Minggu, 04 Maret 2012
Kamis, 01 Maret 2012
Titipan Khusus

Namaku Karina, usiaku 17 tahun dan aku adalah anak kedua dari pasangan
Menado-Sunda. Kulitku putih, tinggi sekitar 168 cm dan berat 50 kg.
Rambutku panjang sebahu dan ukuran dada 36B.
Dalam keluargaku, semua wanitanya rata-rata berbadan seperti aku,
sehingga tidak seperti gadis-gadis lain yang mendambakan tubuh yang
indah sampai rela berdiet ketat. Di keluarga kami justru makan apapun
tetap segini-segini saja. Suatu sore dalam perjalanan pulang sehabis latihan cheers
di sekolah, aku disuruh ayah mengantarkan surat-surat penting ke rumah temannya
yang biasa dipanggil Om Robert. Kebetulan rumahnya memang melewati
rumah kami karena letaknya di kompleks yang sama di perumahan elit selatan Jakarta.
Om Robert ini walau usianya sudah di akhir kepala 4, namun wajah dan gayanya masih
seperti anak muda.
Dari dulu diam-diam aku sedikit naksir padanya. Habis selain ganteng dan
rambutnya sedikit beruban, badannya juga tinggi tegap dan hobinya berenang
serta tenis. Ayah kenal dengannya sejak semasa kuliah dulu, oleh sebab itu kami
lumayan dekat dengan keluarganya. Kedua anaknya sedang kuliah di
Amerika, sedang istrinya aktif di kegiatan sosial dan sering pergi ke pesta-pesta.
Ibu sering diajak oleh si Tante Mela, istri Om Robert ini, namun ibu selalu menolak
karena dia lebih senang di rumah. Dengan diantar supir, aku sampai juga di
rumahnya Om Robert yang dari luar terlihat sederhana namun di dalam ada
kolam renang dan kebun yang luas.
Sejak kecil aku sudah sering ke sini, namun baru kali ini aku datang sendiri
tanpa ayah atau ibuku. Masih dengan seragam cheers-ku yang terdiri dari rok
lipit warna biru yang panjangnya belasan centi diatas paha, dan kaos
ketat tanpa lengan warna putih, aku memencet bel pintu rumahnya sambil membawa
amplop besar titipan ayahku. Ayah memang sedang ada bisnis dengan Om Robert yang
pengusaha kayu, maka akhir-akhir ini mereka giat saling mengontak satu sama lain.
Karena ayah ada rapat yang tidak dapat ditunda, maka suratnya tidak dapat
dia berikan sendiri. Seorang pembantu wanita yang sudah lumayan tua keluar dari dalam dan
membukakan pintu untukku. Sementara itu kusuruh supirku menungguku di luar.
Ketika memasuki ruang tamu, si pembantu berkata, "Tuan sedang berenang, Non.
Tunggu saja di sini biar saya beritahu Tuan kalau Non sudah datang."
"Makasih, Bi." jawabku sambil duduk di sofa yang empuk.
Sudah 10 menit lebih menunggu, si bibi tidak muncul-muncul juga, begitu pula
dengan Om Robert. Karena bosan, aku jalan-jalan dan sampai di pintu yang
ternyata menghubungkan rumah itu dengan halaman belakang dan kolam renangnya
yang lumayan besar. Kubuka pintunya dan di tepi kolam kulihat Om Robert
yang sedang berdiri dan mengeringkan tubuh dengan handuk.
"Ooh.." pekikku dalam hati demi melihat tubuh atletisnya terutama bulu-bulu
dadanya yang lebat, dan tonjolan di antara kedua pahanya. Wajahku agak memerah karena
mendadak aku jadi horny, dan payudaraku terasa gatal. Om Robert menoleh dan melihatku
berdiri terpaku dengan tatapan tolol, dia pun tertawa dan memanggilku untuk menghampirinya.
"Halo Karin, apa kabar kamu..?" sapa Om Robert hangat sambil memberikan sun di pipiku.
Aku pun balas sun dia walau kagok, "Oh, baik Om. Om sendiri apa kabar..?"
"Om baik-baik aja. Kamu baru pulang dari sekolah yah..?" tanya Om Robert
sambil memandangku dari atas sampai ke bawah.
Tatapannya berhenti sebentar di dadaku yang membusung terbungkus kaos ketat,
sedangkan aku sendiri hanya dapat tersenyum melihat tonjolan di celana renang
Om Robert yang ketat itu mengeras. "Iya Om, baru latihan cheers. Tante Mella
mana Om..?" ujarku basa-basi. "Tante Mella lagi ke Bali sama teman- temannya.
Om ditinggal sendirian nih." balas Om Robert sambil memasang kimono di tubuhnya.
"Ooh.." jawabku dengan nada sedikit kecewa karena tidak dapat melihat
tubuh atletis Om Robert dengan leluasa lagi.
"Ke dapur yuk..!" "Kamu mau minum apa Rin..?" tanya Om Robert ketika kami
sampai di dapur. "Air putih aja Om, biar awet muda." jawabku asal.
Sambil menunggu Om Robert menuangkan air dingin ke gelas, aku
pindah duduk ke atas meja di tengah- tengah dapurnya yang luas karena tidak
ada bangku di dapurnya.
"Duduk di sini boleh yah Om..?" tanyaku sambil menyilangkan kaki kananku dan
membiarkan paha putihku makin tinggi terlihat. "Boleh kok Rin." kata Om Robert
sambil mendekatiku dengan membawa gelas berisi air dingin. Namun entah karena
pandangannya terpaku pada cara dudukku yang menggoda itu atau memang beneran
tidak sengaja, kakinya tersandung ujung keset yang berada di lantai dan Om
Robert pun limbung ke depan hingga menumpahkan isi gelas tadi ke baju dan
rokku. "Aaah..!" pekikku kaget, sedang kedua tangan Om Robert langsung menggapai
pahaku untuk menahan tubuhnya agar tidak jatuh.
"Aduh.., begimana sih..? Om nggak sengaja Rin. Maaf yah, baju kamu jadi
basah semua tuh. Dingin nggak airnya tadi..?" tanya Om Robert sambil buru-
buru mengambil lap dan menyeka rok dan kaosku. Aku yang masih terkejut hanya diam
mengamati tangan Om Robert yang berada di atas dadaku dan matanya yang nampak
berkonsentrasi menyeka kaosku. Putingku tercetak semakin jelas di balik kaosku
yang basah dan hembusan napasku yang memburu menerpa wajah Om Robert.
"Om.. udah Om..!" kataku lirih. Dia pun menoleh ke atas memandang wajahku
dan bukannya menjauh malah meletakkan kain lap tadi di sampingku
dan mendekatkan kembali wajahnya ke wajahku dan tersenyum sambil mengelus rambutku.
"Kamu cantik, Karin.." ujarnya lembut. Aku jadi tertunduk malu tapi tangannya
mengangkat daguku dan malahan menciumku tepat di bibir. Aku refleks memejamkan mata
dan Om Robert kembali menciumku tapi sekarang lidahnya mencoba mendesak masuk
ke dalam mulutku. Aku ingin menolak rasanya, tapi dorongan dari dalam tidak dapat berbohong.
Aku balas melumat bibirnya dan tanganku meraih pundak Om Robert, sedang tangannya sendiri
meraba-raba pahaku dari dalam rokku yang makin terangkat hingga terlihat
jelas celana dalam dan selangkanganku. Ciumannya makin buas, dan kini Om Robert turun
ke leher dan menciumku di sana. Sambil berciuman, tanganku meraih pengikat kimono Om Robert dan
membukanya. Tanganku menelusuri dadanya yang bidang dan bulu-bulunya yang lebat, kemudian mengecupnya lembut. Sementara itu tangan Om Robert juga tidak mau kalah bergerak mengelus celana dalamku dari luar, kemudian ke atas lagi dan meremas payudaraku yang sudah gatal sedari tadi.
Aku melenguh agak keras dan Om Robert pun makin giat meremas-remasdadaku yang montok itu.
Perlahan dia melepaskan ciumannya dan aku membiarkan dia melepas kaosku dari atas. Kini aku duduk hanya mengenakan bra hitam dan rok cheersku itu. Om Robert memandangku tidak berkedip.
Kemudian dia bergerak cepat melumat kembali bibirku dan sambil french kissing, tangannya melepas kaitan braku dari belakang dengan tangannya yang cekatan. Kini dadaku benar-benar telanjang bulat.
Aku masih merasa aneh karena baru kali ini aku telanjang dada di depan pria yang bukan pacarku. Om Robert mulai meremas kedua payudaraku bergantian dan aku memilih untuk memejamkan mata dan menikmati saja. Tiba-tiba aku merasa putingku yang sudah tegang akibat nafsu itu menjadi basah, dan
ternyata Om Robert sedang asyik menjilatnya dengan lidahnya yang panjang dan tebal.
Uh.., jago sekali dia melumat, mencium, menarik-narik dan menghisap-hisap puting kiri dan
kananku. Tanpa kusadari, aku pun mengeluarkan erangan yang lumayan keras, dan itu
malah semakin membuat Om Robert bernafsu. "Oom.. aah.. aaah..!"
"Rin, kamu kok seksi banget sih..? Om suka banget sama badan kamu, bagus
banget. Apalagi ini.." godanya sambil memelintir putingku yang makin mencuat dan tegang.
"Ahh.., Om.. gelii..!" balasku manja. "Sshh.. jangan panggil 'Om', sekarang panggil 'Robert' aja ya, Rin. Kamu kan udah gede.." ujarnya.
"Iya deh, Om." jawabku nakal dan Om Robert pun sengaja memelintir kedua putingku lebih keras lagi. "Eeeh..! Om.. eh Robert.. geli aah..!" kataku sambil sedikit cemberut namun dia tidak menjawab malahan mencium bibirku mesra. Entah kapan tepatnya, Om Robert berhasil meloloskan rok dan celana
dalam hitamku, yang pasti tahu-tahu aku sudah telanjang bulat di atas meja dapur itu dan
Om Robert sendiri sudah melepas celana renangnya, hanya tinggal memakai kimononya saja.
Kini Om Robert membungkuk dan jilatannya pindah ke selangkanganku yang sengaja kubuka selebar-lebarnya agar dia dapat melihat isi vaginaku yang merekah dan berwarna merah muda. Kemudian
lidah yang hangat dan basah itu pun pindah ke atas dan mulai mengerjai klitorisku dari atas ke bawah
dan begitu terus berulang-ulang hingga aku mengerang tidak tertahan.
"Aeeh.. uuh... Rob.. aawh.. ehh..!" Aku hanya dapat mengelus dan menjambak rambut Om Robert dengan
tangan kananku, sedang tangan kiriku berusaha berpegang pada atas meja untuk menopang tubuhku agar tidak jatuh ke depan atau ke belakang. Badanku terasa mengejang serta cairan vaginaku terasa
mulai meleleh keluar dan Om Robert pun menjilatinya dengan cepat sampai vaginaku terasa kering kembali.
Badanku kemudian direbahkan di atas meja dan dibiarkannya kakiku menjuntai ke bawah, sedang Om Robert melebarkan kedua kakinya dan siap- siap memasukkan penisnya yang besar dan sudah tegang dari tadi ke dalam vaginaku yang juga sudah tidak sabar ingin dimasuki olehnya.
Perlahan Om Robert mendorong penisnya ke dalam vaginaku yang sempit dan penisnya mulai menggosok-
gosok dinding vaginaku. Rasanya benar-benar nikmat, geli, dan entah apa lagi,pokoknya aku hanya memejamkan mata dan menikmati semuanya.
"Aaww.. gede banget sih Rob..!" ujarku karena dari tadi Om Robert belum berhasil juga memasukkan seluruh penisnya ke dalam vaginaku itu. "Iyah.., tahan sebentar yah Sayang, vagina kamu juga sempitnya.. ampun deh..!"
Aku tersenyum sambil menahan gejolak nafsu yang sudah menggebu. Akhirnya setelah lima kali lebih
mencoba masuk, penis Om Robert berhasil masuk seluruhnya ke dalam vaginaku dan pinggulnya pun mulai
bergerak maju mundur. Makin lama gerakannya makin cepat dan terdengar Om Robert mengerang keenakan.
"Ah Rin... enak Rin.. aduuuh..!" "Iii.. iyaa.. Om.. enakk.. ngentott.. Om..terusss.. eehh..!" balasku sambil merem melek keenakan. Om Robert tersenyum mendengarku yang mulai meracau ngomongnya.
Memang kalau sudah begini biasanya keluar kata-kata kasar dari mulutku dan ternyata itu membuat Om Robert semakin nafsu saja.
"Awwh.. awwwh.. aah..!" orgasmeku mulai lagi. Tidak lama kemudian badanku
diperosotkan ke bawah dari atas meja dan diputar menghadap ke depan meja, membelakangi Om Robert yang masih berdiri tanpa mencabut penisnya dari dalam vaginaku. Diputar begitu rasanya
cairanku menetes ke sela-sela paha kami dan gesekannya benar-benar nikmat.
Kini posisiku membelakangi Om Robert dan dia pun mulai menggenjot lagi dengan gaya doggie style. Badanku membungkuk ke depan, kedua payudara montokku menggantung bebas dan ikut berayun-ayun setiap kali pinggul Om Robert maju mundur. Aku pun ikut memutar-mutar pinggul dan pantatku. Om Robert mempercepat gerakannya sambil sesekali meremas gemas pantatku yang semok dan putihitu, kemudian berpindah ke depan dan mencari putingku yang sudah sangat tegang dari tadi. "Awwh.. lebih keras Om.. pentilnya.. puterrr..!" rintihku dan Om Robert serta
merta meremas putingku lebih keras lagi dan tangan satunya bergerak mencari klitorisku.
Kedua tanganku berpegang pada ujung meja dan kepalaku menoleh ke belakang melihat Om Robert yang
sedang merem melek keenakan. Gila rasanya tubuhku banjir keringat dan nikmatnya tangan Om Robert di mana- mana yang menggerayangi tubuhku. Putingku diputar-putar makin keras sambil sesekali payudaraku diremas kuat. Klitorisku digosok-gosok makin gila, dan hentakan penisnya keluar masuk vaginaku makin cepat. Akhirnya orgasmeku mulai lagi. Bagai terkena badai, tubuhku mengejang kuat dan lututku lemas sekali.
Begitu juga dengan Om Robert, akhirnya dia ejakulasi juga dan memuncratkan spermanya di dalam
vaginaku yang hangat. "Aaah.. Riin..!" erangnya. Om Robert melepaskan penisnya dari
dalam vaginaku dan aku berlutut lemas sambil bersandar di samping meja dapur dan mengatur napasku. Om
Robert duduk di sebelahku dan kami sama-sama masih terengah-engah setelah pertempuran yang seru tadi.
"Sini Om..! Karin bersihin sisanya tadi..!" ujarku sambil membungkuk dan menjilati sisa-sisa cairan cinta tadi di sekitar selangkangan Om Robert. Om Robert hanya terdiam sambil mengelus rambutku yang sudah acak-
acakan. Setelah bersih, gantian Om Robert yang menjilati selangkanganku, kemudian dia mengumpulkan pakaian seragamku yang berceceran di lantai dapur dan mengantarku ke kamar mandi. Setelah mencuci vaginaku dan memakai seragamku kembali, aku keluar menemui Om Robert yang ternyata sudah memakai kaos dan celana kulot, dan kami sama-sama tersenyum.
"Rin, Om minta maaf yah malah begini jadinya, kamu nggak menyesal kan..?"
ujar Om Robert sambil menarik diriku duduk di pangkuannya. "Enggak Om, dari dulu Karin emang
senang sama Om, menurut Karin Om itu temen ayah yang paling ganteng dan baik." pujiku. "Makasih ya Sayang, ingat kalau ada apa-apa jangan segan telpon Om yah..?" balasnya. "Iya Om, makasih juga yah
permainannya yang tadi, Om jago deh." "Iya Rin, kamu juga. Om aja nggak nyangka kamu bisa muasin Om kayak tadi." "He.. he.. he.." aku tersipu malu.
"Oh iya Om, ini titipannya ayah hampir lupa." ujarku sambil buru-buru menyerahkan titipan ayah pada Om
Robert. "Iya, makasih ya Karin sayang.." jawab Om Robert sambil tangannya meraba
pahaku lagi dari dalam rokku. "Aah.. Om, Karin musti pulang nih, udah sore." elakku sambil melepaskan diri
dari Om Robert. Om Robert pun berdiri dan mencium pipiku lembut, kemudian mengantarku ke mobil dan aku pun pulang.
Di dalam mobil, supirku yang mungkin heran melihatku tersenyum-senyum sendirian mengingat kejadian tadi pun bertanya. "Non, kok lama amat sih nganter amplop doang..? Ditahan dulu yah Non..?" Sambil menahan tawa aku pun berkata,
"Iya Pak, dikasih 'wejangan' pula.."
Supirku hanya dapat memandangku dari kaca spion dengan pandangan tidak mengerti dan aku hanya membalasnya dengan senyuman rahasia. He..he..he..
Mencoba Kejantanan Prajurit

Pada suatu sore saat aku dengan Dewi temanku dalam perjalanan di jalan bebas hambatan, waktu itu hujan cukup deras sehingga jalanan kurang nampak jelas dari kaca mobil kami. Dewi yang memegang setir pada waktu itu sebenarnya juga mengendarai dengan hati-hati, tapi karena sedang apes mobil yang kami naiki itu keluar jalur dan mobilnya terperosok ke dalam parit.
Untung Dewi tidak ngebut sehingga kami berdua selamat dan tidak mengalami lecet sedikit pun. Karena mobilnya terperosok ke dalam parit, maka kami tidak bisa langsung membawa mobil ke jalur yang semestinya lagi.
“Waduh.. Sus! Nggak bisa keluar nih bannya, mana HP-ku habis batterainya, wah! Gimana nih?” Dewi panik dan sepertinya kehabisan akal.
“HP-ku juga nih, mana hujan lagi, sepi kendaraan lagi, kalau gini sich! Meski ada orang yang memperkosa kita nggak pa-pa deh! Asal kita diantar pulang saja”, aku ngomong sekenanya.
“Gila kau Sus, tapi benar juga asal jangan kasar-kasar kali ya, hehehe..!”
“Loh! Semakin kasar semakin nikmat lagi, hahaha..!” kami tertawa seakan-akan kami sudah terlepas dari masalah.
“Sus, kalau kita di dalam mobil saja, kita akan di sini sampai mampus”, gerutu Dewi.
“Habis gimana lagi, di luar kan hujan gitu.”
“Yah kamu, nggak takut diperkosa, masak takut sama hujan, ya sudah aku saja yang keluar, kucoba dorong mobil ini keluar dari lubang”, Dewi nekat dengan semangat empat lima dia keluar dan mulai mendorong moncong depan mobil sialan ini.
Aku melihat Dewi berusaha dengan keras dan mengerahkan seluruh tenaganya, tapi mobil sialan ini tidak bergerak sedikit pun.
“Sus! Hidupin mesinnya!” Dewi teriak-teriak, kuhidupkan mesin lalu giginya kuganti gigi mundur, ternyata mobil hanya bergeming sedikit saja. Lalu aku ikut keluar dan juga mencoba mendorong sama-sama dan ternyata tidak membawa perubahan yang berarti.
“Ya.. nggak bisa juga Wik”, keluhku.
“Iyah, tapi bodimu cukup bagus basah-basah gini Sus..”
“Kamu itu mabok ya? Tapi bodimu juga terlihat bagus”, lalu kami tertawa-tawa.
“Hei..! Sus itu ada mobil, kita cegat yuk”, sambil Dewi menunjuk ke arah mobil truk yang semakin mendekat, dan kemudian kami bergegas berlari sampai ke tengah jalan dan melambai-lambaikan kedua tangan kami.
Dan kami berhasil, truk itu ternyata adalah truknya tentara.
“Kenapa kalian? Kenapa dengan mobilnya?” Teriak supir truk, dan kami menghampirinya,
“Itu Pak mobil kami masuk parit, jadi mobil kami tidak bisa jalan lagi nih Pak!” kujawab dengan nada yang mesra.
“O iya! Hei! Anak-anak bantu nyonya-nyonya ini ayo cepat.” Kemudian turun empat orang dari belakang truk itu.
“Mari Nyonya, anda yang pegang kemudi”, kata salah satunya dengan tegas kepadaku, lalu kujawab, “Loh, kok Nyonya sih, kan aku masih muda dan single lagi”, sambil kugoda dia, huh badannya tegap, tampangnya nggak jelek-jelek amat, tapi yang penting kan bodinya kekar.
Kucoba menghidupkan mesin lagi beberapa kali tapi tak mau hidup-hidup, waduh kenapa ya?, dan kulihat ternyata bensinnya sudah habis.
“Waduh Mas bensinnya habis, ada cadangan ngak mas-mas ini”, teriakku.
“Waduh maaf Nona kami tak punya..”
“Yah sudah, kalau gitu kami ikut kalian saja”, setelah kami mengambil tas, kami langsung naik truk mereka.
Setelah masuk, dengan santainya aku melepas bajuku yang basah di hadapan keempat prajurit yang tidak jelas pangkatnya itu, kulihat mereka menatap kami tanpa berkedip sedikit pun, lalu kudekati salah satu dari mereka setelah pakaianku terlepas semua. “Kenapa? suka dengan bodiku hmm…” godaku. Kulihat jakunnya naik turun dan matanya tak henti-hentinya melihat payudaraku yang boleh dibilang montok dan seksi cukup mengoda pokoknya. Lalu kupegang tangannya, kudekatkan ke bongkahan payudaraku, “Gruuungg!” suara itu tiba-tiba merusak suasana hening,
“Hei! Jangan berangkat dulu”, mereka berempat bergegas mendekati jendela sopir, entah apa yang mereka bicarakan.
“Sus, kamu sudah gila ya?” tegur Dewi yang terlihat agak malu-malu tapi mau.
“Sudahlah, lagian kita kan kedinginan butuh penghangat dong”, sambil kucubit susu kirinya dan Dewi pun tersenyum dan mulai melepas bajunya.
Mesin truk tak lama kemudian mati lagi dan keempat prajurit itu dengan cepat melucuti bajunya masing-masing. “Nona jangan salahkan kami, karena kami sudah empat bulan tidak pernah menyentuh wanita, mungkin nanti agak kasar”, kata salah seorang prajurit yang hanya tinggal celana dalamnya saja yang menempel di tubuhnya.
Kemudian dia mendekap tubuhku lalu langsung melumat halus bibirku, ternyata dia mahir memainkan lidahnya, nafasku habis rasanya, dan sekilas kulihat prajurit yang lain menggelar terpal dalam tuk yang cukup luas itu dan kulihat Dewi sudah mulai dikerjai seorang prajurit yang mulai membelai, mencium dan mengulum dada montok milik Dewi.
Setelah beberapa saat berciuman, prajurit yang berhadapan denganku mulai mencium leher di bawah telingaku sambil mendesah-desah merasakan kenikmatan, setelah itu dia merambat mengerjai susu sebelah kiriku dengan liar dan ganas.
Ssst! Sunguh nikmat sekali. Dengan tiba-tiba badanku ditarik lalu dibaringkan ke atas terpal kasar di lantai truk itu. Sekilas kulihat supir tadi juga mulai naik, kemudian dengan tergesa-gesa melepas pakaiannya sampai polos, lalu mendekatiku dan menuju selangkanganku, kemudian dia menjilati liang kewanitaanku, langsung aku mendesis dan mengeram, dengan tiba-tiba prajurit yang tadi membaringkanku langsung menghimpit kepalaku dengan selangkangannya, kemudian dengan cepat kulepas celana dalamnya.
Setelah keluar batang kemaluannya kemudian langsung kulahap batang kemaluan yang lumayan besar itu. Kukulum-kulum dan kusedot kuat-kuat hingga prajurit itu mengeram-ngeram sambil menekan-nekan kepalaku sampai aku sesak nafas. Sesekali aku mendengus dan mendesis akibat ulah supir truk yang mejilat dan menggigit lembut klitorisku, sampai tubuhku mengejang lalu tak lama kemudian sepertinya tumpah semua cairan dalam liang kewanitaanku.
Aku tetap sibuk dengan batang kemaluan yang ada dalam mulutku lalu kurasakan payudaraku ada yang meremas dan sesekali dikulum-kulum. Sungguh kewalahan aku melayani mereka. Dengan tiba-tiba aku mendengar erangan Dewi tepat di sebelah kiri kupingku, ternyata dia sedang dalam keadaan tengkurap di antara kedua prajurit. “Gilaaa Susss.. ughhh.. ssst!” Dewi mulutnya ngomel-ngomel nggak karuan sambil merem-melek tak berdaya.
Gila, Dewi dikerjai depan belakang. Lalu prajurit-prajurit yang mengerjaiku berusaha membimbingku untuk nungging, setelah nungging di atas salah seorang dari mereka dan setelah batang kemaluan prajurit di bawahku tepat di antara bibir kewanitaanku, pantatku ditarik dengan keras-keras hingga masuk semua betang kemaluan prajurit itu dengan lancar karena liang kewanitaanku sudah licin.
Setelah beberapa kali genjotan prajurit yang lain berusaha memasukkan batang kemaluannya ke dalam anusku. “Ssst.. aaah.. aaah!” Gila sakit banget, baru kali ini anusku digarap orang. “Aaakkh..!” aku menjerit sekuat tenaga begitu batang kemaluan prajurit yang besar itu masuk ke dalam anusku. Selang beberapa saat, terasa juga nikmatnya gesekan dari dua lubangku yang sebelumnya tidak terbayang, meski rasa sakit masih menyertai.
Kemudian tubuhku mengejang dan sampailah aku pada klimaks kedua, tapi kuperhatikan kedua prajurit itu masih sibuk menggenjotku. Pelir besar tiba-tiba berada di wajahku, kemudian peler itu didorongnya ke mulutku yang kemudian kukulum dan kusedot, di sela-sela desisan dan eranganku. “Ayo Nona sedot yang kuat!” kata prajurit itu sambil menekan-nekan kepalaku. “Uuugh.. aaakh.. essst!” suara geraman dan desisan silih berganti saling sahut menyahut dalam truk itu.
Saat kulihat di sebelah, Dewi terkapar dan lemas, sesekali dia mengeram karena prajurit itu masih getol menyetubuhi Dewi. Gila rasanya aku mau keluar untuk ketiga kalinya sebentar lagi, beberapa saat kemudian kurasakan kedua prajurit yang menyetubuhiku depan belakang mengeram serta merangkul kuat-kuat tubuhku dan kemudian kurasakan liang kewanitaan dan duburku tersembur cairan yang hangat hampir bersamaan, aku pun mencapai klimaks yang ketiga.
Setelah aku mencapai klimaks, aku semakin bersemangat mengulum dan menyedot batang kemaluan di hadapanku sampai pada akhirnya cairan hangat itu menyembur memenuhi rongga tenggorokanku. Lalu prajurit itu melepaskanku dan bergerak menjauhiku. Dan kulihat Dewi pun mulai di tinggal sendirian, kemudian kelima prajurit itu mendekat. “Ayo sini kita gantian, aku pingin rasain juga dia”, kata salah satu dari mereka sambil tertawa-tawa, waduh habis aku.
Dua prajurit yang menyetubuhi Dewi mendekat, lalu satu dari mereka menggendongku dan kemudian setelah pelernya tepat di tengah-tengah liang kewanitaanku, aku sedikit diturunkan dan amblas sudah batang kemaluannya tertelan liang kewanitaanku tanpa halangan. Aku disetubuhinya sambil berdiri, sambil tangannya tak henti-hentinya naik turun dengan posisi aku merangkul erat tubuhnya, kemudian dari belakang duburku disodok peler dari belakang, aku menjerit dan mengeram kesakitan, buah dadaku digerayanginya dengan brutal.
Setelah beberapa saat aku dikerjain berdiri, aku diturunkan kemudian aku disuruh mengangkangi seorang prajurit, dan setelah pas masuklah kembali peler besar itu dalam liang kewanitaanku, dan yang lain menyusul menimpaku dari belakang, dan bukannya masuk ke duburku melainkan juga masuk ke dalam liang kewanitaanku, gila ini prajurit, dengan kasar dan brutal akhirnya masuk juga pelernya meski hanya setengahnya, tapi sakitnya bukan main aku menjerit-jerit minta ampun tapi tidak di gubrisnya.
Karena mungkin tidak memuaskan dia, maka peler yang masuk hanya setengah itu dicabutnya kemudian dengan serta-merta menyodokkan ke duburku dengan keras, lalu mengosoknya dengan brutal, tak lama kemudian dia mencapai klimaks, setelah beberapa saat lalu batang kemaluannya dicabutnya.
Sekarang aku berkonsentrasi pada satu orang saja, aku merubah posisiku dengan posisi nangkring di atas selangkangannya, kemudian aku mulai naik turun dan sedikit goyang kanan kiri, hingga tak lama kemudian pertahanannya terlihat sedikit goyang, begitu pula aku sepertinya aku akan mencapai klimaks keempat kalinya. Setelah beberapa saat kurasakan liang kewanitaanku di sembur cairan hangat dan kemudian aku pun mencapai klimaks yang keempat kalinya, kami pun saling menggeram, lalu aku menggulirkan tubuhku di samping prajurit yang terlihat lemas.
Kulihat Dewi masih di kerjai tiga orang prajurit, Dewi meringis-ringis sambil terus dijejali batang kemaluan prajurit yang besar itu. Karena aku merasa kasihan dengan Dewi dengan sedikit sempoyongan kuhampiri mereka kemudian kutarik salah satu dari mereka yang sedang getol-getolnya ngerjai dubur Dewi lalu kukangkangi dia, setelah tepat posisi pelernya diantara bibir kewanitaanku, kududuki dan langsung masuk seluruh batang kemaluan prajurit itu.
Kugoyang-goyang dengan gencar hingga prajurit itu kewalahan menghadapi seranganku, membuatnya tak kuasa menahan lahar spermanya, menyemburlah spermanya dalam liang kewanitaanku. Karena aku belum mencapai klimaks lagi kepalang tanggung sehinga aku tetap menggoyang pinggulku sampai aku mencapai klimaks.
Setelah selesai prajurit-prajurit itu mengerjaiku dan Dewi mereka terlihat lelah. Aku menghampiri Dewi, kulihat wajahnya sudah lelah, “Gimana Wik?” bisikku. “Wah! habis aku, sampai aku klimaks lima kali Sus”, Dewi menjawab pertanyaanku dengan sisa-sisa tenaganya. Setelah itu kami minta diantar ke rumah kontrakanku dan kemudian aku menghubungi jasa mobil derek kemudian kami istirahat setelah kami mandi bersama.
Reuni dan Pesta 2

Sayangnya aku belum puas, pasti karena aku minum obat kuat. Lia bangkit dan kemudian duduk di sofa, untuk beristirahat. Namun Joe menghampirinya, dan membuka kaki Lia ke kanan dan kekiri sehingga mengangkang, kemudian siap menusukkan batangnya pada liang kenikmatan Lia.
“Aduhh.. Joe, nanti dulu dong, gue masih lemes nih…” pinta Lia memelas.
Tapi Joe tidak memperdulikannya dan menghunjamkan batangnya. Kasihan juga si Lia. Aku melihat berkeliling. Sebenarnya aku ingin mencicipi lubang milik Ami. Saat itu kulihat Ami baru saja selesai orgasme, sementara Dani masih kelihatan bernafsu. Aku pun menghampiri Ami dan tanpa basa basi kukatakan ingin menyetubuhinya.
“Mi, gue mau ama loe nih. Gue masukin punya gue ya?” Ami mengangguk pelan.
Dengan posisi berdiri, aku memasukkan kemaluanku ke dalam liang miliknya secara perlahan. Aku menikmati setiap momen saat batang kemaluanku memasuki vaginanya hingga penuh berada dalam rahimnya. Ohh… akhirnya! Inilah rasanya liang kenikmatan Ami, yang dulu selalu kuimpikan.
Seluruh urat di kemaluanku berdenyut-denyut dan darahku berdesir hebat saat itu. Kupeluk pinggangnya, dan Ami pun memelukku dengan erat sambil menggoyangkan pinggangnya. Dua gundukan daging di dadanya yang montok itu menekan dadaku, bergesek-gesek menimbulkan kenikmatan tersendiri dari kekenyalannya.
Dani pun tidak tinggal diam. Ia membuka pantat Ami, dan menyodomi Ami. Ami berteriak keras saat anusnya ditembus oleh Dani.
“Aduuuhhh… p.. elan-pelan… Dan, sakiit…”
Gila juga sebenarnya.
Suaminya sedang asyik meyetubuhi Lia, sementara aku dan Dani menggarap Ami habis-habisan. Aku melirik seklias ke arah Feby yang tengah mengeluar-masukkan sesuatu benda ke dalam kemaluan Rinda. Yang jelas Rinda mendesah-desah dibuatnya sambil mencengkram payudara Feby.
Kembali aku berkonsentrasi dengan Ami. Aku menyodok dengan kuat dan cepat. Dani mengimbangi, sehingga Ami mengeluarkan jeritan-jeritan tertahan akibat dua kemaluan laki-laki keluar masuk di dua lubang miliknya. Dani bahkan menjilati tengkuk dan leher Ami, membuat Ami semakin liar. Sampai akhirnya Ami mencapai klimaks kenikmatannya, mengeluarkan rintihan yang pelan tapi panjang. Kepala Ami terkulai di bahuku. Aww… yang benar saja!
Aku belum puas. Dari dulu aku sangat menginginkan untuk menyetubuhi Ami sampai puas. Maka tanpa memperdulikan kondisi Ami yang sudah letih, aku terus menggenjot. Ami hanya mengerang. Dani melepaskan kemaluannya dari anus Ami dan entah mencari Rinda, Lia, ataukah Feby, aku tidak memperdulikannya. Konsentrasiku saat itu berpusat pada Ami. Secara konstan batangku berulangkali menyodok. Gairah Ami muncul kembali, dan dia pun mulai bergoyang mengimbangiku. Namun karena adanya pengaruh obat kuat yang kukonsumsi, sampai Ami mencapai orgasme lagi pun aku masih tetap bertahan dan terus menggenjot. Hingga akhirnya aku merasakan sangat geli pada seluruh kemaluanku dan batang kemaluanku berdenyut-denyut.
“Amii… gue mau.. keluar niiih….” aku berbisik pada Ami.
“Keluar di dalem aja, Van… lagi safe koq…” balasnya berbisik pula.
Berkali-kali alat kelaminku menyemprotkan sperma ke dalam rahim Ami. Ahh… puasnya tubuh dan hatiku, karena keinginanku sejak kuliah dahulu tercapai sudah.
Selama beberapa saat kami tetap berpelukan dan kemaluanku masih tertancap dalam kemaluannya. Setelah itu tubuhku berpisah dengannya. Aku beristirahat di sofa, sedangkan Ami merebahkan dirinya telentang di atas karpet. Dadanya bergerak naik turun seiring nafasnya. Kulihat Joe sedang berbicara dengan Feby.
“Gue belum nyobain loe nih, Feb. Ayo dong, please..!” kudengar Joe merayu.
Feby hanya tersenyum, “Jangan sekarang deh. Mendingan kita tidur aja. Liat tuh, udah pada selesai semua.”
“Wah… gue juga belum coba, Feb” kata Dani.
Hm… berarti si Feby ini belum di’coblos’ sama sekali dari tadi. Kalau dipikir-pikir memang dari semula dia hanya mengulum batang kemaluan kami para cowok dan memain-mainkan vagina cewek lain. Curang juga… tapi aku sendiri memang sudah setengah mengantuk, walaupun masih ada sisa-sisa nafsuku.
Akhirnya kami berlima selain Joe dan Ami bertelanjang bulat tidur di kamar tamu, satu ranjang, campur baur. Sebelum benar-benar terlelap, aku dapat merasakan bahwa aku tengah mengenggam payudara seseorang entah siapa, dan seseorang yang entah siapa juga tengah menggenggam kemaluanku (kuharap itu bukan Dani).
Pagi harinya Feby membangunkanku. Masih sangat pagi. Kulihat Dani, Rinda, dan Lia masih pulas. Aku pun masih lumayan mengantuk.
“Van, gue mau mandi nih. Mau ikut ngga?”
Tawaran begini tidak mungkin kusia-siakan.
Aku mengangguk dan mengikutinya ke kamar mandi. Hmmm… ada bath tub-nya! Hebat juga si Joe ini. Feby menyalakan air panas untuk mengisi bath tub tersebut. Kami berdua duduk di sisi bath tub.
“Mau gue pijat ngga, Van?” tawar Feby.
“Mau dong!” jawabku antusias.
Feby tertawa renyah, dan mengambil posisi di belakangku. Lalu ia mulai memijat kepalaku.Enak rasanya, aku merapatkan diri ke tubuhnya sehingga dadanya yang lunak menyentuh punggungku.Batang kejantananku mulai keras.
“Eeh.. nakal ya?” katanya.
Aku hanya tertawa, tapi tanganku mengusap-usap pahanya. Halus… Pijatannya beralih ke bahuku.
“Biasanya Fay suka pijatin loe kaya gini ngga?” Feby bertanya.br>”Kadang-kadang. Tapi loe lebih bertenaga dari dia. Pijatan loe lebih terasa..”
“Mau yang lebih terasa?”
Tangan kanan Feby turun dari bahuku menuju selangkanganku, lalu mulai mengusap-usap milikku. Aahh… enaknya… Tubuhnya semakin dirapatkan ke tubuhku. Dadanya semakin tertekan ke punggungku, dan aku juga dapat merasakan bulu-bulu kemaluannya pada pantatku.
“Ah.. enak banget Feb. Bener-bener kerasa…”
“Enak ya? Bagus dong…” katanya.
“Gue suka ama ini deh..” Feby berkata lagi sambil mengelus kedua telur di selangkanganku, lalu meremas dengan sangat lembut.
Aduh… enaknya… caranya mirip sekali dengan Fay. Gairahku naik. Namun Feby menghentikan gerakannya.
“Nanti dulu. Campur ama sedikit air dingin biar jadi anget.”
Lalu Feby menyalakan keran air dingin. Sebentar saja sudah bath tub-nya sudah penuh. Kamiberdua masuk sekaligus. Feby berada di depanku. Hangat sekali rasanya. Tanganku memeluk perut Feby, dan kuciumi lehernya. Feby kegelian.
“Gue sabunin ya?” Feby menawarkan padaku. “Tapi nanti loe juga sabunin gue.”
“Beres!” jawabku.
Kami keluar dari bath tub. Feby mengambil sabun dan mulai menyabuni seluruh tubuhku termasuk selangkanganku. Rasanya geli dan enak.
Di bagian tersebut Feby beroperasi lebih lama dari bagian lainnya. Aku kemudian ganti menyabuni tubuhnya. Feby bergumam pelan saat aku menyabuni buah dadanya. Lalu aku mengosok selangkangannya dengan perlahan, membuat Feby menggelinjang. Gairahku semakin meningkat. Aku berdiri di hadapannya, memeluk pinggangnya dan langsung mencium bibirnya. Feby membalas dengan bernafsu dan memelukku dengan erat. Cukup lama kami berciuman dan bermain lidah.
Aku meremas pantatnya dan mulai mengesek-gesekkan kemaluanku yang penuh sabun dan sudah tegang 100% dengan klitorisnya. Feby kembali menggumamkan sesuatu yang tidak jelas. Beberapa saat kemudian Feby sudah tidak tahan.
“Aahh… aahh… langsung aja, Van. Gue udah kepingin nih…” Feby berteriak.
Aku membawanya kembali ke bath tub untuk membersihkan sabun yang ada pada tubuh kami. Kami mengambil posisi duduk berhadapan dan aku mendudukkan Feby dengan vaginanya tepat pada batangku.
Bless… Amblas penisku ditelan vaginanya.
Tubuh kami bersatu dalam kenikmatan. Gerakan Feby yang luar biasa membuatku kewalahan. Aku bertahan agar tidak cepat keluar. Memang pada akhirnya Feby lebih dahulu mencapai orgasmenya. Tidak lama aku menyusulnya mencapai orgasme dan memuntahkan spermaku ke dalam tubuhnya. Kami berciuman kembali setelah merasakan kepuasan. Air di dalam bath tub hanya tersisa setengahnya akibat permainan kami. Kami lalu bangkit dan duduk di sisi bath tub.
“Loe hebat deh, Van. Kuat banget mainnya..” puji Feby.
Vagina Feby sedikit kurang jepitannya. Kalau saja milik Feby sempit dan ketat seperti Fay, pasti aku kalah dengan tehnik yang dimilikinya.
“Loe juga hebat koq, Feb..”
“Enak mana gue ama Fay?”
Aku hanya terdiam. Bingung menjawabnya.
“Lebih enak sama Fay, ya?” kejarnya.
“Koq jadi dibandingin ama Fay sih?”
“Loe ngga heran kenapa gue bisa tau disini ada pesta seks?”
Nah lho! Di pikiranku muncul satu kemungkinan.
“Dari Fay?” tebakku.
Feby mengangguk. Aku bingung dibuatnya. Darimana Fay tahu kalau kami mau pesta “assoy”?”Fay kasih tau kalo ada pesta seks di rumah Joe. Ya.. gue dateng aja! Dia juga bilang kalo loe ikut.” jelas Feby.
“Waktu itu gue tanya, dia koq ngga marah, padahal tau loe main cewek. Dia bilang, dia udah tau kalo loe suka main cewek. Jadi waktu nikah sama loe dia udah siap terima resikonya. Tapi dia titip sesuatu buat loe, lewat gue..”
“Apaan tuh?”
“Ini nih..,” kata Feby sambil meraih batang kemaluanku yang sudah mulai lemas, mengangkatnya ke atas, lalu menepuk telurku dengan keras.
“PLOKK..!”
“WADAAAWW..,” teriakku.
Mataku terasa berkunang-kunang, dan perutku mulas sekali. Selangkanganku berdenyut-denyut. Selama beberapa saat aku hanya mengerang sambil memegangi “si korban”. Feby tertawa kecil.
Sial!
“Jangan salahin gue ya? Itu titipan dari Fay. Kalo mau bales, bales aja ama dia.”
“Sialan loe..,” aku hanya memaki.
Setelah itu kami kembali membasuh tubuh kami dengan shower. Siangnya, bersama dengan Joe, Ami, Lia, dan Rinda, kami berjalan-jalan keliling Jakarta dan makan-makan di restoran. Hingga sorenya kami kembali ke rumah Joe. Malamnya kami pulang ke rumah masing-masing. Sebelum pulang, Feby memberikan sebuah bungkusan kepadaku.
“Kalo mau bales Fay, pake ini aja.”
Aku membukanya, dan… hehehe…. ini cocok sekali buat membalas si Fay.
Sampai di rumah, Fay menyambutku.
Ekspresi wajahnya tenang saja, seakan tidak terjadi apa-apa.
“Gimana? Senang ya pestanya…”
“Koq Fay tau ada pesta disana?”
“Dari Ami..,” jawabnya.
“Fay bohongin dia di telepon, bilang kalo Ivan udah kasih tau Fay soal pestanya.
Ami ngira Fay udah tau, jadi dia langsung cerita semuanya deh.”
Aku manggut-manggut. Bego juga si Ami. Tapi kalau tidak begitu, Feby kan tidak datang.
“Udah terima titipan Fay?” tanyanya sambil tersenyum.
Aku hanya melotot. “Titipan Fay bahaya, tahu!”
“Biarin! Biar Ivan ngga sembarangan.” katanya penuh kemenangan.
Aku sebal dibuatnya. Aku ambil pemberian Feby tadi, yaitu sebutir pil kuat dan dua butir pil perangsang nafsu.
Cukup buat tetap perkasa semalam suntuk. Aku menuju kulkas dan langsung meminumnya. Efeknya langsung terasa. Aku merasa sangat-sangat bergairah.
“Minum apaan tuh?” Fay bertanya penuh selidik.
“Fay, si bibik udah tidur belum?” aku balas bertanya tanpa memperdulikan pertanyaannya.
“Udah koq..,”
“Kalo gitu, Ivan mau bales titipan Fay tadi. Ivan mau perkosa Fay disini, sekarang juga!”
Fay mendelik, “Apa-apaan sih?”
Aku langsung menerkamnya. Fay menjerit. Biar kugarap Fay semalam suntuk! Hehehe…
Reuni dan Pesta 1

Setelah ngobrol tidak menentu cukup lama, tiba-tiba saja Joe bertanya pada Dani, “Dan, gimana istri loe? Asyik ngga?”
Ditanya begitu, Dani malah menjawab, “Ya lumayan deh. Tapi ngga seseksi Ami, sih!”
Aku dan Joe tertawa saja.
Dulu Ami, istri Joe memang jadi idola kami bertiga. Maklum saja karena Ami memang cantik sekali, seksi, dan energik. Tapi akhirnya Joe lah yang berhasil mendapatkannya. Sahabat kami yang lainnya, Fay, akhirnya menjadi istriku.
“Hahaha… masih ada hati ama Ami loe, ya!” aku menimpali.
“Yeeh… loe juga ngebet ama dia kan?” balas Dani.
Aku hanya nyengir saja mendengarnya, lalu membalas, “Dulu sih iya.., tapi kalo sekarang gue pilih Fay deh…”
Tiba-tiba Joe memotong, “Eh, denger omongan loe tadi, gue punya ide nih.”"Ide apaan? Pasti ide gila nih.. dari dulu ide loe ngga pernah bener!” komentarku bercanda.”Bisa dibilang gitu sih..” jawab Joe.Aku dan Dani heran mendengar jawabannya. Kami berdua hanya terbengong tanpa merespon.
Joe langsung menjelaskan, “Gini.., Senin depan libur kan? Nah, loe berdua mau ngga nginep di rumah gue..?”
“Hah? Istri gue gimana..?” potong Dani heran.
“Bilang aja ama dia kalo loe mau nginep di rumah gue. Kan udah lama ngga ketemu!” timpal Joe, sedikit kesal.
“Nanti disana, kita pesta ‘assoy’.”
“Pesta seks? Gila loe! Jangan macem-macem deh!” sungut Dani.
Aku sendiri sebenarnya tertarik dengan ide Joe itu.
“Kenapa ngga? Pasti asik deh…” pancing Joe.
“Gue sih mau aja,” jawabku. “Tapi si Dani mau ngga?”
Dani terlihat berpikir. Tidak lama dia bicara, “Loe udah rencanain mateng Joe? Terus, si Ami gimana?”
“Hahaha… pokoknya beres deh! Everything is under control. Ceweknya dijamin yahuud dan bebas penyakit!” balas Joe.
Akhirnya Dani setuju. Maka rencana gila Joe itu akhirnya diterima secara bulat.
Di rumah, aku bicara pada Fay kalau aku mau menginap di rumah Joe Senin depan.
Mulanya dia diam saja, tapi kemudian dia tanya, “Ivan ngapain disana?”
“Ya… kan udah lama ngga ketemu. Boleh dong nginep sekali-sekali…” jawabku.
Fay diam sebentar… mikir dia, “Disana mau macem-macem ya?”
“Macem-macem gimana?”
“Main cewek misalnya..”
“Nggaaak…”
“Bo’ong nih!”
“Bo’ong juga ngga ketauan koq!” jawabku asal.
Fay hanya mencibir, lalu balik badan membelakangiku, dan langsung tidur.
Sebagai info, Fay ini badannya mungil. Tidak sampai sepundakku tingginya. Jelas dia cakep, walaupun kalah dari Ami. Bodinya cukup bagus, pinggangnya ramping, kulitnya bersih dan mulus karena dia rajin merawat badan. Kami menikah baru sekitar setahun yang lalu.
Pada hari yang ditentukan, aku menuju rumah Joe. Fay kutinggal di rumah bersama pembantuku, si bibik. Sampai di rumah Joe, ternyata Dani sudah ada disana. Kami dijamu makan siang, oleh Joe dan Ami. Hmm… si Ami ini masih tetap cantik dan seksi sekali bodinya. Sayang kulitnya kalah bagus dibanding Fay. Setelah makan, kami ngobrol dan istirahat. Lalu sorenya kami bermain badminton di halaman rumah Joe yang luas.
Dan pada saat itulah tiba-tiba datang dua orang cewek yang lumayan menarik. Ternyata mereka teman Ami.
Setelah keduanya masuk ke dalam untuk bertemu Ami, Joe mendekati kami dan berbisik, “Gimana menurut loe berdua cewek-cewek itu?”"Boleh juga,” jawabku, “Tapi Fay lebih oke!”
“Yee… loe ini..,” Joe sebal. “Makan tuh si Fay..!”
“Cakep koq..” komentar Dani.
“Naah… itu dia hidangan pesta nanti malem..” Joe menjelaskan sambil nyengir mesum.
“Hah? Gila loe! Mereka kan temennya Ami?”
“Justru Ami ngundang mereka ke sini buat ‘begitu’!”
“Yang bener loe?” timpal Dani takjub. “Si Ami ikut juga pesta nanti malem?”
“Liat nanti aja deh,” jawab Joe membuat aku dan Dani penasaran bercampur nafsu.
Jelas saja, kalau Ami ikut pasti benar-benar ‘assoy’.
Malamnya, selesai makan dan sikat gigi serta tidak lupa meminum obat kuat, Joe mengajak kami berkumpul di ruang tengah. Disana aku melihat Ami bersama dua orang temannya memakai baju yang benar-benar seksi.
Wah, lihat saja si Dani! Sampai melotot matanya.
Ami memperkenalkan kedua temannya pada kami. Yang satu namanya Lia. Wajahnya oke juga. Tubuhnya cukup seksi, apalagi jika memakai baju seperti itu, dengan hanya mengenakan celana dalam serta kaos yang bawahnya buntung tepat di dada, sehingga memperlihatkan sekitar 25% buah dadanya, bagian bawah.
Bahkan aku dapat melihat sedikit bagian lingkar putingnya. Nilai 7,5 buat cewek yang ini. Sedangkan yang seorang lagi, lebih cantik dari Lia, Rinda namanya. Bodinya juga lumayan oke, walaupun tidak sebagus Lia. Bajunya itu lho… tepatnya bukan baju, tapi semacam kain yang melintang hanya menutupi tengah buah dada dan puting, ditambah celana super pendek.
Seksinya.., nilai 7,5 juga buat dia.
Sedangkan Ami sendiri hanya mengenakan semacam bikini yang bagian atasnya terlalu ketat, sehingga ‘buah-buahan’ miliknya yang memang montok itu seperti akan keluar. Ooh… inginnya aku meremas buah itu. Jelas dia pantas dapat nilai 9.
Joe lalu menyetel musik disco dan mengajak kami berjoget. Joget yang hot! Aku berpasangan dengan Lia, Dani berpasangan dengan Rinda. Gerakan joget ketiga cewek itu memang sangat merangsang. Apalagi dengan baju seperti itu, membuat buah dada mereka berguncang-guncang secara liar, sehingga batang milikku menjadi tegang. Tanganku beberapa kali menyentuh bagian bawah buah dada Lia yang terbuka. Bahkan terkadang
Lia dengan santainya mendekap tanganku ke dadanya, membuat darahku berdesir merasakan kekenyalan payudara tersebut.
Ditengah keasyikan tersebut, tiba-tiba bel berdering, sehingga kami menghentikan kegiatan. Aku, Dani dan Joe keluar untuk melihat siapa yang datang. Ternyata salah seorang teman kami semasa kuliah dulu, Feby. Seingatku dia cukup akrab dengan Fay dan Ami. Kami heran, ada urusan apa dia datang?
Dan kami sangat terkejut ketika dia bertanya, “Loe semua lagi pesta kan? Gue diundang Ami kesini.”
“Oh.. ya udah, masuk aja deh..” Joe mempersilakan.
Dalam hati aku bersorak. Tambah lagi cewek yang ikut. Bisa puas berat nih.
Sampai di dalam, Ami sendiri kaget melihat Feby.
Feby hanya tersenyum, “Lagi pesta apa nih? Koq bajunya pada minim begitu?”
“Eh.. eng… ngga koq…” Jawab Ami grogi. “Loe… ada apa ke sini Feb?”
Kami kaget juga, karena ternyata Feby bukan diundang oleh Ami. Bisa gawat ini urusannya.
“Kebetulan aja… tapi gue rasa loe semua mau pesta seks ya? Gue boleh ikut ngga?”
Ha? Mana mungkin kami menolak? Perduli amat dia kebetulan datang atau tidak.
Hehehe…. Feby lumayan oke, wajahnya manis dan tinggi langsing. Tanpa basa-basi Feby langsung melepaskan bajunya, sehingga dia tinggal mengenakan pakaian dalamnya yang semi transparan. Joe kembali menyalakan musik.
Bahkan kali ini Joe menyalakan televisi besar yang ada di ruangan tersebut, dan menyetel film biru yang menambah panas suasana.
“Hai, para cowok buka bajunya doong! Masa kalah sama gue sih?” tiba-tiba Feby menantang sambil melepas bra dan melemparkannya ke arahku, lalu kembali berjoget dengan hot.
Aksi Feby tersebut diikuti oleh Ami, Lia, dan Rinda. Tentu saja kami tidak mau ketinggalan. Kami bertiga melepas seluruh baju kami, menyisakan celana dalam saja. Jadilah kami bertujuh hanya tinggal mengenakan celana dalam sambil berjoget.
Rinda mendekati Dani, dan kemudian tangannya melepaskan celana dalam Dani sehingga batang kejantanannya yang sudah keras itu mengacung tanpa tertutup. Rinda turut melepas celana dalamnya, dan merapatkan tubuhnya pada tubuh Dani. Kemudian mereka berdua saling menggesekkan alat kelamin mereka secara berirama.
Rinda sampai mendesah-desah keenakan. Aku sendiri langsung mendekap tubuh Lia dari belakang, dan meraih kedua buah dadanya yang terbuka. Payudara yang lembut dan kenyal itu kuremas-remas, putingnya kucubit perlahan dan kupuntir membuat pemiliknya merem-melek keenakan.
Kemudian tangan kananku menyusup ke balik celana dalamnya, dan menjelajahi daerah kewanitaanya. Aku merasakan bulu-bulu keriting halus disana. Lia merintih perlahan saat aku menggesek-gesekkan jariku pada gundukan daging yang ada disana.
Sementara itu Feby melepas celana dalamku, dan tangannya yang halus terasa nikmat menyentuh batang milikku, menggosok-gosok dan membelai batangku.
Tidak lama kemudian aku merasa hangat dan basah pada batangku, dan ternyata Feby telah mengulumnya. Mataku sampai terpejam saat Feby mulai menyedot maju mundur sambil memainkan “telur”-ku dengan jari-jarinya. Ah… nikmat sekali.
Remasanku pada buah dada Lia menjadi semakin kuat, dan jariku kumasukkan untuk mengorek liang vaginanya, sehingga Lia mengeluarkan suara, “Ouhh… ahh….”
Ami yang saat itu sudah telanjang bulat, mendekat dan menjilati vagina Feby yang saat itu tengah berjongkok mengulum kemaluanku. Tangan Ami menggerayangi kedua payudara Feby.
Sementara Joe menggunakan kesempatan ini dengan menusuk kemaluan istrinya yang terbuka lebar, karena Ami mengangkang. Joe menyodok dengan dahsyat, sehingga tubuh Ami berguncang keras dan kedua gumpalan daging di dadanya bergerak seiring. Aku akhirnya tidak tahan untuk tidak mencicipi buah dada Lia. Kubalikkan tubuh Lia menghadapku.
Kedua buah dadanya yang montok kusedot, kucubit dan kuremas bergantian, membuat Lia mengeluarkan teriakan tertahan.
Sementara kulihat Dani sudah memasukkan batangnya ke dalam vagina Rinda dari arah belakang. Posisi Rinda yang menungging membuat kedua payudaranya berjuntai liar. Lia meminta Feby untuk menghentikan kulumannya di kemaluanku.
“Feb, gue udah ngga tahan nih… loe udahan yach?”
Feby pun melepaskan mulutnya dari kemaluanku. Lia mendorongku hingga posisiku telentang, kemudian dia menggenggam batang kemaluanku dan diarahkan ke liang sanggamanya.
“Siap ya, Van. Kita mulai…” kata Lia sambil duduk di atas kemaluanku dan kemaluanku amblas ditelan oleh vaginanya.
Lia mendesah sesaat ketika seluruh batangku berada dalam kehangatan vaginanya, dan kemudian mulai bergerak naik turun. Amboi… alat kelaminku terasa disedot oleh vaginanya yang hangat, basah dan legit. Gesekan yang terjadi antara dinding vaginanya dengan kemaluanku membuatku seperti melayang-layang keenakan. Apalagi dengan posisi seperti ini aku dapat melihat jelas ekspresi kenikmatan di wajahnya serta buah dadanya yang membulat kencang.
Tiba-tiba Ami datang dan menyodorkan buah dadanya yang montok itu ke wajahku seraya berkata, “Van, nyusu dulu ya?”
Aku segera meraih buah dadanya yang indah itu dan mengulum putingnya.
“Ahhh… isep yang kuat, Van..!” pinta Ami.
Aku menggigit putingnya dan memainkan lidahku pada ujung putingnya. Kukulum puting itu dengan bernafsu, sementara kulihat Dani mengarahkan batangnya yang berkilat-kilat ke arah selangkangan Ami, dan… “Aaaahhhhhhh…..” Ami mendesah panjang saat batang kejantanan Dani memasuki rahimnya, dan Dani langsung beraksi menyodok-nyodok.
Di lain pihak, Rinda sedang melumat kemaluan Joe dengan mulutnya, sedangkan Joe sendiri tengah asyik menyusu pada Feby. Rintihan dan erangan kenikmatan bercampur baur saat itu diiringi dengan musik, membuat gairah kami semakin memuncak. Lia semakin mempercepat gerakan naik turunnya, menambah dahsyat kenikmatan yang kurasakan dari gesekan dengan dinding kemaluannya. Kedua tangannya meraih tanganku dan membimbing ke arah payudaranya yang bebas. Lalu dia meremas kedua payudaranya sendiri dengan kuat menggunakan tanganku.
“Aaahh… Ssh.. e.. nak banget, Van.. ahss..” Lia mendesis.
Aku pun merasa sangat nikmat dengan daging payudara wanita di kedua tanganku serta di mulutku.
Lia semakin cepat naik turun sampai akhirnya dia mengejang karena orgasmenya dengan melepas sebuah teriakan kenikmatan.
Lia terkulai di atas tubuhku.
Aku melepaskan hisapanku dari puting susu Ami dan memeluk Lia.
Sabtu, 25 Februari 2012
Kakak Sahabatku

Nama Gw Dicky, duduk di bangku kelas 2 sma swasta yang cukup terkenal di kota Bandung. Pas sekolah, gw punya sohib-sohib temen ngumpul, dibandingin ama temen-temenku yg lain, gw termasuk yang paling minus, berbadan ceking, berkulit sawo matang, dan paling sederhana (alias paling miskin,hehe), hanya satu saja yang bisa kubanggakan.. yaitu tongkolku yang termasuk diatas rata-rata.
Diantara sohibku yang paling kaya dan keren (terbukti dari banyaknya fans ceweknya) adalah Andre. Ke sekolah udah bawa mobil bmw walaupun tahun agak lama, kulit putih dan pembawaan yang cool. Tapi Andre punya kelakuan yg minus, sering mabuk-mabukan, dan maen cewek, walaupun ama gw dia ga pernah ngajak-ngajak. Soalnya dia tau kalo ngajak gw, musti ikut ngemodalin gw juga.. hehe.
Sebagai anak paling kaya, Andre sering ngajak temen-temennya nginep di rumahnya yang hanya ditinggali oleh dia dan kakak ceweknya Astri beserta para pembantunya, sementara ortunya tinggal diluar kota dan sesekali datang berkunjung ke rumahnya. Sebagai anak yang kurang berada, gw paling betah kalo disuruh nginep dirumahnya Andre selain makanan terjamin dan fasilitas hiburan yang lengkap, gw bisa puas ngeliat Astri, kakaknya andre. Astri menurut gw seperti bidadari, punya bodi seperti model2 di tipi, wajah sangat cantik dan yang suka bikin konak adalah Toketnya yang bulet mengacung. Usianya dengan Andre cuman beda 1,5 tahun, dan sekarang baru kuliah tingkat pertama.
Pas nginep,sering banget kita nonton tipi bersama, dan kalo malem gw tau kak Astri jarang pake BH, dan cuman pake celana yang sangat pendek. Seringkali gw ketiban rejeki, pas datang ke rumah Andre, Kak Astri sedang ketiduran di sofa tempat nonton tipi,sehingga gw bisa lihat dengan jelas belahan pantatnya yang montok ngintip disela-sela celana pendeknya yang agak longgar.Atau sering juga ngeliat cetakan putingnya yang menyembul dibalik kaos tipis saat dia nonton tipi sambil nyender di sofa. Pernah juga, pas gw lagi minum di dapur, kak Astri keluar dari kamar mandi cuman dibalut handuk doang hingga gw bisa liat dadanya yang montok nyembul ama pahanya yang putih mulus. Kalo udah gitu, gw biasanya langsung ngibrit ke kamar mandi, menuntaskan hasrat yang terpendam sambil ngebayangin ngentotin kak Astri yang cantik bin montok itu.
Beda dengan Andre, setau gw, Kak Astri termasuk cewek rumahan,dan pinter,terbukti dia bisa masuk kuliah di jurusan yang cukup favorit di Bandung, kak Astri juga gw perhatiin jarang keluar rumah, apalagi dugem, seringnya diem di rumah, nonton tipi, baca buku atau nyerewetin pembantu untuk ngasi tau apa aja yang harus diberesin, dll.. ya seperti ibu rumah tangga.. mungkin karena ibunya jarang ada disitu, dan kak Astri termasuk penyuka kerapihan dan kebersihan jadinya dia yang bertugas sebagai pengatur rumah tangga disitu.
Berhubung kak Astri merupakan kakak sohib gw, plus dia cantik dan kaya sedangkan gw miskin dan ga terlalu keren, gw ga pernah bermimpi buat ngedeketin dia supaya dia bisa jadi pacar gw. Cukup dengan melihat dia,(plus onani sambil bayangin dia) rasanya sudah cukup memuaskan bagi gw (menyedihkan ya?.. ).
Sampai akhirnya gw ketiban rejeki yang paling luar biasa…
Sampai akhirnya gw ketiban rejeki yang paling luar biasa…
***
Hari minggu pagi gw pas lagi suntuk banget, ga ada kerjaan, mau maen pun males kalo sendirian, akhirnya gw pun mencoba nelpon Andre siapa tau dia juga lagi suntuk dan pengen maen keluar, kan lumayan bisa nebeng maen gratisan.. .. cuman berkali-kali ditelpon ga diangkat-angkat, gw nyangkanya si Andre pasti masih molor nih.. seperti biasa, akhirnya gw berinisiatip untuk langsung datang ke rumahnya.
Nyampe rumahnya suasana rada sepi, pembantunya biasanya kalo minggu emang sering meliburkan diri dan jalan-jalan setelah kerjaanya pada kelar. Berhubung gw dah sering kesana jadi udah berasa rumah sendiri. Setelah berkali-kali bilang permisi, ga ada yang jawab, akhirnya gw coba buka pintu garasinya (biasanya memang kita keluar masuk lewat pintu belakang/garasi), ternyata ga dikunci.. akhirnya gw nyelonong masuk aja..
Nyampe rumahnya suasana rada sepi, pembantunya biasanya kalo minggu emang sering meliburkan diri dan jalan-jalan setelah kerjaanya pada kelar. Berhubung gw dah sering kesana jadi udah berasa rumah sendiri. Setelah berkali-kali bilang permisi, ga ada yang jawab, akhirnya gw coba buka pintu garasinya (biasanya memang kita keluar masuk lewat pintu belakang/garasi), ternyata ga dikunci.. akhirnya gw nyelonong masuk aja..
Gw yakin si Andre pasti masih tidur jam segini, setelah semalaman dugem, cuman buat mastiin gw coba ngelangkah ke kamarnya Andre. Pas jarak tinggal semeter lagi ke arah pintu kamar Andre, gw denger rintihan2 yang mencurigakan. Wah.. jangan2 si andre lagi ngentot nih di kamarnya. walaupun gw uda sering denger cerita si andre tentang cewek2 yg pernah diajak ml ama dia, gw belum percaya sebelum liat sendiri (no picture=hoax, ).
Jantung gw langsung berdegup kencang, diliputi penasaran yang menjadi-jadi, karena jangankan ngeliat orang mL secara live, liat cewek telanjang didepan gw pun belom pernah. Dengan mengendap-endap, gw ngintip di lubang kunci kamarnya Andre.
Jantung gw langsung berdegup kencang, diliputi penasaran yang menjadi-jadi, karena jangankan ngeliat orang mL secara live, liat cewek telanjang didepan gw pun belom pernah. Dengan mengendap-endap, gw ngintip di lubang kunci kamarnya Andre.
Di balik lubang kunci, gw ngeliat Andre duduk di kasur, ga pake baju, sementara bagian pinggang kebawah ketutup ama selimut yang bergerak-gerak pas dibagian selangkangannya. Andre nampak merem melek sangat menikmati. Rasa penasaranku tentang apa yang terjadi dibalik selimut tidak lama terbayar ketika perlahan selimutnya terjatuh sehingga terlihat jelas sosok perempuan yang hanya terlihat rambutnya doang sepertinya sedang mengulum penis Andre
.
Ya ampun…gw kaget pas ngeliat, ternyata perempuan itu adalah Astri kakaknya sendiri yang tampak sangat menikmati penis adiknya Andre.
Astri terliat ahli memblow job andre, dia menjilati penis Andre kemudian memasukannya ke dalam mulutnya hingga penis andre tenggelam seluruhnya.
Astri terliat ahli memblow job andre, dia menjilati penis Andre kemudian memasukannya ke dalam mulutnya hingga penis andre tenggelam seluruhnya.
Ngeliat itu tentu saja gw ngaceng berat walaupun sedikit heran, kok bisa kakak beradik berbuat kayak gitu.
Sambil ngocok tongkol gw,gw terusin ngintip apa yang ada di dalam kamar.
Selimut yang menutupi tubuh andre akhirnya turun hingga ku bisa lihat dengan jelas apa yang terjadi di dalam kamar. Andre sudah telanjang bulat, sementara kak Astri masih pake baju piyama panjang. Andre memegang kepala astri yang mengangguk-angguk menjilati penisnya, sementara tangan andre satu lagi mulai meremas toket astri yang masih terbungkus baju.
Tangan andre bergerak melepas kancing piyama kak Astri yang saat itu dalam posisi agak menungging, satu per satu hingga bagian atasnya terlepas dan langsung meremas toket astri yang seperti dugaanku sangat sempurna,bulat mengacung dan kencang. kak Astri melepaskan kulumannya kemudian bergerak melepaskan baju piyama dan celananya, menyisakan celana dalamnya hingga tubuhnya yang mulus terpampang sempurna.
Setelah itu kak Astri melanjutkan lagi kulumannya pada Andre. Ngeliat tubuh kakaknya sudah polos, andre mulai bereaksi lebih, dia mulai meremas dada Astri yang kenyal, kemudian mencium dan menjilati puting kakaknya satu per satu yang membuat Astri melenguh kenikmatan. Kedua kakak beradik itu kemudian saling berciuman, terlihat mereka memainkan lidahnya. Sambil berciuman andre menurunkan celana dalam pink bergambar hello kitty milik kakaknya, astri pun membantu melepaskan cd nya hingga mereka kini telanjang total.
Astri menduduki selangkangan andre kemudian menggerakan pinggulnya maju mundur untuk menggesekan memeknya ke batang p3nis andre, sementara andre masih giat menciumi leher, bibir dan toket kakaknya yang kenyal. Tak lama kemudian, Astri mengangkat pinggulnya sedikit kemudian tangannya merogoh penis andre lalu menggesek-gesekan ujung palkon adiknya ke lubang mem3knya, dimasukan perlahan-lahan, hingga akhirnya… blesss… masuk sepenuhnya diiringi oleh desahan mereka secara bersamaan.
Astri mulai menggerakan pinggulnya naik-turun, maju mundur, mulai dari pelan-pelan hingga terlihat jelas batang konti andre keluar masuk mem3k astri kakaknya. Kemudian astri menggerakan pinggulnya lebih cepat dengan RPM tinggi..desahan mereka semakin keras terdengar. Hingga akhirnya..”croottt….!.. mereka terlihat mengejang secara bersamaan…
Kocokan memek astri pada batang adiknya pun terhenti.. mereka berdua melemas… astripun beringsut berbaring di samping adiknya.. hingga kini gw bisa lihat lubang mem3knya yang menganga penuh dengan cairan peju adiknya..
Begitu juga gw yang udah ikut2an crott di luar di pintu kamar andre.. untung ga nyemprot kemana-mana nih..
Gw yang nyadar pergumulan mereka sudah selesai dan ada kemungkinan keluar, maka gw langsung keluar rumah lagi supaya ga ketauan lagi ngintip.
Sebagai perjaka tingting yang belom pernah punya cewek (ga laku dan ga pede nyari), punya pengalaman ngeliat hubungan intim secara live sekaligus tak lazim membuat gw panas dingin setiap kali inget itu, dan bisa ditebak, pelampiasannya adalah jatah belanja sabun nyokap gw makin meningkat. Nyokap juga sempet heran, anaknya yg semata wayang yaitu gw yang mandinya jarang-jarang tapi sabun bisa cepet abis.
Sekarang tiap kali deket2 kak Astri, tegangan makin tinggi, ngebayangin gerakan pinggulnya yang lincah mengaduk-aduk penis andre bikin gw ga kuat lama-lama. Sampe akhirnya gw kebal, ga cukup cuman masturbasi, gw pengen yang asli !!.
Gw akhirnya mulai serius nyari-nyari peluang supaya bisa bedua ama kak Astri dan minta.. gw yakin dia mau.. kalau enggak.. gw bakal ngancem nyeritain hubungan ga lazim dia dengan adiknya. Nyari kesempatan itu agak sulit karena Andre selalu ada di pas gw ketemu ama kak Astri, atau malah seringnya jarang ketemu.. sampe akhirnya kesempatan itu datang juga.
Pas hari sekolah, gw tau Andre sedang ada kerja kelompok dengan temen2 kelas yang lain, dan kebetulan gw ga sekelompok ama dia. Dan setau gw, andre ngerjainnya di sekolah dan pasti lama, karena tugasnya rada rumit.
Kesempatan buat gw nih.. mudah2an kak Astri ada di rumah dan sendirian!!…
Dengan jantung deg2an karena sudah ngebayangin jauh kedepan dan gemeteran, gw cabut ke rumah Andre pas bubaran sekolah. Senyampenya dirumah Andre, tongkolku udah ngaceng duluan, karena udah ngebayangin bisa ngentot ama kak Astri yang sangat nafsuin itu. Pas ketok pintu,yang buka si Ipang, pembantunya yang kalau kutaksir umurnya masih smp yang bertugas sebagai pesuruh.
Gw langsung masuk ke rumah, si Ipang yang dah kenal ama aku langsung masuk ke kamarnya yang berada di belakang garasi.
Celingak-celinguk di rumah gede itu, dengan hati berdebar-debar, gw mencari kak Astri. Beruntung ternyata kak Astri lagi duduk di lantai sambil nulis di meja.
Celingak-celinguk di rumah gede itu, dengan hati berdebar-debar, gw mencari kak Astri. Beruntung ternyata kak Astri lagi duduk di lantai sambil nulis di meja.
Lagi-lagi dengan posisi duduk yang menggugah selera, kak Astri saat itu pake baju kaos kutung dengan ketiak yang terbuka dan rok span mini. Dia menulis bersila, sehingga Cdnya yang berwarna putih berendra tampak mengintip dibalik sela-sela paha putihnya yang mulus.
Perasaanku makin ga karuan, ingin rasanya kutubruk dan kuperkosa saat itu juga, tetapi seperti biasa aku ga punya keberanian untuk itu.
Kak Astri senyum ngeliat gw, sambil ngasi tau klo Andre blom datang dan nyuruh gw nunggu aja. Sambil ngobrol-ngobrol mataku dah jelalatan ngeliatin belahan dada yang ngintip di balik kaos kutungnya yang longgar.
Mulanya gw bingung mau mulai dimana untuk ngutarain maksud bahwa kedatanganku kesana tidak lain adalah untuk nagih jatah kenikmatan seperti yang diberikan pada adiknya. Setelah sempat mau mengurungkan niat karena dah grogi duluan akhirnya gw berani juga ngomong, itu pun karena kak Astri agak heran ngeliat kelakuanku yang grogi gak jelas.
“kamu kenapa sih dik? kayaknya tegang banget??” tanya kak Astri,
Akhirnya gw pun terus terang kepada kak Astri tentang aku yg ngeliat pergumulannya dengan Andre. Dia kaget, mukanya yang putih memerah. Tetapi dia bisa menenangkan dirinya, kemudian bertanya..”siapa lagi yang mengintip saat itu?, siapa aja yang sudah tau?”..selidiknya..
Akhirnya gw pun terus terang kepada kak Astri tentang aku yg ngeliat pergumulannya dengan Andre. Dia kaget, mukanya yang putih memerah. Tetapi dia bisa menenangkan dirinya, kemudian bertanya..”siapa lagi yang mengintip saat itu?, siapa aja yang sudah tau?”..selidiknya..
aku pun menjawab kalo yg ngeliat cuman aku, dan aku pun belom pernah cerita ama siapapun..
Sesaat dia tampak lega.. “ya udah kalo gitu, makasi ya dik.. tolong jangan diceritain ke yang lain”.. katanya tegas.
“I..iya.. kak.. diki ga bakal cerita ke yang lain.. tttapi…. ” ujarku tak mampu melihat wajahnya..
“tapi apa dik?” tanya
“boleh ga.. saya minta imbalannya.. mbak..” akhirnya keluar juga kata-kata itu, yang makin menjurus pada tujuan gw.
“kamu jangan macem-macem ya.. sudah untung kamu saya maapin masuk ke rumah orang dan ganggu privasi orang lain.. pake minta imbalan segala.. kamu cerita ke yang lain pun ga masalah.. emang siapa yang percaya ama akamu?! sana keluar !! jangan pernah injak rumah ini lagi!! akan kakak laporin juga ke Andre biar dia ngehajar kamu sekalian !!” bentak kak Astri.
waks… responnya diluar dugaan.. bukannya dapet jatah malah diusir dari rumah itu.. udah gitu gw juga takut kalo dia beneran lapor ke Andre, bisa2 persahabatan gw ama dia ancur
dan gw bisa dihajar ama Andre.Nyaliku langsung ciut.
.
“..aduh.. tolong kakak jangan marah.. diki kan cuman nanya aja.. tapi kalo ga boleh juga gapapa kak…jangan dilaporin ke Andre ya kak.. diki janji ga bakal bilang ke orang lain”kataku panik…
“ya udah.. sana keluar..!” bentak kak Astri masih marah..
“iya mbak.. maafin saya ya mbak…. ” sahutku memelas..sambil berlalu pergi keluar dari rumah itu dan pulang naik angkot menuju rumah.
“..aduh.. tolong kakak jangan marah.. diki kan cuman nanya aja.. tapi kalo ga boleh juga gapapa kak…jangan dilaporin ke Andre ya kak.. diki janji ga bakal bilang ke orang lain”kataku panik…
“ya udah.. sana keluar..!” bentak kak Astri masih marah..
“iya mbak.. maafin saya ya mbak…. ” sahutku memelas..sambil berlalu pergi keluar dari rumah itu dan pulang naik angkot menuju rumah.
Pikiranku berkecamuk saat itu, ternyata yang terjadi tidak sesuai dengan rencana, selama di angkot, aku mengutuki diri sendiri.. kenapa sampe punya keinginan kayak gitu..
padahal Andre udah baek banget ama gw selama ini.
Pas turun dari angkot, perasaanku makin bimbang dan bingung. Aku berpikir sebelum Andre tau, gw mesti yakinin kak Astri untuk maafin gw dan tidak lapor ke Andre.
padahal Andre udah baek banget ama gw selama ini.
Pas turun dari angkot, perasaanku makin bimbang dan bingung. Aku berpikir sebelum Andre tau, gw mesti yakinin kak Astri untuk maafin gw dan tidak lapor ke Andre.
Gw pun balik lagi ke rumah Andre, dengan berharap kak Astri udah lebih tenang.
Jarak rumah gw dengan Andre ga terlalu jauh tapi ga dekat juga, dengan naek angkot bolak-balik yang diselingi macet, dalam waktu sekitar 45 menitan gw dah nyampe lagi di rumah Andre. Dengan tekad yang kuat untuk meminta maaf gw memberanikan diri masuk lagi ke rumah itu.
Setelah berkali-kali mengucapkan permisi, salam, tidak ada respon, maka gw pun masuk ke rumah itu langsung menuju ruangan tempat belajar kak Astri tadi. Cuman sayang, dia tidak ada.
Wah kemana dia nih… bisa bahaya kalo sampe dia marah terus.
Gw pun pergi ke kamar si Ipang buat nanyain dimanakah kak Astri berada. Dengan buru-buru gw langsung menuju kamar Ipang dan membuka pintunya secara tiba-tiba.
Gw pun pergi ke kamar si Ipang buat nanyain dimanakah kak Astri berada. Dengan buru-buru gw langsung menuju kamar Ipang dan membuka pintunya secara tiba-tiba.
Dan astaga, gw kaget dan penghuni kamar juga kaget..
Gw liat kak Astri sedang menungging dengan berpegangan pada ujung meja di kamar Ipang, sementara si Ipang, bocah yang umurnya masih 14 tahunan itu sedang menyodoknya dari belakang. Astri masih berpakaian lengkap, kaos kutung, tapi rok spannya sudah tersingkap ke atas sementara cdnya melorot kebawah di bagian paha sementara si Ipang berdiri dibelakang masih memakai baju tanpa celana dengan penis yang tenggelam di balik memek ka astri.
“Mau ngapain kamu balik lagi?”… tanya kak Astri sambil menoleh.. si Ipang juga kaget, tapi mereka tidak merubah posisinya mungkin gara2 ga sempet sehingga mereka masih mematung dalam posisi yang menggairahkan itu…
“Sa..sa.. saya mau minta maaf.. kak”..kataku sambil mata masih terpaku ngeliat mereka.
“lanjutin aja pang..” kata kak Astri.. Ipang yang kaget sepertinya agak kendor nafsunya terbukti kontolnya udah rada lemes.
“euh.. gara-gara diki nih.. dah Pang cuekin aja.. kita lanjutin” Astri cuek aja membalikan badannya kemudian tangannya mengocok kontol Ipang yang terlanjur lemes, dapet rangsangan dan aba2 kayak gitu, gak lama kontol Ipang mengeras lagi.... kemudian Astri dengan cueknya kembali menungging,
menangkap kontol Ipang dan memasukan ke memeknya serta menggenjotnya lagi ke belakang.
Ipang yang udah pulih nafsunya kembali mengocok memek nona majikannya yang seksi montok itu.
Ipang sepertinya malu ama gw, dia ga berani ngeliat, matanya merem, tangannya memegang pinggul Astri dan menyodoknya dari belakang.
Gw terpaku melihat pemandangan itu, Astri yang cantik bak bidadari, sedang dientot Ipang, pembantunya yang masih bocah, berkulit hitam dan gendut, sama sekali ga ganteng.
one lucky bastard !! batinku dalam hati…
Si otong dah otomatis menggelembung dibalik celana katunku.
“kak.. kenapa ama Ipang mau… sama diki ga mau?..” tanyaku penasaran..
disela-sela desahannya.. Astri menjawab.. “Ipang cuman gw pinjem kontolnya doang..pas gw lagi butuh.. assh.. assh.. thats it… dia ga boleh nyentuh toket gw, atau badan gw yang lain.. cuman ngocokin memek gw yang gatel..asssh… terus pang… ewe gw pang… biar si diki liat…assh… “
Karena mereka ga malu ngentot didepan gw, gw pun ga malu ngeluarin kontol gw yang dah ngaceng dari tadi.. untuk onani.. dasar amatir memang.. padahal memek mulus didepan mata.. masih aja pake tangan sendiri..
pas ngeliat kontol gw yang tegak berdiri, gemuk dan sedikit kehitaman.. kak Astri kayaknya tergoda.. dia ngelirik ke gw dengan mata saya dan wajah yang memerah penuh nafsu.. menahan kenikmatan akibat dientot dengan gaya doggy style ama Ipang.
“assh..ashhh.. kontol lu gede banget dik… “..
Kemudian dia ngasi aba-aba ke Ipang untuk berhenti ngentotin dia, tapi dasar Ipang sudah nanggung dia malah makin kenceng ngentotin kak Astri.
“Sini dik.. duduk di kasur.. buka celana mu”perintah kak Astri..
Gw ga mikir apa-apa lagi selain nurutin perintahnya..
Gw duduk di kasur dengan kontol menjulang ke atas…
Kak Astri bergerak, mendekati gw yang lagi duduk dikasur.. karena si Ipang ga mau ngelepasin, akhirnya kak Astri sambil nungging dientotin Ipang dia bergerak ngedeketin gw, dan..
“plekk.. ” tangan mulus nya mendarat di kontol gw… serrrrr… baru kali ini ada tangan lain selain tangan gw yang menggenggam kontol gw…
“gila ampe ga muat nih tangan gw.. gede banget ni konti.. tau gitu dah gw entot dari tadi” tangannya kak Astri yang halus mulai bergerak ngocok kontol gw yang dah tegang sekeras batu..
“asshh….enak banget kak.. terus kocok konti diki kak..” kata gw sambil merem melek..ketika gw sedang menikmati kocokan tangannya.. tiba-tiba gw ngerasin kontiku terasa hangat dan basah.. pas gw lirik ke bawah ternyata kak Astri sedang ngemut konti gw..
“oooohhhh….shiiiittttttt…. enak banget….. inikah rasanya di blow job… “pikirku dalam hati..
“Pang berenti dulu ya..” perintah kak Astri.. kali Ini Ipang nurut..karena kalo ga gitu mungkin dia udah KO duluan.
kak Astri berdiri, kemudian bergerak membuka kaosnya ke atas…
Pemandangan yang sangat indah banget… mungkin seperti gerakan slow motion yang ada di pelem2.. ketika kedua tangannya meremas ujung kaosnya.. kemudian mengangkat keatas.. sehingga perlahan terpampang perutnya yang mulus dan rata.. kemudian toketnya yang sekali dan putih terbungkus BH merah berendra… hingga akhirnya kaos itu terbuka seluruhnya dan dilemparkan ke kasur.
Ga cukup disitu.. tangannya kemudian bergerak ke punggungnya.. dan tess.. kait branya terlepas dan kemudian kak Astri bergerak melolosi Branya hingga kini aku bisa ngeliat toketnya yang bulat sempurna dengan puting merah jambu yang mengacung.
kak Astri memegang belakang kepalaku kemudian membenamkan wajahku disusunya yang harum banget.
Gw pun ga menyia-nyiakannya, bagaikan bayi yang kelaparan gw menjilat, menghisap, dan memuntir toketnya yang kenyal. Mendapat serbuan dari ku kak Astri mendesah hebat, tangannya terus menekan kepalaku hingga aku sulit bernafas.
“Pang sini… kamu sekarang boleh netek.. juga..”
Ipang yang sedari tadi cuman ngesek-gesek kontinya ke belahan pantat kak Astri, ikut nimbrung nyusu di toketnya. Walaupun sebenernya gw ga rela berbagi, tapi gw dah sampe seginipun dah beruntung. Kini gw ama Ipang bagaikan bayi yang berebut susu ibunya… menghisap.. menjilat..dan terkadang menggigit2 kecil..
sementara tangan kak Astri kini mengocok tongkolku dan tongkol Ipang..
Gw didorong ama kak Astri untuk berbaring di kasur kemudian dia bergerak naik mengangkangiku..menghadap ke belakang hingga gw cuman bisa liat punggungnya..
tangannya menari mencari kontolku kemudian menggesek-gesekan ke mulut memeknya..
tangannya menari mencari kontolku kemudian menggesek-gesekan ke mulut memeknya..
sebelum akhirnya perlahan-lahan dia menekan pinggulnya agar kontiku bisa masuk ke memeknya dan akhirnya… blesssss….. kontiku masuk seluruhnya.. pikiran gw mengawang-ngawang.. merasakan nikmat dunia untuk pertama kalinya..
“Duh.. gila.. kontol lu kegedean nih.. ampe penuh banget memek kakak..” setelah mendiamkan dulu sebentar akhirnya kak Astri bergerak liar mengocok kontolku di memeknya..
“aakh..aaakh.. enak banget kontol lu dik…akhhh… akhhh…” gerakan pinggul kak Astri menggila sampe akhirnya badannya mengejang menelikung… memeknya terasa mengempot kontolku… gw merasakan adanya dorongan nikmat yang mau keluar.. dan akhirnya… “crooott….”… spermaku muncrat di rahim kak Astri berbarengan dengan orgasme yang digapainya.
Kak Astri terengah-engah dengan nafas tersenggal-senggal setelah orgasme yang diperoleh…kemudian berbaring lemas menindih badanku yang ada dibelakangnya sambil kontolku masih tertancap di memeknya.
Kak Astri inget masih ada Ipang yang belum keluar.. kemudian dia bergerak ke samping hingga “flopp..” kelamin kami terpisah..
“bentar dulu ya pang.. kakak masih capek nih..” kata kak Astri sambil tidur telungkup disampingku menindih tanganku sehingga tanganku merasakan kenyalnya toket kak Astri.
Tapi Ipang sepertinya tidak sabar menunggu.. dia bergerak pelan-pelan mendekati Astri yang merem kecapekan, dia mengambil lotion di mejanya.. kemudian mengolesi liang dubur kak Astri yang tidak meresepon karena kecapekan.
“mau ngapain kamu pang?” tanya astri saat Ipang ternyata mulai melesakkan batang kontinya ke liang dubur kak Astri.. Ipang tidak menjawab hanya meneruskan niatnya untuk mengentot Astri..
“Jangan… disitu pang.. aku belom pernah… aakkhhh !!!” karena ukuran konti Ipang ga terlalu gede dan campuran lotion..serta sedikit tekanan memaksa.. Ipang berhasil membenamkan kontinya di pantat kak Astri.. “sialan kamu pang.. udah kubilang jangaan… assshh….”.. Ipang merespon protes kak Astri dengan sodokan..
ga butuh waktu lama hingga nafsu kak Astri bangkit lagi, dan mendesah-desah kenikmatan atas sodokan Ipang.
Gitu juga dengan aku, ngeliat bidadari montok nan seksi mendesah2 di samping, langsung ngaceng lagi.. gw bergerak mencium bibirnya.. mulanya kak Astri tidak merespon lama-lama dia bergerak juga, menghisap mulutku dengan penuh nafsu.
Aku pun bergerak menggeser kak Astri, memberikan kode bahwa aku pengen ngentot lubang satu lagi yang masih nganggur.
Kak Astri pun ngerti dia bergerak naik dan melesakan kontiku hingga kini dia dientot dua lubang sekaligus, sampai entah berapa orgasme yang diperoleh kak Astri sore itu, yang penting gw udah ngerasain tubuh kak Astri yang diidam-idamkankan selama ini.
Permainan kami terus berlanjut, kini setiap kali gw nginep di rumah Andre, pas malem-malem pasti ngendap2 ke kamar kak Astri yang ga pernah dikunci.
Terima kasih ya kak.
Langganan:
Entri (Atom)

