengan cie Elvira yang selalu ramah dan sayang kepadaku sekalian menghapus ingatanku tentang kekejaman cie Elvira di dalam mimpi tadi.

Di dalam, aku mencari cie Elvira yang sudah masuk sejak tadi. Ada suara derit kursi panjang di belakang panggung, dan aku langsung menuju ke sana. Dan jantungku hampir berhenti ketika aku melihat cie Elvira, digenjot oleh pak Agil. Cie Elvira terlihat pasrah, tubuhnya yang telanjang bulat tersentak sentak di atas kursi panjang tempat biasa kami duduk duduk, sedangkan pak Agil hanya mengenakan baju atasan.

Aku bisa melihat jelas, vagina cie Elvira yang mungil diterobos penisnya pak Agil yang kelihatan agak besar dan berurat, dan desahan pelan yang sexy dari cie Elvira sesekali terdengar, membuatku panas dingin melihatnya. Cie Elvira sama sekali tak terlihat diperkosa, bahkan dengan penuh penyerahan cie Elvira melayani setiap tusukan pak Agil dengan sedikit mengangkat pinggulnya.

Oh iya, pak Agil ini, tukang sapu di sekolah baletku ini. Pak Agil ini orangnya agak gemuk, kumisnya tipis dan bibirnya itu.. tebal amat. Umur orang ini kira kira 45 tahun. Aku memang sempat merasa aneh, karena pak Agil suka berlama lama memandangi cie Elvira, dan kini aku melihat dia sedang menggenjot cie Elvira dengan bernafsu, sementara cie Elvira sendiri kelihatannya pasrah saja diperlakukan seperti itu.

Cie Elvira sendiri kini berumur 27 tahun. Tubuhnya langsing ideal, rambutnya agak bergelombang dihighlight kuning membuatnya tampak semakin cantik. Kulitnya putih mulus, seputih kulitku. Payudaranya kencang dan indah. dan kini kulihat cie Elvira melenguh keenakan. “enggghh… aduuuh… aaaah…”, cie Elvira menggelepar hingga derit kursi itu makin keras.

Rupanya cie Elvira sudah orgasme, dan beberapa saat kemudian giliran pak Agil yang orgasme. Ia menggeram dan tubuhnya bergetar, kulihat cairan putih kental menggelayut di penisnya yang ditarik keluar. Saat itulah cie Elvira melihatku, ia begitu terkejut dan gugup. “Eliza..?”, desis cie Elvira.

Pak Agil yang posisinya membelakangiku menoleh menghadapku, tapi pak Agil kelihatan cuek, dan dengan tenang ia memakai celana panjangnya, lalu ia melewatiku yang masih terpaku. Dengan kurang ajar pak Agil meremas payudara kiriku, kasar dan menyakitkan, membuatku tersadar dan mengaduh, “Ah… aduuh… sakit paak!”.

Pak Agil melepas remasannya ketika cie Elvira membentak, “Gil, jangan kurang ajar ya sama Eliza!”. Ia pun berlalu sambil cengengesan. Aku memegangi payudara kiriku yang masih terasa sakit. Cie Elvira membelakangiku, ia membersihkan vaginanya dan mengenakan pakaian dalamnya, lalu berganti baju balet.

Aku merasa canggung, dan memilih masuk ke kamar ganti, lalu berganti pakaian balet di sana. Ketika aku keluar, cie Elvira masih duduk di kursi panjang itu dengan sudah mengenakan kostum baletnya, dan aku tak berani mendekatinya. Aku memilih menunggu di panggung tempat latihan.

Jam menunjuk pukul 4:50, ketika teman temanku satu per satu datang, kebanyakan sudah memakai kostum baletnya, tinggal melepas baju luar saja. Dan latihan pun dimulai seperti biasa, tapi ketika cie Elvira mengajarkan gerakan baru, tentu saja di antara kami ada yang melakukan kesalahan. Dan tak seperti biasanya, kali ini Cie Elvira mudah marah.

Dalam sebuah gerakan yang memang cukup sulit, ia malah agak membentak temanku Vera, yang beberapa kali melakukan kesalahan. Suasana jadi tegang dan tidak enak, kami semua agak gugup menjalani latihan ini. “Sudah, dari tadi kalian salah terus. Lebih baik latihan kita akhiri saja sekarang. Kalian ingat ingat tadi gerakan yang sudah cie cie ajarkan, minggu depan harus lebih baik!”, kata cie Elvira ketus, lalu ia berbalik ke ruang ganti.

Ini masih baru setengah jam, dan kami semua bingung, tapi aku mungkin mengerti kenapa cie Elvira begitu. Aku segera ke dalam, ikut berganti pakaian, dan ketika berpapasan dengan cie Elvira, aku mendekatinya. “Cie Vira mau ikut makan malam sama Eliza?”, tanyaku lembut. Cie Elvira memandangku, dan tak lama ia mengangguk.”Kalau gitu, ke restaurant Halim di Mayjen ya cie?”, tanyaku lagi.

Cie Elvira mengangguk dan menjawab, “Ya, aku tahu tempatnya. Thanks ya, Eliza”. Ia tersenyum manis, membuat aku merasa mimpiku tadi pagi itu begitu konyol, dan memutuskan untuk melupakannya saja. Mobil kami berjalan beriringan, menuju ke tempat yang tadi kami sepakati. Sampai di sana, kami memesan beberapa makanan.

Di tengah suasana yang kaku ini, cie Elvira mendadak minta maaf padaku, “Eliza, sorry ya cie cie nggak bisa ngelindungin kamu tadi. Sakit nggak tadi digituin sama Agil sialan itu?”. Aku jadi tak enak, dan menjawab, “Cie, tadi kan untung ada cie Vira. Kalau cie Vira nggak membentak pak Agil, mungkin dia sudah berbuat lebih jauh terhadap Eliza”. Cie Vira masih menunduk.

Aku mencoba menghiburnya. “Cie Vira, yang tadi itu nggak usah dipikirin, Eliza nggak akan cerita cerita ke siapa siapa kok”. Cie Elvira tersenyum penuh terima kasih padaku, kini ia sudah tidak segalau tadi. “Eliza, cie cie jadi begini, bukan karena tanpa alasan. Kamu mau dengar cerita cie cie?”, tanya cie Elvira padaku. Kontras sekali dengan akhir tahun lalu, waktu itu cie Elvira begitu mesra dengan suaminya.

“Iya cie, cerita aja, mungkin nanti beban cie cie bisa lebih ringan”, aku tersenyum dan bersiap mendengarkan curahan hati cie Elvira.

Cie Elvira menerawang dan mulai bercerita, tentang masa lalunya ketika pacaran dengan ko Johan, mereka adalah pasangan yang amat berbahagia. Tiga tahun lalu, mereka menikah dengan restu kedua orang tua mereka, dan cie Elvira ikut ko Johan yang tinggal bersama ortunya.

Setelah dua tahun menikah dan tak dikaruniai anak, mama mertua cie Elvira mulai uring uringan. Tanpa bukti yang kuat, mamanya ko Johan dengan seenaknya menuduh cie Elvira yang mandul. “Aku sudah periksa, dan hasil tes menunjukkan, aku sama sekali tidak mandul”, kata cie Elvira yang mulai menitikkan air mata. Aku bisa merasakan kepedihannya, tapi aku hanya diam tak tahu harus berkata apa.

Makanan yang kami pesan sudah datang, dan di sela waktu kami makan, cie Elvira meneruskan ceritanya. Ko Johan yang ternyata tipe anak mama, tak pernah sedikitpun membelanya, tak berani mengakui kalau dirinya yang bermasalah, mengidap impotensi ringan, terbukti dari penisnya yang tak begitu keras saat ereksi. Memang ko Johan bisa menyetubuhi cie Elvira, tapi selain penisnya yang lembek tak bisa memuaskan cie Elvira, juga keluarnya amat cepat, di bawah lima menit.

Pernah waktu cairan sperma ko Johan tumpah di perutnya usai bersetubuh di pagi hari, cie Elvira diam diam menaruh cairan itu dalam sebuah tempat dan membawa ke laboratorium siang itu juga Hasilnya ternyata ko Johan yang mandul. Ingin sekali cie Elvira mengatakan yang sebenarnya.

Tapi cie Elvira tak tega menyakiti ko Johan. Jadi ia memikul semua beban itu sendirian. Suatu hari, dalam sebuah pertengkaran mulut, mama mertuanya memaki cie Elvira dengan kejam, “Memang, kamu itu cantik, punya body yang sexy. Tapi apa guna semua itu kalau kamu nggak bisa melahirkan anak buat Johan?”.

Cie Elvira hanya bisa menangis, ia segera meninggalkan mama mertuanya, pergi ke sekolah balet kami, walaupun waktunya masih dua jam lagi. Di sana cie Elvira menangis sejadi jadinya, dan tanpa cie Elvira sadari, pak Agil mendekatinya, dan suara pak Agil mengejutkannya. “Bu Elvira, cakep cakep kok nangis?”, tanya pak Agil. Cie Elvira langsung menyusuti air matanya dengan tissue, lalu mengambil sebatang rokok dari tas.

Cie Elvira minta api pada pak Agil, yang segera mengeluarkan korek api dari sakunya, dan menyalakannya buat cie Elvira. Dengan cuek, cie Elvira merokok, diikuti pak Agil yang juga merokok. Mereka mulai terlibat obrolan ringan, sampai kemudian ketika rokok mereka sudah habis, pak Agil mengulangi pertanyaannya tadi, “Bu Elvira, tadi kenapa menangis?”.

Cie Elvira cuma diam, merasa tak ada perlunya orang macam pak Agil ini tahu urusan rumah tangganya. Tiba tiba cie Elvira terkejut ketika pak Agil membelai rambutnya, dan belum sempat cie Elvira berbuat sesuatu, pak Agil sudah mendekap tubuh cie Elvira, dan bibirnya dipagut dengan ganas. Diperlakukan seperti itu tanpa disangka sangkanya, cie Elvira hanya bisa pasrah.

Pak Agil semakin berani, satu per satu pakaian cie Elvira dilucuti, kemudian setelah melepas pakaiannya sendiri ia membaringkan cie Elvira di bangku panjang itu, dan mulai menyetubuhi cie Elvira yang tak memberikan perlawanan atau pemberontakan sedikitpun.

Cie Elvira yang sudah hanyut, merasa tak ada perlunya mempertahankan nilai kesetiaan, karena selama ini ia diperlakukan tidak adil. Cie Elvira masih mencintai ko Johan, tapi tusukan penis pak Agil yang begitu keras dibandingkan milik ko Johan, membuat cie Elvira merasa melayang dan larut dalam persetubuhan itu, tak kuasa menolak kenikmatan yang didapat dari pak Agil.

Kali pertama, cie Elviira meminta pak Agil mengeluarkan spermanya di luar. Setelah itu, setiap mengajar balet cie Elvira datang lebih pagi untuk menghindari stress akibat bertengkar dengan mama mertua. Tapi cie Elvira tahu pak Agil akan meminta jatah lagi, maka ia mulai rutin minum obat anti hamil, dan memang, pak Agil tanpa malu malu terus terusan meminta jatahnya, dan cie Elvira setengah terpaksa menurutinya.

“Begitulah, Eliza. Tiap cie cie ke sana, cie cie melayani pak Agil lebih dulu sebelum mengajar. Kamu boleh anggap cie cie murahan atau yang sejenisnya, tapi cie cie sudah tak ada jalan lain. Rasanya stress di rumah tiap hari bertengkar mulut dengan mama mertua, sementara suami tak bisa melindungi cie cie, hanya bisa diam melihat cie cie dibentak bentak mamanya”, kata cie Elvira pilu dan menunduk sedih.

“Cie, aduh… Liza ikut sedih cie. Semoga cie cie tabah ya..”, kataku yang tak tahu harus bagaimana menghibur cie Elvira. Ia memandangku dan tersenyum pahit, “Eliza, terima kasih ya. Kamu memang baik, semoga nasibmu kelak lebih baik dari cie cie”. Aku hanya bisa menunduk, merenungi nasibku yang sekarang ini sebenarnya tak lebih baik dari cie Elvira.

Tak terasa kami sudah selesai makan, dan aku memaksa cie Elvira supaya kali ini aku yang traktir. Setelah itu, kami saling berpamitan dan pulang ke rumah masing masing. Sampai rumah, sekitar jam 8 malam, aku tidak mendapati mobil kedua orang tuaku, juga mobil kokoku yang kata Sulikah pergi ke rumah temannya.

Aduh.. habis deh. Pak Arifin, Wawan dan Suwito langsung menarikku ke kamar mereka, dan aku segera jadi bulan bulanan mereka. Mereka seolah melepaskan segala kerinduan mereka padaku, setelah sekitar 2 minggu tidak mendapat kesempatan menikmati diriku.

Untung aku sudah minum obat anti hamil, maka aku hanya pasrah saat merasakan penis demi penis berkedut dalam vaginaku, menyemburkan sperma yang membasahi rahimku. Dua jam lebih aku melayani mereka, tubuhku rasanya pegal pegal karena berulang kali orgasme habis habisan. Mereka berhenti setelah dua ronde menyetubuhiku, dan tergeletak puas di sekitarku yang sudah amat lemas.

Setelah pesta seks ini selesai, aku kembali ke kamarku dengan telanjang bulat. Aku mandi membersihkan tubuhku. Setelah mengeringkan seluruh tubuhku, aku segera tidur tanpa mengenakan apapun, hanya berselimut bed cover. Rasanya nyaman sekali, dan dengan cepat aku sudah tertidur pulas.

Tak terasa, sudah seminggu waktu berlalu sejak peristiwa itu. Tak ada kejadian spesial selama seminggu ini, selain aku memberitahu pada cie Stefanny kalau Jenny berminat untuk les privat, dan mereka sudah saling kontak untuk membicarakan hal itu.

Di sekolah aku seperti biasa, bersikap cuek pada tatapan penuh nafsu dari pak Edy wali kelasku, juga pandangan mesum dari para satpam dan tukang sapu yang sudah beberapa kali menikmati tubuhku. Sebenarnya sebal juga, tapi aku tak tahu harus berbuat apa.

Tapi ada satu hal yang membuatku tertegun, aku sempat melihat Vera, temanku yang dikatakan Jenny cewek bispak di sekolah kami, sepulang dari sekolah ia dijemput om om, yang sudah pasti bukan papanya. Aku pernah melihat papanya Vera ketika acara terima raport akhir tahun lalu. Aku sempat menduga duga, apakah orang itu saudara ortunya, atau …?

Hari minggu ini, setelah menjalankan rutinitasku, dan sempat berjalan jalan dengan Jenny, aku memutuskan untuk tidak pulang dan langsung ke tempat balet. Aku merasa bisa membantu cie Elvira untuk tidak terlalu terlibat dengan pak Agil itu. Ketika jam masih menunjuk pukul 4:15 sore, aku sudah duduk duduk di teras gedung sekolah balet kami, menunggu cie Elvira.

Rencananya nanti aku akan mengajak cie Elvira ngobrol daripada cie Elvira harus melayani pak Agil itu. Tapi apa yang terjadi berikutnya sungguh di luar dugaanku. Pak Agil tiba tiba keluar dari pintu masuk, dan bertanya padaku, “Non Eliza, waktu saya bersih bersih minggu lalu, di ruang ganti ada barang yang tertinggal minggu lalu. Coba non lihat, apa itu kepunyaan non Eliza?”.

Ditanya demikian di depan orang banyak yang berjualan di depan situ, aku mau tak mau terpaksa masuk untuk melihat, daripada kesannya tidak sopan. Walaupun aku merasa tak meninggalkan barang minggu lalu, tapi andaikan memang barang itu kepunyaanku, aku tahu aku sedang masuk ke sarang penyamun. Seperti yang aku kira, di dalam ruang ganti memang tak ada apa apa.

Ketika aku membalik badan, kulihat pak Agil sudah di belakangku sejak tadi, ia tersenyum menyeringai kepadaku, dan aku tahu aku akan bernasib buruk hari ini. Di dunia ini akan segera bertambah lagi satu maniak yang menjadikan aku budak seksnya. Aku mengutuki nasibku dalam hati.

Tapi aku masih berusaha untuk lolos dari cengkeraman bandot tua ini. “Pak, saya mau keluar dulu, di sini nggak ada apa apa kok”, kataku berusaha menjaga nada bicaraku tetap sopan. “Non, buat apa keluar lagi? Enakan di sini sama bapak. Minggu lalu saya sudah merasakan susu non yang kiri, sekarang saya mau susu non yang kanan”, katanya dengan kurang ajar.

Ingin aku menamparnya, tapi bisa bisa ia makin mengasariku nanti, maka aku meredam keinginanku ini. Tak terasa aku mundur dan menyilangkan kedua tanganku menutupi payudaraku yang sebenarnya masih tertutup bajuku.“Pak, jangan kurang ajar ya. Saya akan teriak!”, aku mencoba menggertaknya. Tapi pak Agil malah tersenyum, senyuman itu memuakkan tapi mengerikan juga.

Pak Agil menjawab santai, “Teriak saja non. Sekalian biar orang orang di luar tahu keindahan tubuh non, dan pasti mereka nggak akan menolak kalau saya ajak untuk ikut menikmati servisnya non Liza”. Aku langsung lemas, rupanya ini arti mimpi burukku minggu lalu. Aku mengurungkan niatku, daripada aku digangbang tukang sapu ini dan beberapa penjual makanan kecil di luar.

Sudah cukup aku digangbang para pembantu dan sopirku di rumah, juga para satpam dan tukang sapu di sekolahku. Tanpa perlawanan yang berarti dariku, pak Agil sudah melucuti pakaianku hingga aku tinggal mengenakan bra dan celana dalam. Matanya melotot seakan hendak copot ketika ia memandangi tubuhku yang putih mulus tanpa cacat ini.

“Oh.. amoy yang satu ini memang sip”, guman pak Agil, tapi aku dapat mendengarnya jelas. Aku mencoba untuk memohon, “Pak, tolong jangan begini pak. Pak Agil butuh uang? Katakan pak, saya bisa bantu. Tapi jangan perkosa saya pak, saya aaah…”, aku mengerang ketika pak Agil sudah menyergapku dan meremas kedua payudaraku yang masih tertutup bra ini dengan kasarnya.

Aku menggeliat kesakitan dan berusaha melepaskan tangan kekar yang mencengkram kedua payudaraku ini, tapi usahaku sia sia saja, tenagaku terlalu lemah, dan rasa sakit ini membuatku semakin lemas. Selagi aku menahan sakit ini, pak Agil berbisik di telingaku, “Uang? Buat apa non? Saya tak ada keluarga, gaji saya sudah cukup untuk makan. Saya tak kepingin duit banyak, cuma kepingin mencicipi tubuh amoy cantik macam non gini”.

Hembusan nafasnya yang hangat di telingaku membuatku bergidik ngeri, aku tahu sudah tak ada jalan keluar setelah mendengar jawabannya. Kurasakan kedua payudaraku sudah tak diremas, tapi tiba tiba pak Agil mengarahkan mukaku ke hadapannya, bibirku dipagutnya dengan ganas, sementara celana dalamku dilorotkan seperlunya supaya jari tangannya bisa menusuk nusuk vaginaku.

Mendapat perlakuan seperti ini, aku hanya bisa menggeliat dan mengerang mengeluarkan suara tak jelas, “Emmph… mmmhh..”. Aku terus meronta, tapi makin lama rontaanku makin lemah, dan kudengar pak Agil tertawa menjijikkan, nampaknya ia yakin sekali aku sudah takluk padanya. Tapi aku tak bisa apa apa, tenagaku rasanya sudah melayang lenyap entah kemana.

Aku memejamkan mata, perlahan rasa nikmat yang menjalari tubuhku kembali mengalahkan akal sehatku. Desahan dan lenguhanku mulai terdengar, makin lama makin keras. Entah sejak kapan, tapi braku sudah jatuh ke lantai, celana dalamku juga sudah melayang entah kemana. Pak Agil mengatur posisiku sedemikian rupa hingga aku berdiri agak doyong ke depan menghadap kaca rias, dengan kedua tanganku menumpu di sana, kedua kakiku terpentang lebar.

Aku makin keras mendesah ketika beberapa jari tangannya mengaduk aduk vaginaku dari belakang. Kupejamkan mataku kuat kuat, rasanya malu memandang diriku di kaca dalam keadaan telanjang bulat dan sedang dipermainkan dari belakang oleh orang yang seumur dengan papaku. “Non, enak ya non diaduk aduk gini?”, ejek pak Agil melihatku sedang menggeliat keenakan.

Aku hanya bisa diam menahan rasa malu ini, tapi aku tak mampu bertahan untuk tidak orgasme, akhirnya tubuhku mulai tersentak sentak. Saat orgasme pertama mulai melandaku, kurasakan pak Agil mencabut jari tangannya dari liang vaginaku, dan tiba tiba kurasakan vaginaku yang pasti sedang mengeluarkan cairan cintaku ini, dijilati dan dicucup oleh pak Agil.

Tiba tiba kurasakan lidah pak Agil membelah dan menusuk vaginaku, mengorek ngorek semua sisa cairan cintaku, membuat aku terbeliak menahan nikmat, nafasku tertahan, dan tubuhku makin menggelinjang. Tak bisa kutahan lagi, aku melenguh keenakan, “nggghhhh… ooooohhhh”.

Aku melemas dan jatuh berlutut, tanganku yang serasa lunglai kupakai menahan tubuhku yang bergetar getar merasakan nikmat yang luar biasa ini. Ketika aku masih belum selesai melewati orgasme ini, tiba tiba pak Agil sudah ada di depanku dan membuka resleting celananya. Ia mengeluarkan penisnya yang sudah menegang, dan dengan seenaknya ia menyodorkan penisnya di depan mulutku, seolah olah memerintahkan budaknya untuk menghisap penisnya.

Aku merasa terhina diperlakukan seperti ini, tapi aku tak bisa berbuat apa apa, dan terpaksa menurutinya. Aku sempat memperhatikan penis yang minggu lalu mengaduk aduk vagina cie Elvira ini. Panjang, paling tidak antara 18 – 19 cm. Walaupun diameternya hanya sekitar 3,5 cm,tapi urat urat yang menonjol membuat penis itu terlihat kekar dan menyeramkan, siap mengaduk aduk liang vaginaku dengan ganas.

Kubuka mulutku perlahan, dan pak Agil yang sudah tak sabar langsung menjejalkan penisnya ke dalam mulutku. Aku segera berusaha membiasakan diri dengan rasa penis pak Agil ini. Penis yang begitu keras itu kuulum kulum dan kujilati memutar, perlahan akhirnya aku mulai menikmati mengoral penis panjang ini. Kumasukkan penis ini ke tenggorokanku dalam dalam, hingga pak Agil mengerang ngerang keenakan.

Aku sedang mencucup kepala penis pak Agil ketika tiba tiba aku mendengar kata kata pak Agil, “Bu Elvira, bukan saya yang maksa lho, tapi memang murid ibu yang nafsu nyepongin punya saya ini”. Serasa bagai mendengar petir di siang bolong, aku melepaskan kulumanku pada penis pak Agil, dan memang di kaca rias ruang ganti yang memanjang itu kulihat cie Elvira yang menandangku dengan tertegun.

Terlihat jelas ia tak percaya melihat apa yang sedang kulakukan ini. “Eliza… kamu…?”, cie Elvira bertanya kepadaku yang hanya bisa menunduk, aku malu dan takut sekali, tak berani melihat muka cie Elvira. Pak Agil yang tertawa tawa sejak tadi, tiba tiba mengangkat tubuhku, dan aku kembali diposisikan seperti tadi, dengan kedua kaki terpentang lebar dan tanganku kembali menumpu di kaca rias menahan badanku yang doyong ke depan.

Sekali ini tentu pak Agil tak hanya menggunakan jarinya, penisnya yang baru saja kukulum tadi akan segera menghajar selangkanganku. “Bu Elvira, daripada nanti ngiri sama murid ibu, sekalian aja gabung ke sini bu”, kata pak Agil dengan nada yang benar benar mengejek kami berdua. Aku melihat dari kaca rias, cie Elvira medekati kami sambil melihatku dengan pandangan yang aneh.

Dan tiba tiba pak Agil memegangi pinggulku, lalu penisnya ditempelkan ke mulut vaginaku. Dengan sekali sentak, penis itu tertelan habis ke dalam liang vaginaku yang sudah amat basah, sementara penis itu sendiri sudah basah oleh air liurku tadi.

“Ngghhh…”, aku melenguh antara sakit dan nikmat, merasakan urat urat yang menggerinjal pada penis pak Agil ini menerobos keluar masuk, membuat setiap gesekan pada dinding liang vaginaku terasa begitu nikmat” “Oooh.. sempitnya noon”, erang pak Agil. Aku menggigit bibir menahan nikmat yang mengalahkan rasa malu ini, disetubuhi di depan cie Elvira.

Tiba tiba kulihat dari kaca rias, pak Agil yang masih menggenjotku dari belakang, merangkul cie Elvira dan memagut bibirnya habis habisan, dan cie Elvira terlihat larut dalam pagutan pak Agil. Keduanya melakukan french kiss cukup lama, tapi pak Agil terus menggenjotku dengan tempo yang lumayan cepat.

Setelah puas melumat bibir cie Elvira, pak Agil menyuruh cie Elvira memposisikan dirinya sepertiku di sebelah kananku, kemudian segera kudengar cie Elvira mendesah dan kulihat tubuh cie Elvira tersentak beberapa kali. Saat kulihat ke belakang, ternyata tangan pak Agil sedang berada di sekitar selangkangan cie Elvira. Mudah saja ditebak, pasti sekarang jari tangan pak Agil sedang mengaduk aduk vagina cie Elvira.

“Aaaah…”, aku mengerang ketika dengan kasar pak Agil menyodokkan penisnya dalam dalam, tubuhku mengejang menahan rasa sakit bercampur nikmat yang melanda tubuhku ini. Cie Elvira yang di sebelahku juga mulai menggeliat, tapi yang membuatku merasa kikuk, cie Elvira memandangku dengan tatapan yang sayu dan aneh, membuat aku jadi salah tingkah dan bulu kudukku serasa meremang. Masa iya cie Elvira sedang bermaksud lain padaku?

Cie Elvira tiba tiba meraih tangan kananku dan dilingkarkan ke lehernya, sementara ia juga melingkarkan tangan kirinya pada leherku. Ia menolehkan mukaku, medekatkan mukanya dan tiba tiba memagut bibirku dengan ganas, membuat jantungku serasa berhenti, tak tahu harus berbuat apa. Tak lama kemudian, aku sudah hanyut oleh ciuman cie Elvira, dan dari awalnya tegang, lalu aku mulai pasrah.

Sekarang aku bahkan membalas ciuman ini. Lidah kami saling bertautan, aku merasa nikmat yang melandaku semakin berlipat ganda, dengan sodokan demi sodokan penis pak Agil yang menghajar vaginaku dengan ganas sementara aku berciuman dengan cie Elvira sampai akhirnya kami saling melepaskan diri setelah sama sama kehabisan nafas.

Aku hanya bisa tersipu malu tak berani memandang cie Elvira, tapi harus kuakui ada gairah aneh yang sempat melandaku tadi saat kami saling berpagut seperti layaknya sepasang kekasih. Setelah beberapa menit digenjot pak Agil, aku mulai merasakan akibatnya. “Ngghh… ooooh… aduuuh…”, aku mulai melenguh dan mengerang, rasanya aku akan segera orgasme.

Di sebelahku kulihat cie Elvira juga mulai menggeliat dan tubuhnya bergetar getar, terlihat sekali cie Elvira sedang dilanda kenikmatan yang maha dashyat. Aku sendiri sudah melayang di awang awang, tubuhu tersentak sentak dilanda orgasme yang kedua kalinya ini.

“Oooohh.. gilaaa.. seret abiiiis nooon”, erang pak Agil ketika otot vaginaku rasanya berkontraksi, pasti saat ini pak Agil merasa penisnya sedang diremas remas di dalam sana. Tak lama kemudian pak Agil menggeram, kurasakan penisnya berkedut dan menyemprotkan cairan hangat di dalam liang vaginaku saat ia mengerang ngerang penuh kepuasan.

Aku langsung melemas dan jatuh berlutut, penisnya terlepas dari vaginaku. Tak kuduga, cie Elvira tiba tiba merangsek ke selangkanganku, kini wajahnya sudah ada di hadapan vaginaku dengan tatapan penuh nafsu. Aku agak ngeri dan merambat mundur, tapi cie Elvira dengan cepat sudah memeluk kedua pahaku yang dilebarkannya.

Vaginaku sudah diserang habis oleh cie Elvira yang mencucup cairan cintaku yang sudah bercampur dengan sperma pak Agil. “Ciee.. ooooh… nggghhhh… “, aku mengerang dan melenguh, tubuhku menggelepar tak berdaya dihantam kenikmatan yang tiada tara ini. Beberapa menit lamanya tubuhku tersentak sentak dihantam badai orgasme.

Rasanya tubuhku semakin lemas, dan aku sudah pasrah, terserah mereka berdua yang hendak memperlakukan tubuhku seperti apa. Aku menurut saja ketika pak Agil memasukkan penisnya ke mulutku, dan tanpa diperintah aku sudah mengulum ngulum penis itu, menyeruput semua sisa spermanya dan cairan cintaku yang masih menempel di penis itu.

Tiba tiba terdengar suara pintu ruang depan terbuka, membuat aku sadar dari pesta seks yang memabukkan ini. Dengan panik aku segera melepas kulumanku pada penis pak Agil, lalu menyambar semua bajuku yang berserakan dan segera masuk ke salah satu kamar ganti lalu menutup tirainya.

Aku tak tahu apa yang dilakukan cie Elvira ataupun pak Agil, tapi akuku berharap mereka tak segila itu untuk membiarkan teman teman les balet tahu apa yang baru saja terjadi. Aku langsung mengenakan bra dan celana dalamku, lalu mengenakan kostum baletku. Ketika aku memakai sepatuku, aku melihat bercak basah di bagian selangkanganku.

Kelihatannya cairan cintaku masih terus mengalir dari vaginaku yang memang masih terasa berdenyut denyut. Urat urat penis pak Agil tadi benar benar membuatku keenakan, tapi kini aku bingung, bagaimana jika di antara teman temanku ada yang menyadari vaginaku baru saja memuntahkan cairan cinta?

Kudengar suara teman temanku yang gaduh seperti biasanya saat berganti di ruangan ini. Aku keluar dari ruang ganti, menyapa semuanya dan segera pergi ke atas panggung latihan. Jantungku berdebar kencang, berharap acara latihan ini segera selesai, sebelum ada yang tahu tentang selangkanganku yang basah. Cie Elvira sudah datang ke atas panggung, dan latihan pun dimulai.
Aku berada di depan sendiri seperti biasa, jadi aku masih punya harapan tak ada yang tahu tentang keadaanku. Ketika latihan baru berjalan 15 menit, cie Elvira tiba tiba menghentikan kami sejenak, dan mendatangiku. Aku jadi agak panik dan memandangnya dengan penuh tanda tanya, tapi perasaan tegang itu langsung sirna ketika aku mendengar kata kata cie Elvira.

“Liza, kamu kelihatan sakit? Badanmu tak biasanya sampai berkeringat banyak seperti ini. kalau kamu sakit, nggak usah dipaksakan deh, kamu boleh istirahat di ruang ganti, atau menonton saja di bawah panggung”, kata cie Elvira lembut.

Dengan penuh rasa terima kasih, aku mengangguk pada cie Elvira, lalu aku segera keluar dari barisan menuju ke ruang ganti di belakang panggung. Tapi ketika aku masuk, aku sadar aku harusnya lebih baik menonton saja tadi, karena ruang ganti ini sudah menunggu pak Agil dengan senyumnya yang menjemukan.

“Wah wah, non sudah gak sabar ya, masa sampai bela belain meninggalkan latihan yang baru saja dimulai. Sudah kangen ngerasain ini lagi ya non?”, kata pak Agil dengan kurang ajarnya sambil jari telunjuknya menunjuk ke arah selangkangannya. Aku hendak keluar untuk menyelamatkan diri, tapi pak Agil lebih sigap.

Pak Agil menangkap pergelangan tanganku, lalu menyeretku ke dalam salah satu kamar ganti dan menutupkan tirainya. “Pak Agil.. jangan begini paak…”, aku berusaha memohon agar ia menghentikan semua ini. Tapi seperti orang yang kesetanan, pak Agil memepetkan aku ke dinding sekat, lalu mencumbuku dengan ganas dan terus meremasi kedua payudaraku dan meraba raba sekujur tubuhku.

Aku mulai meronta, berusaha lepas dari semua ini. Kudorong mukanya yang dari tadi menyusuri mukaku dengan bernafsu, dan tiba tiba aku kehilangan keseimbangan. Aku terjatuh ke tempat yang biasa dipakai duduk untuk mengenakan sepatu. Untung saja kepalaku tidak terbentur ke tembok. Pak Agil yang langsung menindihku, membuat posisiku semakin terjepit.

“Kalau non melawan terus, nanti sepulang latihan non akan saya bagikan pada orang orang yang berjualan di depan. Apa begitu maunya non?”, ancam pak Agil, membuat aku bergidik ngeri dan perlawananku berhenti dengan sendirinya.

“Lagipula, non gak usah malu malu deh”, kata Pak Agil dengan nafas memburu. “Tadi bukannya non keenakan sampai keluar dua kali? kok sekarang pura pura nggak mau”, ejeknya lagi. Aku membuang muka, ejekan itu benar benar membuat aku tak berdaya. Ingin aku menyangkal tapi kenyataannya memang aku tadi orgasme dua kali dibuatnya.

“Non, ayo lepas bajunya. Atau saya bantuin melepas?” tanya pak Agil sambil berdiri dan melepas celananya. “Pak, saya lepas sendiri saja”, kataku cepat. Aku tak ingin kostum baletku ini robek karena kebodohan pak Agil yang pasti tak tahu bagaimana melepas kostum balet dengan benar. Aku mulai melucuti bajuku sendiri, dan kumasukkan ke dalam tasku di luar.

Kini tinggal bra dan celana dalam yang menutupi tubuhku. Aku masuk kembali ke dalam ruangan eksekusi itu, dengan membawa tasku. Ketika aku melorotkan celana dalamku yang sudah becek itu, pak Agil kelihatan sudah tak tahan melihat pertunjukan striptease yang sedang kulakukan ini. Ia langsung menyergapku dan merenggut lepas braku.

Aku kembali dirobohkan ke tempat duduk itu, dan dengan buas pak Agil mencumbuiku habis habisan. Puting susu payudaraku yang sebelah kanan dicucupnya kuat kuat, sesekali digigit kecil olehnya. Selagi aku menggeliat lemah menahan sakit, payudaraku yang kanan mulai diremas remas dengan kasar. Dirangsang habis habisan seperti ini, akhirnya aku tak mampu bertahan untuk tidak mendesah.

Aku kembali menyerahkan diriku dengan putus asa, membiarkan pak Agil memperlakukan tubuhku sesuka hatinya. Tangan kiri pak Agil yang menganggur, kini mengaduk aduk vaginaku dengan sedikit kasar. Selagi aku berusaha beradaptasi dengan kekasaran pak Agil ini, beberapa saat kemudian kurasakan kepala penis pak Agil sudah bergesekan dengan bibir vaginaku.

Tubuhku yang dipepet pak Agil tak bisa bergerak bebas, maka aku hanya bisa pasrah, kedua pahaku sudah terangkat melebar, dan aku merasakan setiap milimeter gesekan penis pak Agil pada dinding liang vaginaku ketika penetrasi itu dimulai, dan tubuhku mengejang antara sakit bercampur nikmat, dan aku menggigit bibirku, berusaha segera beradaptasi dengan persetubuhan ini.

Hingar bingar suara musik di luar membuat aku lebih leluasa untuk melepaskan lenguhan tanpa kuatir terdengar oleh mereka. “Enngghh.. pak…”, aku melenguh keenakan ketika tiba tiba penis pak Agil menyodok dalam dalam. Cairan cintaku yang sudah kembali meleleh melumasi vaginaku membuat sodokan itu terasa begitu nikmat.

Apalagi urat urat yang menggerinjal itu berdenyut denyut, membuat aku kehilangan kontrol dan mulai menggerakkan pinggulku menyambut tiap genjotan yang dilakukan pak Agil. “Enak ya non?” tanya pak Agil dengan senyum mengejek. “Iyah pak… nngghh.. ooohh” jawabku tanpa sadar. Yang kupikirkan sekarang adalah mengejar orgasmeku, tak kuperdulikan pak Agil yang mengejekku dengan cara menirukan desahan, erangan dan lenguhanku.

Genjotan itu makin lama makin kuat, akhirnya aku dilanda orgasme hebat, pinggangku sampai melengkung seolah mengekspresikan nikmat yang amat sangat ini. Beberapa kali tubuhku tersentak sentak sampai akhirnya melemas, kakiku yang melejang lejang terasa begitu pegal. Pak Agil masih menggenjotku dengen bersemangat, dan aku yang sudah kelelahan hanya bisa menggeliat lemah.

Satu hentakan keras batang penis yang amat keras itu mengakhiri genjotan pak Agil pada vaginaku. Cairan hangat menyemprot dari penis pak Agil, membasahi vaginaku yang sudah amat basah ini, pak Agil menggeram dan tubuhnya bergetar getar, terlihat sekali ia amat puas. Pak Agil menarik penisnya perlahan dari liang vaginaku, membuat dinding vaginaku rasanya digesek perlahan oleh urat urat penis pak Agil.

Hal ini menimbulkan sensasi tersendiri, dan aku mendesah perlahan. “kenapa non? Masih belum puas? Nanti jangan pulang dulu non, kita lanjut lagi ke babak kedua, sekalian sama bu Elvira”, kata pak Agil. Mendengar kata katanya ini, aku terkejut dan mendorongnya. “Pak Agil, jangan macam macam ya. Sudah cukup sampai di sini! Memangnya kenapa saya harus menuruti dan melayani pak Agil!”, kataku sedikit membentak.

“Karena non pasti tak ingin celana dalam non ini saya berikan pada orang orang di luar sana kan?”, dengan santai pak Agil memegang celana dalamku, lalu dengan gaya menjijikan pak Agil menghirup bau celana dalamku. “mmm harumnya..”, guman pak Agil.

Aku hanya bisa memandang marah padanya, tapi aku tahu mau tak mau aku harus menuruti kemauan tukang sapu sialan ini daripada aku jadi bulan bulanan mereka yang biasa berjualan di luar. Pak Agil dengan senyum kemenangan menyodorkan penisnya ke wajahku, dan aku mengulum dan menjilati penis itu dengan kesal.

Ingin rasanya kugigit saja penis yang sedang kukulum ini, tapi aku tak berani melakukannya. “Jadi nanti saya harap saya bisa menemukan non di ruang ganti ini waktu semua orang sudah pulang. Non mengerti kan siapa yang akan rugi kalau non sampai berani pulang duluan?”, kata pak Agil santai sambil menikmati hisapanku pada penisnya.

Setelah puas ia meninggalkanku sendirian, dan aku termenung beberapa saat, lalu memakai sisa pakaianku tanpa celana dalam. Kini aku hanya bisa berharap hari ini cepat berlalu. Suara musik di depan sudah berhenti, latihan balet sudah selesai. Aku segera keluar dan berpapasan dengan teman temanku yang sudah menghambur ke ruang ganti.

Di luar aku duduk termenung di kursi panjang tempat Cie Elvira minggu lalu digarap oleh pak Agil. Aku pasrah menunggu nasib. Cie Elvira tiba tiba menghampiri dan mengejutkanku, “Liza, kamu kok tidak pulang saja sekarang?”. Aku hanya tertunduk, dan ketika cie Elvira duduk di sebelahku, aku berbisik pada cie Elvira tentang apa yang terjadi padaku di ruang ganti tadi.

“Dasar bandot sialan”, cie Elvira menghentakkan kakinya ke lantai dengan marah. Cie Elvira makin kesal ketika aku mengatakan tadi pak Agil juga berencana mengajak cie Elvira untuk babak kedua nanti. Tapi kami berdua tak bisa berbuat apa apa, hanya bisa menunggu dengan kesal. Tapi sejujurnya, ada sebersit perasaan terangsang yang melandaku, ketika aku memikirkan harus menyerah pasrah pada pak Agil itu.

“Liza, maafin cie cie kamu jadi terlibat sejauh ini. Semua juga gara gara minggu lalu kamu terpaksa harus melihat cie cie yang sedang main gila dengan bandot sialan itu sekarang cewek baik baik seperti kamu harus menanggung dosa seperti cie cie”, kata cie Elvira sedih.

“Nggak cie, Liiza bukan cewek yang suci suci amat kok”, kataku berusaha menghibur cie Elvira. Aku menceritakan sekilas tentang keadaanku, tentu saja dengan suara yang pelan dan memastikan tak ada teman temanku di sekitar kami yang bisa mendengar. Cie Elvira tertegun mendengar semuanya, pengalaman seksku di sekolah, di rumah, di rumah temanku Jenny, juga di villa.

Rambutku dibelai oleh cie Elvira yang terlihat amat prihatin pada nasibku. “Liza, tadi, cie cie menyedot habis sperma si bandot itu, cie cie berusaha mencegah kamu sampai dihamili oleh tukang sapu yang tak tahu diri itu, Liza”, wajah cie Elvira bersemu merah ketika mengatakan hal ini. “Untungnya kamu sudah minum pil anti hamil, Liza”, sambung cie Elvira yang menundukkan mukanya dan tesipu malu.

Aku teringat kejadian tadi, aku menjadi sangat malu, terutama karena aku amat menikmati saat saat cie Elvira mencucup cairan cintaku yang bercampur dengan sperma pak Agil tadi. Dengan wajah yang terasa sangat panas, aku memeluk cie Elvira dan berkata, “Cie cie, nggak usah kuatir, aku udah minum obat anti hamil kok.”. Setelah itu semua teman temanku berpamitan pulang pada cie Elvira.

Begitu ruangan ini kosong, pak Agil masuk menghampiri kami berdua yang menatapnya dengan kesal tanpa daya. “Kurang ajar kamu itu Gil. Belum cukup apa kamu gituin saya?”, bentak cie Elvira. Pak Agil tertawa tawa dan mendekatiku, tiba tiba tangannya merangsek ke selangkanganku melewati rok yang kukenakan. Dengan tepat salah satu jari tangannya melesak masuk ke liang vaginaku, mengaduk aduk liang kenikmatanku dengan kasar.

“Oooh…”, aku mengerang menahan sakit yang bercampur nikmat ini. “Masa saya kurang ajar bu? Murid ibu yang memang rela kok, buktinya dia nggak pakai celana dalam, dan memeknya sudah becek seperti ini”, pak Agil berkata sambil mencabut jari tangannya dari liang vaginaku, membuatku sedikit menggeliat, rasanya amat nikmat ketika bagian dalam vaginaku ikut terseret keluar ketika jari itu tercabut lepas.

Ia mempertontonkan jari tangannya yang sudah becek sekali berlumuran cairan cintaku. Aku membuang muka, malas aku melihat muka orang yang buruk rupa ini yang kini sudah berkuasa atas tubuhku. “Bu, kok masih belum buka bajunya? Jangan malu malu di depan murid ibu lah, kita kan sudah biasa mengarungi surga dunia bersama sama?”, kata pak Agil sambil kembali menancapkan jari tangannya ke liang vagnaku, dan ia mulai melanjutkan aktivitasnya mengaduk aduk liang vaginaku dengan jarinya.

“Kamu…”, cie Elvira tak bisa meneruskan kata katanya, hanya memandang marah pada pak Agil, sementara aku mulai larut oleh permainan jari tangan pak Agil di vaginaku. Tubuhku sesekali mengejang, dan aku memandang sayu pada cie Elvira, yang membalas tatapanku dengan pandangan aneh seperti tadi. Oh.. apakah cie Elvira akan…?

Dugaanku benar, tiba tiba cie Elvira mendekatiku, dan dengan nafas yang memburu cie Elvira tiba tiba memagut bibirku. Aku benar benar kelabakan, perasaan aneh yang menjalari tubuhku ditambah sensasi adukan jari tangan pak Agil pada liang vaginaku, benar benar membuatku kehilangan kontrol atas diriku.

Tanpa sadar aku memeluk cie Elvira dan membalas pagutannya dengan tak kalah bernafsunya. “Lho lho… kok malah asyik sendiri toh kalian?”, ejek pak Agil pada kami yang masih saling berpagut. Kami tak memperdulikan ejekannya, dan ciuman kami makin hot saja seolah saling tak ingin melepaskan. Lidahku dan lidah cie Elvira saling bertautan dan mendesak ke mulut lawan ciuman, pelukan kami juga makin erat.

Tiba tiba pak Agil kembali mengeluarkan jari tangannya dari liang vaginaku, lalu ia menyusup duduk di antara aku dan cie Elvira. Aku melihat celana dalam cie Elvira dilorotkan oleh pak Agil. Dan pak Agil mulai bergantian menyedot dan mencucup cairan cinta dari vaginaku dan vagina cie Elvira, membuat kami berdua mulai melenguh tak tahan dilanda kenikmatan ini.

“Ohh.. cieee…”, aku mengerang keenakan, sementara cie Elvira juga kelihatan terangsang berat, sesekali ia melenguh, “ngghhh.. Lizaa..”. tubuh kami berdua bergetar getar, akhirnya setelah disedot entah yang ke berapa oleh pak Agil, aku terbeliak, nafasku tertahan, tubuhku mengejang hebat.

Aku orgasme di pelukan cie Elvira, yang malah dengan ganas mencumbuku, membuat aku semakin tenggelam dalam nikmatnya orgasme yang makin menggelegak ini. Keringatku mengucur membasahi bajuku. Kurasakan cairan cintaku membanjir tapi kelihataanya semua ditelan habis oleh pak Agil yang masih saja mencucup mulut vaginaku.

Aku dan cie Elvira saling melepaskan pelukan dengan nafas yang tersengal sengal, dan cie Elvira hanya pasrah saat tubuhnya dibaringkan oleh pak Agil di kursi panjang, dan pak Agil melepas celananya, siap untuk bertempur.

Kini dengan bernafsu pak Agil mulai menggenjot cie Elvira yang masih memakai baju lengkap kecuali celana dalamnya yang sudah terlepas dari tadi. Aku duduk lemas memandangi mereka berdua yang sedang berpacu menuju orgasmenya. Aku tak pernah menyangka, cie Elvira yang biasanya terlihat alim itu kini begitu liar dan larut dalam persetubuhannya dengan tukang sapu di sekolah balet ini.

Cie Elvira terlihat begitu menikmati saat saat vaginanya dipompa habis habisan oleh pak Agil, ia melenguh dan menggeliat keenakan, sesekali menjerit menahan nikmat yang melandanya. Tak lama kemudian cie Elvira orgasme, tubuhnya tersentak sentak di bawah tindihan pak Agil yang ternyata juga mengalami orgasme.

Pak Agil menggeram, tubuhnya bergetar, dan ia mengerang, “ooooh… bu Elviraaa…”. Pak Agil sempat berkelojotan beberapa saat, dan penisnya ditusukkan dalam dalam pada liang vagina cie Elvira. Mereka berdua mereguk kenikmatan itu bersamaan, dan pak Agil jatuh tergeletak di lantai dengan nafas ngos ngosan.

Cie Elvira sendiri masih terbaring lemas di kursi panjang itu, tubuhnya bergetar getar, dan cairan putih kental meleleh dari mulut vaginanya. Nafas dan desahan cie Elvira sesekali terdengar mengeras, bajunya basah oleh keringat. Kami semua diam dan beristirahat sebentar, dan aku melihat jam menunjuk pukul setengah delapan malam.

Beberapa menit kemudian, pak Agil berdiri, ia memandangi cie Elvira yang sudah mulai sadar dari orgasmenya. “Bu Elvira, sampai keringatan gitu, gimana kalau kita mandi saja?”, tanya pak Agil dengan pandangan mesumnya. Cie Elvira hanya pasrah saat pak Agil mengangkatnya berdiri dan setengah menyeret cie Elvira ke kamar mandi di sekolah balet ini.

Aku bingung tak tahu harus berbuat apa. Tapi saat pak Agil akan menghilang ke pintu kamar mandi, ia memanggilku, tentunya dengan gaya yang amat melecehkanku. Jari telunjuk kanannya diarahkan padaku, lalu ditekuk ke arahnya beberapa kali seolah memanggil seorang budak.

Dengan kesal namun penasaran apa yang akan terjadi dengan cie Elvira, aku mengikuti mereka masuk. Di dalam aku melihat pak Agil yang sudah telanjang bulat, sedang menanggalkan baju cie Elvira satu per satu. Cie Elvira sempat menahan tangan pak Agil ketilka hendak menanggalkan bra merah mudanya, tapi dengan kasar pak Agil merenggut bra cie Elvira, hingga tubuh cie Elvira yang putih mulis kini sudah polos tak tertutup apapun.

Ikat rambut cie Elvira dilepas oleh pak Agil, hingga rambut cie Elvira tergerai melewati bahunya. Cie Elvira terlihat makin cantik saja, dan hal ini entah kenapa membangkitkan gairahku. Pak Agil menyemprotkan air dari selang yang dipasangnya di kran kamar mandi itu ke tubuh cie Elvira. Entah dinginnya air yang membasahi tubuh cie Elvira, atau belaian pak Agil yang membuat tubuh cie Elvira menggigil…

Pak Agil membasahi seluruh tubuh cie Elvira, dan dengan lembut ia membelai sekujur tubuh cie Elvira yang hanya memejamkan matanya. Pak Agil mulai menyabuni tubuh cie Elvira, perlahan dari pundak, punggung, pantat, lalu beralih ke depan, mulai dari dada dan kedua payudaranya. Sesekali pak Agil meremas lembut kedua payudara cie Elvira, dan cie Elvira mendesah pasrah.

Cie Elvira bahkan mengangkat kedua lengannya yang sudah selesai disabuni, dan pak Agil menyabuni ketiak cie Elvira. Setelah bagian atas selesai, pak Agil menyiram tubuh cie Elvira dengan penuh perhatian, membersihkan semua sisa busa sabun yang masih melekat di tubuh cie Elvira. Tentu saja itu dilakukan pak Agil sambil sesekali membelai dan meremas kedua payudara cie Elvira, yang kembali hanya bisa mendesah dan menggeliat lemah.

Cie Elvira terlihat menikmati perlakuan pak Agil yang melanjutkan menyabuni tubuhnya bagian bawah. Pahanya sedikit terentang, dan pak Agil menyabuni selangkangan cie Elvira, yang mulai berkelojotan ringan dan menjerit kecil ketika jari tangan pak Agil mengaduk aduk vaginanya. Pak Agil mengeluarkan sisa spermanya yang ditembakkannya saat menyetubuhi cie Elvira tadi, dan cie Elvira sampai harus berpegangan pada tembok selagi tubuhnya semakin hebat menggeliat.

Siraman air yang disemprotkan deras pada vagina cie Elvira oleh pak Agil, membuat cie Elvira tak tahan lagi, ia orgasme hebat dan melenguh keenakan. “Eeenngggh…”, erang cie Elvira yang lalu mulai melemas, dan jatuh terduduk di lantai. Pak Agil menyabuni paha dan betis cie Elvira, lalu menyiram lembut sampai tak ada sisa busa sabun di sana, lalu mengeringkan tubuh cie Elvira dengan handuk

Tiba tiba aku merasa ingin dimandikan juga. Tapi masa aku yang meminta? Maka aku hanya diam, memandangi mereka berdua yang sedang asyik ini dengan sedikit iri. Hah? Masa aku sudah separah ini, sampai menginginkan diriku diperlakukan seperti cie Elvira? Aku berusaha meredam birahiku yang makin tinggi ini.

Tapi ketika kulihat Pak Agil menyusu pada cie Elvira yang mulai mendesah dan menggeliatkan tubuhnya, aku makin tak tahan, kurasakan cairan cintaku mulai meleleh sedikit dari liang vaginaku. Aku benar benar sudah terangsang, nafasku makin memburu. “Non Liza, ini yang sering bapak lakukan sama bu Elvira. Kelihatannya non Liza juga kepingin ya?”, tanya pak Agil sambil terkekeh.

Aku tak bisa menjawab, mukaku makin panas saja rasanya. Aku pun membuang muka ketika pak Agil meninggalkan cie Elvira dan mendekatiku. Sekarang pak Agil sudah memepetku di tembok, jantungku berdegup kencang menanti apa yang akan terjadi padaku. Kudengar ia berbisik di telingaku, “mau saya mandikan seperti bu Elvira, non Liza?”

Gilanya, tanpa bisa aku tahan, aku mengangguk lemah. Sadar dengan apa yang baru saja kulakukan, aku memejamkan mata menahan malu yang amat sangat ini. Pak Agil tertawa penuh kemenangan, dan mulai melucuti pakaianku. Aku merasa tak ada harga diriku yang tersisa lagi di depan tukang sapu ini, dan beberapa saat kemudian aku sudah telanjang bulat, dan aku dibawa ke dekat mulut selang itu.

Ikat rambutku dilepas oleh pak Agil hingga tergerai bebas. Aku sempat teringat, semua orang yang mengenalku berkata aku bertambah cantik waktu rambutku tergerai seperti ini. Tapi ini bukan waktu untuk bernarsis ria. Cie Elvira beralih ke tempat yang aman dari semprotan air, dan memandangiku yang mulai dimandikan oleh pak Agil. Seluruh tubuhku dibasahi oleh pak Agil, rasanya segar dan nyaman.

Sesekali aku menikmati belaian lembut oleh tangan pak Agil pada leherku, pundakku dan kedua payudaraku. Ketika mulut vaginaku digesek pelan oleh pak Agil, aku merintih pasrah, kubiarkan pak Agil melakukan apa saja pada tubuhku yang sudah basah seluruhnya, lalu ia mulai menyabuni tubuhku.

Dimulai dari leherku bagian belakang ke depan, kemudian punggungku digosoknya lembut dan melingkar ke depan. Aku sedikit menggeliat ketika kedua tangan pak Agil yang menyabuni payudaraku sesekali meremas lembut. Kedua ketiakku tak luput dari perhatian pak Agil, ia menyabuni keduanya sebelum meneruskan ke arah perutku.

Merasakan sekujur tubuhku dibelai seperti ini, aku mulai mendesah dan menikmati setiap rabaan tangan pak Agil, juga busa sabun yang lembut ini menambah sensasi yang kurasakan. Perutku digosok oleh pak Agil dengan sedikit ditekan, lalu memutar ke belakang, dan ketika sampai pada bagian pantatku, pak Agil dengan nakal meremas keras, membuatku sedikit meloncat dan menjerit kecil karena terkejut.

Siraman air dingin kembali mengguyur tubuhku, membersihkan tubuhku dari busa sabun ini. Setelah itu, seperti cie Elvira tadi, pak Agil mulai menyabuni daerah selangkanganku, dan mengorek ngorek vaginaku dengan jari tangannya. Aku menggeliat dan menggigit bibir menahan nikmat diperlakukan seperti ini. Semprotan air dari selang ke arah vaginaku membuat sensasi ini makin dahsyat.

Hampir saja aku orgasme saat pak Agil menghentikan semprotannya pada vaginaku. Aku mengeluh tapi untungnya pak Agil kembali mengorek ngorek vaginaku, dan tak lama kemudian ia berhasil mengantarku menuju orgasmeku. Tubuhku berkelojotan dan melemas, perlahan aku jatuh terduduk di lantai yang basah ini.

Setelah menyabuni kedua kakiku dan betisku, pak Agil menyemprotkan air membersihkan semua sisa busa sabun pada tubuhku ini. lalu aku diangkatnya, dan didudukkan di sebelah cie Elvira. Tubuku yang basah kuyup dikeringkan oleh pak Agil dengan handuk tadi. Lalu pak Agil menarik berdiri cie Elvira, dan kaki kiri cie Elvira diangkat tinggi oleh pak Agil.

Kini vagina cie Elvira cukup terbuka, dan pak Agil menancapkan penisnya ke liang vagina cie Elvira. Lalu pak Agil mulai menggenjot cie Elvira, yang hanya bisa menggeliat lemah dan melenguh keenakan. Tiba tiba samar samara kudengar ada bunyi HP. Aku memperhatikan sejenak, ternyata dari luar. Aku segera berlari menuju arah bunyi itu, dan ternyata dari HPnya cie Elvira.

Aku mengambil dan membawa HP itu masuk kembali ke dalam kamar mandi tempat kami pesta sex, sambil membaca siapa peneleponnya. “Cie, ini dari ko Johan. Gimana cie?”, tanyaku. Cie Elvira menatapku sayu sambil meminta HPnya dariku, “Berikan.. pada cie cie.., Liza..”. Aku memberikan HP itu dan cie Elvira segera menekan tombol jawab.

“Halo… iya sayang…”, cie Elvira mulai bercakap cakap dengan ko Johan. Tentu saja kata kata cie Elvira terputus putus, karena pak Agil tak menghentikan genjotannya sama sekali. Terlihat sekali cie Elvira berusaha menjaga kewajaran gaya bicaranya, tapi tetap saja ia sedikit melenguh saat. “Nggak… apa apa… sayang.. aku… ada di wc… kok… iyah.. aku agak telat.. pulangnya…”.

Aku teringat waktu aku digangbang kedua pembantu dan sopirku di rumah dan kebetulan kokoku telepon, maka aku tahu apa yang sedang dirasakan cie Elvira sekarang ini. Entah kenapa aku malah mulai terangsang melihat cie Elvira yang sedang berjuang keras menahan lenguhannya. Kudengar keraguan dari cie Elvira ketika ia mengucapkan “Iyah sayang… aku… aku juga… cinta kamu…”

Cie Elvira menutup HPnya, dan segera saja cie Elvira melepaskan lenguhannya sejadi jadinya. “Ngggghhh… oooohhhh… aduuuuhhh…”, erangan dan lenguhan cie Elvira memenuhi ruangan ini. Cie Elvira dilanda orgasme yang amat dahsyat. Tubuhnya berkelojotan, sampai pak Agil tak kuat menahan sentakan demi sentakan dari tubuh cie Elvira. Penisnya tertarik lepas karena tubuhnya terdorong saat cie Elvira menggeliat hebat, dan terlihat cairan cinta cie Elvira menetes netes dari mulut vaginanya.

Pak Agil berlutut dan mencucup vagina cie Elvira yang masih bersandar di tembok. Cie Elvira terus mengerang dan melenguh, dan hal ini malah membuatku menjadi liar. Tanpa memperdulikan martabatku yang aku rasa memang sudah hancur ini, kudorong pak Agil hingga roboh, lalu penisnya yang masih tegak mengacung itu kududuki hingga tertelan oleh vaginaku.

Aku mulai menaik turunkan tubuhku yang masih basah ini, hingga vaginaku terpompa penis itu. Pak Agil agak kelabakan dan mengerang ngerang. Cie Elvira tak tinggal diam. Ia menduduki muka pak Agil hingga vaginanya tepat ada di atas mulut pak Agil. “Gil, ayo jilatin punyaku”, perintah cie Elvira. Kini pak Agil kewalahan menghadapi keliaran kami berdua. Aku dan cie Elvira seolah berlomba mencapai orgasme.

Tentu saja aku yang menang, karena vaginaku dipompa oleh penis pak Agil, sementara vagina cie Elvira hanya dijilatin saja. “Eeenngghhh… “, aku melenguh dan tubuhku berkelojotan di atas pak Agil, yang ternyata juga orgasme bersamaan denganku. Pak Agil menggeram dan sempat meracau ketika cie Elvira sedikit mengangkat badannya.

“Ooohhh.. memang punya non Liza ini… paling enaaak… lebih enak dari punya non Veraa”, pak Agil meracau, membuat aku dan cie Elvira saling pandang. Kurasakan penis pak Agil berkedut dan menembakkan cairan hangat di dalam liang vaginaku. Aku agak melemas, dan menarik lepas vaginaku dari tusukan penis pak Agil yang mulai loyo.

Cie Elvira yang masih belum orgasme, segera mengubah posisinya jadi 69. Cie Elvira membungkukkan badannya, dan mulai menghisapi penis pak Agil dengan gencar, membuat pak Agil mengerang ngerang dan berkelojotan, tapi cie Elvira tak perduli. Aku melihat semua itu dengan birahi yang perlahan kembali naik, tapi aku hanya melihat saja apa yang sedang dilakukan cie Elvira.

Kata kata pak Agil tentang Vera tadi juga membayang di pikiranku. Oh.. ternyata selain cie Elvira, Vera juga jadi pemuas nafsu seks pak Agil ini sebelum aku juga terlibat. Tapi pemandangan di depanku terlalu indah untuk kulewatkan dengan melamunkan hal itu. Cie Elvira dan pak Agil saling memuaskan pasangannya dengan gaya 69, dan akhirnya cie Elvira orgasme duluan.

“Ohh… aduuuuh…”, erang cie Elvira, tubuhnya kembali berkelojotan. Cie Elvira duduk lemas di sebelah pak Agil, dan aku berpikir, mungkin kali ini aku dan cie Elvira bisa bekerja sama mengalahkan pak Agil ini. Aku segera menggantikan cie Elvira menghisap penis pak Agil, yang mulai mengerang kembali, makin lama makin keras.

Aku tak tanggung tanggung lagi menghisap penis pak Agil ini. Kujilati memutar, kucucup perlahan dan saat penis itu sudah mengeras kembali, aku memasukkan ke dalam tenggorokanku dalam dalam. Pak Agil melolong keenakan, tapi jelas sekali staminanya sudah terkuras. Ia hanya pasrah saja saat aku terus melakukan deep throat ini, sampai akhirnya penisnya berkedut dan menyemburkan spermanya.

Aku melepaskan kulumanku pada penis pak Agil yang kini sudah terengah engah seperti baru saja berlari maraton. Cie Elvira dengan iseng kembali menghisap penis pak Agil yang sudah loyo itu, membuat pemiliknya sampai memohon mohon supaya cie Elvira dan aku menghentikan semua ini. lho? Kok ganti kami para cewek ini yang memperkosa pak Agil?

Tapi cie Elvira tak perduli, ia terus memaju mundurkan kepalanya, sementara pak Agil terus memohon supaya cie Elvira menghentikan hisapannya. Beberapa saat kemudian, pak Agil mengerang ngerang dan melemas, rupanya pak Agil kembali mengalami ejakulasi. Wajahnya memucat, ia terlihat semakin lemas dan kelelahan.

Cie Elvira melepaskan kulumannya pada penis pak Agil, dan memberiku tanda untuk melanjutkan. Aku segera maju menggantikan cie Elvira, dan ketika pak Agil memohon mohon padaku agak aku menghentikan hisapanku, kupakai kesempatan ini untuk meminta kembali celana dalamku. “Begini saja pak, kembalikan celana dalam saya, maka saya akan menghentikan semua ini”, kataku memberikan tawaran pada pak Agil.

Pak Agil segera menjawab, “Iya non, bapak kembalikan. Ambil saja di gudang sebelah kamar mandi ini, bapak taruh di dalam tas coklat besar”. Mendengar ini, aku pamit pada cie Elvira untuk ke gudang yang dimaksud pak Agil, dan memang di sana kutemukan tas coklat seperti kata pak Agil tadi. Kubuka tas itu, kuambil celana dalamku dan kusimpan dalam tasku sendiri yang tergeletak di kursi panjang itu.

Lalu aku masuk kembali, dan kulihat cie Elvira sedang menghisap pak Agil. Ketika melihatku, cie Elvira menghentikan sejenak hisapannya, dan bertanya padaku, “Gimana Liza, sudah kau temukan?”. Aku mengangguk sambil tersenyum, dan cie Elvira melanjutkan hisapannya kembali, membuat pak Agil yang sudah amat lemas itu mengerang lemah, nafasnya makin ngos ngosan.

Setelah beberapa menit, tubuh pak Agil berkelojotan, dan cie Elvira terus menghisap sampai tak ada lagi sperma yang tertinggal di penis pak Agil. Barulah setelah itu, cie Elvira berdiri dan berkata pada pak Agil, “Ini bayaranmu Gil karena berani mengganggu murid kesayanganku”. Pak Agil hanya diam, spermanya yang sudah diperas habis oleh kami berdua membuatnya amat lemas. Aku dan cie Elvira saling tersenyum, kemudian kami menyempatkan untuk mandi bersama karena tubuh kami kembali berkeringat setelah melakukan pesta sex ini.

Aku dan cie Elvira saling memandikan dan menyabuni tubuh kami masing masing, tanpa larut dalam nafsu birahi. Kami memang bukan lesbian, tadi itu hanya letupan gairah yang luar biasa yang membuat kami berdua melakukan ciuman maut seperti itu. Setelah saling mengeringkan tubuh, kami segera berpakaian, lalu tanpa perduli kami keluar meninggalkan pak Agil yang masih tergolek lemas tak berdaya di lantai kamar mandi ini.

“Cie, Liza pulang dulu ya”, aku pamit pada cie Elvira yang tersenyum manis padaku dan menjawab, “Iya Liza, cie cie juga mau pulang kok. Masa mau di sini terus menemani bandot sialan itu?”. Aku dan cie Elvira tertawa geli, mengingat tukang sapu itu sudah kami taklukkan. Hatiku senang sekali, rasanya aku dan cie Elvira makin akrab saja. Selain itu, besar harapanku bahwa pak Agil tak akan mengulangi perbuatannya hari ini terhadapku pada minggu depan dan seterusnya.

Kami keluar dari sekolah balet ini saat jam menunjuk pukul 9. Beberapa abang becak yang mangkal di sekitar situ agak heran melihat kami berdua, mungkin mereka bertanya tanya ngapain aja dua cewek cantik ini dari tadi di dalam… Tapi aku dan cie Elvira tak perduli. Kami masuk ke mobil dan pulang ke rumah masing masing. Di dalam perjalanan pulang aku kembali teringat akan Vera, dan menduga duga, sejak kapan ya Vera jadi budak seks pak Agil?

Sampai di rumah, aku berharap tak masih harus jadi bulan bulanan pak Arifin, Wawan dan Suwito seperti minggu lalu. Untungnya aku melihat mobil ortuku dan kokoku ada di rumah dan kebetulan sekali kokoku ada di garasi sedang mengutak atik mobilnya. Jadi para pembantu dan sopirku tak berani macam macam untuk mengerjaiku. Aku menyapa kokoku yang juga menyapaku balik. Kokoku pasti tak tahu betapa aku berterima kasih padanya yang ‘menyelamatkanku’ dari kemungkinan digangbang oleh mereka ini

Aku segera masuk ke dalam. Kedua ortuku sudah beristirahat di dalam kamarnya, dan aku segera naik menuju kamarku di lantai dua. Di kamarku, aku segera berganti baju tidur karena tadi sudah mandi di sana. Lalu aku mengistirahatkan tubuhku yang telah berkali kali orgasme di sekolah balet tadi. Rasanya nyaman sekali. Cepat sekali aku tertidur pulas, malas memikirkan kejadian apa lagi yang akan menghiasi kehidupan seksku ini.

Tidak ada komentar: